Perbankan Pastikan Pemadaman 3G Tak Ganggu Transaksi Mesin EDC

Bisnis.com,27 Mar 2022, 18:40 WIB
Penulis: Leo Dwi Jatmiko
Mesin EDC dari PT Bank Central Asia Tbk/ BCA

Bisnis.com, JAKARTA - Perbankan memastikan pemadaman teknologi 3G yang gencar dilakukan operator seluler tahun ini, tidak akan mengganggu transaksi pada mesin-mesin EDC perbankan yang tersebar di sejumlah mitra.

Bank optimistis laju transaksi melalui mesin EDC akan tumbuh pada tahun ini, sejalan dengan kondisi ekonomi yang terus membaik.

Sekadar informasi, di Inggris dan beberapa negara lainnya, pemadaman 3G oleh operator seluler dilakukan dengan sangat hati-hati. Tidak hanya memberi dampak bagi pelanggan, pemadaman 3G diperkirakan berdampak pada sejumlah perangkat yang masih menggunakan jaringan 3G untuk beroperasi, salah satunya mesin EDC.

Sementara itu di Indonesia, Telkomsel, XL dan Indosat menyatakan akan memadamkan jaringan 3G pada tahun ini. Sebagai operator terbesar di Indonesia, Telkomsel akan memadamkan jaringan 3G di 504 kabupaten/kota pada 2022.

Selama periode Maret- Mei 2022, Telkomsel akan mulai meningkatkan jaringan 3G ke 4G di 90 titik kota/kabupaten, dilanjutkan pada tahap kedua (Juni- Juli) di 132 kota/kabupaten, kemudian tahap ketiga (Agustus-Oktober) di 178 kota/kabupaten dan tahap keempat (November-Desember) di 104 kota/kabupaten.

Mengenai rencana pengalihan jaringan 3G ke 4G dan dampaknya terhadap mesin EDC, Managing Director of IT & Operation PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) Andi Nirwoto mengatakan jaringan EDC BTN saat ini telah menggunakan mesin EDC yang mendukung jaringan 4G, melalui sim card M2M.

Dengan demikian, pemadaman 3G tidak akan berdampak pada transaksi nasabah melalui mesin EDC.

“Saat ini, sebagian EDC BTN bekerja sama dengan penyedia EDC yang telah menggunakan EDC konvensional serta Android yang dapat mengakomodir jaringan 4G,” kata Andi kepada Bisnis, Minggu (27/3).

Andi mengatakan pertumbuhan transaksi EDC BTN meningkat secara pesat dalam 1 tahun terakhir, dimana transaksi banyak terjadi di merchant anchor atau mitra jangkar perusahaan. Transaksi EDC perusahaan tumbuh sebesar lebih dari 500 persen yoy pada 2021 dibandingkan dengan 2022.

Transaksi di EDC menjadi kontributor terbesar dalam transaksi elektronik yang terjadi di perusahaan. Sebesar 84 persen transaksi elektronik masih menggunakan EDC, 16 persen sisanya merupakan transaksi QRIS.

Sementara itu, Senior Vice President (SVP) Transaction Banking Retail Sales PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Thomas Wahyudi mengatakan mesin EDC yang saat ini digunakan oleh perbankan Indonesia mampu mendukung jaringan komunikasi 2G/3G.

EDC dapat menyesuaikan komunikasinya menggunakan Jaringan 2G (GPRS), ketika 3G dipadamkan.

“Namun tentunya secara bertahap Bank melakukan peremajaan mesin EDC menggunakan jaringan komunikasi 4G dan mengadopsi sistem operasi android di mesin EDC,” kata Thomas.

Mandiri mencatat terdapat lebih dari 35 juta transaksi melalui mesin EDC pada Februari 2022, tumbuh 30 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Transaksi terjadi di beberapa mitra dengan ticket size atau ukuran transaksi tinggi.

Ticket size tinggi biasanya di Rumah Sakit, groceries, toko serba ada [departement store], dan lain-lain,” kata Thomas.

