Kuat di Transaksi Offline, OVO Tetap Bidik Ikut Meriahkan Transaksi Belanja Online

Bisnis.com,04 Jan 2022, 13:42 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
E-wallet OVO/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Platform pembayaran digital dan layanan finansial OVO (PT Visionet Internasional) tetap membidik potensi ikut memeriahkan transaksi belanja online di situs dagang-el (e-commerce).

Sebagai gambaran, potensi penggunaan dompet digital untuk belanja online diungkap riset dari payment gateway bervaluasi unikorn di Tanah Air, Xendit (PT Sinar Digital Terdepan) bertajuk Xendit Payments Platform: Aggregated Transaction Data.

Berdasarkan lanskap metode pembayaran buat transaksi belanja online versi Xendit, persentase e-wallet telah setara dengan transfer bank dengan masing-masing 42 persen. Metode pembayaran via kartu kredit dan debit, serta retail outlet pun masing-masing sama, 8 persen.

Terlebih, buat transaksi dengan ticket-size kecil, yaitu rata-rata transaksi Rp55.000. Xendit pun melihat penggunaan e-wallet secara umum didominasi nominal transaksi di bawah Rp100.000, mencapai 80 persen. Di atas itu sampai Rp250.000 hanya 10 persen, kemudian nominal sampai Rp500.000 ke atas porsinya lebih kecil lagi.

Head of Corporate Communications OVO, Harumi Supit mengungkap bahwa use-case transaksi belanja online tetap menjadi fokus buat pihaknya, karena potensi transaksinya besar, terutama di momen-momen periode belanja seperti akhir tahun lalu.

"Use-case buat pembayaran di e-commerce di antara pengguna OVO cukup besar, dan cenderung meningkat di periode festival belanja. Terutama, karena OVO terus memperluas kehadirannya di platform e-commerce besar, baru-baru ini tepatnya di akhir 2021 lalu, yaitu JD.ID dan Bukalapak. Artinya, OVO sudah menjangkau semua e-commerce utama di Indonesia," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (4/1/2022).

Namun, Harumi mengakui kekuatan utama OVO saat ini berada di use-case untuk transaksi layanan food delivery dan outlet UMKM offline, tergambar dari survei Studi Perilaku Penggunaan Pembayaran Digital dan Layanan Keuangan di Indonesia yang dirilis oleh Kadence International Indonesia.

Untuk transaksi pemesanan makanan online, 8 dari 10 responden menggunakan OVO. Sementara untuk transaksi offline, khususnya pembelian makanan, minuman, dan belanja ritel, OVO digunakan oleh hampir 7 dari 10 responden dengan alasan kemudahan dalam penggunaan. Bagi merchant UMKM pun, OVO pun dipilih oleh 72 persen pelaku UMKM sebagai alat pembayaran mereka selama pandemi Covid-19.

"Saat ini transaksi pembayaran offline memang mendominasi use-case pengguna OVO. Menurut survei Kadence Internasional, OVO selaku e-money merupakan platform pembayaran digital yang paling banyak digunakan, salah satunya untuk transaksi di warung. OVO juga melihat banyaknya use-case pembayaran PBB, listrik, PAM, dan tagihan-tagihan lainnya," jelas Harumi.

Harumi menambahkan pembayaran digital, baik untuk belanja online dan offline maupun untuk melunasi tagihan, hanyalah satu dari sekian banyak layanan keuangan yang ditawarkan OVO. Ke depan, berbagai inovasi OVO seperti menghadirkan produk asuransi, investasi, dan pinjaman dinilainya mulai menarik minat pengguna OVO sepanjang 2021 dan akan berlanjut di 2022.

Sebagai gambaran, para periode 2021 lalu, OVO tampak mulai mematangkan fitur OVO Proteksi dan OVO Invest lewat menggandeng berbagai stakeholder penyedia layanan keuangan terkait, seperti perusahaan asuransi, marketplace investasi, dan perusahaan sekuritas.

"OVO memandang pembayaran digital merupakan pintu gerbang akses pengguna ke ekosistem layanan keuangan yang lebih luas. Sejalan dengan misi OVO untuk mendorong inklusi keuangan bagi masyarakat Indonesia, OVO berupaya meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan melalui beragam produk layanan keuangan yang nyaman, aman, dan terjangkau," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini