Ramai Fintech Perluas Layanan Sampai Incar Izin Bank, Ada Apa?

Bisnis.com,30 Jan 2022, 19:19 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Ilustrasi pinjaman online. Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA — Periode 2022 akan diwarnai kemunculan beberapa platform teknologi finansial (tekfin/fintech) dengan pengaruh besar buat Indonesia seiring valuasi mereka yang semakin jumbo. 

Hal ini diungkap pegiat investasi perusahaan rintisan (startup) sekaligus Bendahara Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amsevindo) Edward Ismawan Chamdani. 

Sebagai contoh, Ajaib Group besutan PT Ajaib Sekuritas Asia dan agen penjual efek reksa dana PT Takjub Teknologi Indonesia menjadi startup bervaluasi unikorn bukan hanya karena diguyur pendanaan bertubi-tubi di tahun lalu, namun juga karena merealisasikan strategi menggenggam kepemilikan saham perbankan, yaitu PT Bank Bumi Artha Tbk. (BNBA). 

"Bagi startup wealth management, bergabung dengan bank merupakan extension yang bisa memperkuat value pengguna kedua sisi, yaitu para investor di fintech, maupun nasabah bank. Selain itu, lisensi bank bisa menolong fintech mengakomodasi penempatan investasi para pengguna di instrumen yang lebih luas, termasuk ke capital market," ujarnya, Minggu (30/1/2022). 

Adapun, dari fintech di klaster pinjam-meminjam atau kredit digital, Edward memproyeksi akan ada lagi platform yang tertarik berafiliasi dengan perbankan. 

Sebagai gambaran, terkini perusahaan fintech yang sudah terlihat merealisasikan strategi ini, antara lain induk platform bayar tunda (paylater) Kredivo, yakni FinAccel Pte Ltd lewat PT Finaccel Teknologi Indonesia memborong 40 persen saham PT Bank Bisnis Internasional Tbk. (BBSI). 

Walaupun Kredivo memiliki lisensi sebagai multifinance, ruh bisnisnya tetaplah fintech, bahkan FinAccel pun masih menggenggam lisensi fintech peer-to-peer (P2P) lending di OJK melalui PT FinAccel Digital Indonesia alias KrediFazz. 

Adapun, Akulaku Grup yang memiliki entitas marketplace dan multifinance dengan nama yang sama, serta fintech P2P lending PT Pintar Inovasi Digital atau Asetku, lewat PT Akulaku Silvrr Indonesia juga mengakuisisi 24,9 persen saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB). 

"Startup fintech terbanyak ada saat ini berada di dalam izin POJK 77/2016 atau fintech lending. Mereka yang ingin berkembang lebih cepat dari sisi volume transaksi biasanya perlu bekerja sama dengan bank. Buat bank sendiri, transformasi ke digital sudah merupakan keharusan, dan fintech bisa menjadi solusi percepatan tersebut. Sehingga sama-sama diuntungkan," jelasnya. 

Pria yang juga Co-Founder & Managing Partner Ideosource VC dan Gayo Capital ini menambahkan bahwa semua startup fintech membutuhkan traksi, berupa pertumbuhan pengguna dan upaya mempertahankan jumlah pengguna bulanan demi mendongkrak valuasi. 

Oleh sebab itu, menyajikan layanan finansial lain, termasuk layanan perbankan hanyalah salah satu strategi. Platform bisa saja mengambil cara lain, yaitu membangun layanan lain di luar produk finansial, misalnya membuat aplikasi kasir digital, pencatatan keuangan, invoicing, innovative credit scoring, dan lain-lain.

Sebagai contoh, sebuah platform fintech tadinya hanya menyajikan bisnis pinjaman ke UMKM. Ternyata, setelah melihat banyak UMKM butuh aplikasi pencatatan keuangan digital, platform kepincut ingin ikut mengembangkan dan menawarkan solusi tersebut. Ini bertujuan membuat UMKM betah bertahan menjadi pengguna di dalam platform. 

"Layanan yang beririsan dengan bisnis sebelumnya atau adjacent services, biasanya dikejar untuk menambah value dari layanan yang sudah ada. Ini tentu membuat fintech tersebut lebih cepat berkembang, dan karena valuasi ditentukan dari traction mereka, otomatis nilainya menjadi lebih besar," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: M. Nurhadi Pratomo
Terkini