Transaksi Online Marak, Momentum Bank Perkuat Investasi di 'Dapur Digital'

Bisnis.com,17 Mar 2022, 09:05 WIB
Penulis: Leo Dwi Jatmiko
Mobile banking/istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Jutaan transaksi online terjadi setiap harinya pada 2021. Kondisi ini diperkirakan terus meningkat seiring dengan adopsi Internet di masyarakat yang berkembang pesat.

Sebagai gambaran, DataReportal menyebutkan pada 2022, jumlah pengguna Internet di Indonesia mencapai 204,7 juta pengguna, bertambah 2,1 juta pengguna dibandingkan dengan Januari 2021. Tingkat penetrasi Internet mencapai 73,7 persen dari total populasi Indonesia pada awal 2022.

Sementara itu, laporan We Are Social menyebutkan pada Januari 2021, jumlah ponsel pintar yang beredar di Indonesia sebanyak 345,3 juta ponsel atau 125,6 persen dari total populasi, yang berarti bahwa sebagian masyarakat Indonesia memiliki lebih dari satu ponsel pintar.

Jumlah pengguna Internet yang besar dan penetrasi ponsel yang cepat berdampak pada transaksi digital, khususnya di sektor perbankan. Jutaan transaksi digital banking terjadi setiap harinya.

Contohnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. melalui Livin by Mandiri diketahui telah memproses 1,5 miliar transaksi dengan total nilai mencapai Rp1.630 triliun sepanjang 2021. Jika dalam 1 tahun terdapat 365 hari, maka rata-rata jumlah transaksi yang dikelola aplikasi mobile milik Mandiri tersebut per harinya diperkirakan sekitar 4,1 juta transaksi dengan nilai sekitar Rp4,46 triliun.

Sementara itu, PT Bank Permata Tbk. secara keseluruhan mengelola 2,5 miliar transaksi pada 2021, di mana sebanyak 96 persen atau sekitar 2,4 miliar transaksi dilakukan secara digital, jumlah tersebut naik 526,31 persen dibandingkan dengan 2019 yang secara keseluruhan terdapat 475 juta transaksi. Dengan jumlah tersebut, maka diperkirakan setiap harinya terdapat 6,67 juta transaksi yang dikelola oleh Bank Permata.

Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. memproses transaksi digital sebanyak 1,27 miliar transaksi pada 2021, tumbuh 66,2 persen year on year/yoy, dengan total nilai mencapai Rp1.345 triliun, naik 581,1 persen yoy. Jumlah transaksi per hari diperkirakan sebanyak 3,47 juta, dengan nilai transaksi sekitar Rp3,68 triliun.

Tak kalah saing, PT Bank Central Asia Tbk. telah berhasil merangkul 18 juta pengguna pada 2021. Total volume transaksi digital naik 42 persen secara tahunan, terutama didukung oleh transaksi pada mobile banking yang tumbuh sebesar 60 persen secara tahunan. Setiap harinya, BCA memproses 48 juta transaksi.

Bank pelat merah lainnya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. mencatatkan jumlah transaksi digital harian mencapai 460.765 transaksi, nilai transaksi rata-rata mencapai Rp77,7 juta.

Menghadapi lonjakan transaksi digital yang terus terjadi, bank-bank besar pun mengambil berbagai langkah dan strategi.

Direktur Teknologi Informasi dan Digital BTN Andi Nirwoto mengatakan menjaga kenyamanan, keamanan dan keandalan layanan digital, BTN akan fokus pada tiga pilar yaitu aspek teknologi mumpuni, aspek proses yang terjaga dan aspek sumber daya manusia.

“Kami terus memastikan bahwa orang yang bertransaksi dengan bank adalah orang-orang yang jelas,” kata Andi dalam sebuah diskusi virtual.

BTN, lanjutnya, juga akan terus menawarkan kemudahan dalam bertransaksi sehingga dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Director of Technology and Operation Bank Permata Abdy Salimin mengatakan dengan transaksi yang naik signifikan, Bank Permata menambah belanja modal khusus untuk teknologi informasi. Anggaran belanja modal untuk teknologi informasi pada tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan dengan 2021 yang saat itu senilai Rp1,1 triliun.

Bank Permata akan fokus menghadirkan layanan perbankan digital yang lebih cepat dan lebih baik kepada nasabah dengan anggaran tersebut.

“Teknologi digital yang telah dibangun bank digital selama ini memang fokusnya ke pengalaman pelanggan,” kata Abdy.

Lebih lanjut, Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi AS Aturridha mengatakan perseroan fokus meningkatkan kapabilitas di layanan digital melalui penerapan 5-pronged strategy, yang meliputi digitalisasi proses internal, pengembangan produk digital native, modernisasi berbagai kanal layanan, pemanfaatan ekosistem digital, dan mempromosikan kapabilitas digital.

“Tujuan utamanya adalah untuk menghasilkan produk inovatif perbankan digital yang andal dan praktis,” kata Rudi.

Adapun, Corporate Secretary Bank BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan untuk membuat layanan digital BRI menjadi makin andal, setiap tahun BRI menganggarkan belanja modal (Capex) sebesar Rp7-8 triliun, dengan 57 persen diantaranya dialokasikan untuk Capex IT.

Secara jangka panjang, transformasi digital memiliki dua tujuan. Pertama adalah transformasi proses bisnis supaya baik BRI sebagai perusahaan induk maupun perusahaan anak BRI Group mendapatkan proses yang lebih efisien dengan biaya yang lebih murah.

Kedua, BRI melakukan digitalisasi model bisnis. BRI terus menciptakan model bisnis baru, yang tidak hanya efisiensi, tetapi juga memberikan nilai baru.

Persiapan Matang

Secara umum, bank-bank besar menyiapkan anggaran untuk meningkatkan kapabilitas di tengah lonjakan transaksi digital. Anggaran tersebut harus dimanfaatkan tepat sasaran.

Ketua Bidang Network dan Infrastruktur Indonesian Digital Empowerment Community (Idiec) Ariyanto A. Setyawan mengatakan transaksi digital di perbankan tidak seluruhnya melalui jalur internet. Hanya transaksi internet banking dan transaksi aplikasi mobile banking yang melewati jalur Internet. Sisanya, dilakukan dari jalur private.

Transaksi yang melalui kedua jalur tersebut harus dapat diprediksi dan dipersiapkan matang-matang oleh perbankan, untuk mengantisipasi lonjakan transaksi.

Biasanya, menurut Ariyato, lonjakan transaksi terjadi pada waktu-waktu tertentu. Contoh, tanggal 25 setiap bulan yang merupakan waktu perusahaan swasta memberikan gaji atau akhir bulan dan tanggal 1 yang biasanya berkaitan dengan pembayaran-pembayaran di perusahaan. Pada saat itu rentan terjadi rush atau lonjakan transaksi, yang apabila gagal diantisipasi akan menyebabkan gangguan layanan.

Sebuah bank yang memiliki kapasitas 1 juta transaksi per jam atau dalam satu waktu, akan runtuh (down) saat terjadi 2 juta - 3 juta transaksi secara bersamaan. Ketidakmampuan bank untuk berjalan secara fleksibel karena tidak memiliki kapasitas yang cukup, akan membuat layanan terganggu.

“Beberapa bank tidak mau investasi lebih [menghadapi rush] dan tidak mau fleksibel, dampaknya ketika rush hour mereka berisiko collapse,” kata Ariyanto.

Bank, lanjutnya, harus terus memantau kapasitas di tiga sisi yaitu sisi kanal yang digunakan, sisi antar lembaga keuangan (pihak ketiga) dan sistem pemrosesan transaksi atau core banking.

Setelah melakukan pemantauan, bank dapat melakukan prediksi berapa kapasitas yang dibutuhkan agar layanan mereka tetap berjalan lancar dan siap menghadapi serbuan trafik transaksi. Transaksi di aplikasi mobile banking dan internet banking, menurut Ariyanto, termasuk yang sulit diprediksi.

“Bicara kapasitas mencangkup banyak hal tetapi ujungnya adalah berapa transaksi yang bisa diproses dalam satu waktu bersamaan dibandingkan dengan antrian,” kata Ariyanto.

Sementara itu Sekjen Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (Idpro) Teddy Sukardi mengatakan tidak ada hitungan pasti rasio server atau kapasitas yang dibutuhkan di sebuah perbankan untuk mengantisipasi lonjakan transaksi. Misalnya, jumlah transaksi per hari 3 juta, maka server harus dapat menampung transaksi 2 kali lipat dari itu. Tidak ada rumusnya.

Teddy menjelaskan hal tersebut disebabkan jumlah data dalam setiap transaksi yang diproses oleh bank berbeda-beda. Hanya saja, lanjutnya, perbankan tetap perlu menyiapkan infrastruktur digital yang andal, tidak hanya yang memiliki kapasitas besar, juga memiliki sistem cadangan (redundant system) yang mumpuni.

Sistem cadangan berfungsi untuk mengantisipasi seandainya terjadi gangguan, karena trafik transaksi tinggi dan lain sebagainya, yang menyebabkan keruntuhan, sistem dapat segera pulih dalam waktu cepat.

Dengan jumlah transaksi yang mencapai jutaan, dengan nilai triliunan rupiah per hari yang dikelola, maka seharusnya haram bagi bank untuk terjadi gangguan pada layanan digitalnya.

Bank, menurut Teddy, menjalankan bisnisnya berdasarkan manajemen risiko. Padamnya sistem digital akan merugikan banyak pihak, baik bagi nasabah ataupun bagi bank itu sendiri. Nasabah gagal melakukan transaksi untuk hal penting, sementara itu reputasi bank di mata nasabah berkurang.

“Ada juga kerugian finansial, transaksi triliunan rupiah terganggu karena sistemnya ‘batuk-batuk’ dan yang tidak kalah penting, kerugian image sebagai bank yang andal, hilang,” kata Teddy.

Teddy menambahkan dengan pendapatan besar yang diperoleh bank dari transaksi digital, seharusnya bank melakukan manajemen risiko. Mereka perlu berhitung investasi yang harus disiapkan untuk menjaga transaksi agar tetap berjalan lancar.

“Jadi mobile banking itu harus zero downtime, kalau bisa tidak pernah mati sepanjang tahun. Untuk Itu butuh investasi,” kata Teddy.

Investasi, sambungnya, dapat dilakukan untuk membangun sistem discover recovery center untuk menghadapi bencana yang tidak terduga, atau melakukan desentralisasi data agar tidak terpusat pada satu titik saja. Selain itu bisa juga investasi di kapasitas. Banyak strategi untuk mengelola risiko perbankan di era digital.

Gangguan layanan di dua bank besar Tanah Air beberapa waktu lalu diharapkan menjadi momentum perbaikan dari sisi risiko. Adapun, sebagai nasabah bank, kita pun berharap agar layanan digital banking makin andal. Melayani nasabah dengan aman dan mudah sehingga gangguan layanan bisa dihindari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hadijah Alaydrus
Terkini