Sementara itu, Corporate Secretary PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, (BBNI) Mucharom optimistis transaksi di EDC tetap tumbuh, meskipun operator seluler mengalihkan jaringan 3G ke 4G. Perekonomian Indonesia dalam jalur tumbuh setelah sempat tertekan karena pandemi Covid-19.

“Kami meyakini pertumbuhan transaksi EDC akan lebih positif lagi seiring percepatan pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19 yang sangat melandai,” kata lelaki yang akrab disapa Arom.

Arom mengatakan transaksi digital BNI pada 2022 mengalami peningkatan sangat baik. Termasuk transaksi pada mesin EDC (Electronic Data Capture), per Februari 2022 nominal transaksi mencapai Rp9,7 triliun dengan jumlah mencapai 12,13 juta transaksi atau meningkat 15,6 persen secara tahunan dibandingkan tahun 2021.

Adapun, pertumbuhan transaksi melalui EDC per Februari 2022 secara YoY mengalami pertumbuhan 15,6 persen.

EDC Jaringan 2G

Sementara itu, Ketua Bidang Network dan Infrastruktur Indonesian Digital Empowerment Community (Idiec) Ariyanto A. Setyawan mengatakan mesin EDC yang saat ini beredar mayoritas mendukung jaringan 2G dan 3G. Sementara itu mesin EDC yang mendukung jaringan 3G dan 4G masih jarang.

Secara teori, selama masih ada jaringan 2G seharusnya mesin EDC masih dapat beroperasi dengan baik. Hanya saja, lokasi EDC perbankan banyak yang berada di lokasi “susah sinyal”.

Di sisi lain, teknologi terus berkembang sehingga tidak menutup kemungkinan beberapa tahun ke depan jaringan 2G pun akan dipadamkan.

Dilansir dari BBC, operator seluler di Inggris yaitu Vodafone, EE, Virgin Media, O2, dan Three, sepakat untuk memadamkan 3G pada 2023.

Adapun, 2G rencananya dipadamkan 10 tahun kemudian atau pada 2033. Langkah tersebut dilakukan agar operator memiliki ruang yang lebih luas untuk menggelar 5G.

Ariyanto belum mengetahui apakah pemadaman 2G di Indonesia dilakukan 10 tahun lagi atau lebih cepat dibandingkan di Inggris. Pemadaman 2G bergantung pada komitmen operator seluler dan regulator, dengan melihat kondisi pemakaian 2G oleh masyarakat.

“Sinyal terbaik adalah 4G, saat ini lah perbankan perlu untuk memigrasikan ke 4G agar layanan EDC-nya tetap prima,” kata Ariyanto.

Sementara itu, pengamat telekomunikasi dari Sekolah Teknik Elektronika dan Informasi (STEI) ITB Agung Harsoyo mengatakan siklus teknologi di industri telekomunikasi biasanya terjadi setiap 5 - 10 tahun. Artinya, setiap periode tersebut, ada teknologi baru yang hadir.

Teknologi baru tersebut kemudian akan diadopsi oleh masyarakat. Kecepatan adopsi teknologi ini, kata Agung, akan mempengaruhi umur dari teknologi 2G di Indonesia.

Adopsi teknologi di kota-kota besar tentu berbeda dengan adopsi di kota-kota kecil dan pendalaman, sehingga teknologi baru hadir lebih cepat di kota-kota besar terlebih dahulu.

“Indonesia bisa lebih cepat atau lebih lambat dari Inggris, karena secara geografis kita lebih luas, namun secara budaya, masyarakat Indonesia sangat adaptif dalam berkomunikasi dibandingkan dengan di Barat yang lebih konservatif,” kata Agung.

Dia menambahkan perusahaan telekomunikasi juga tidak mungkin merawat seluruh teknologi 2G hingga 5G dengan frekuensi yang ada, sehingga seiring dengan kehadiran teknologi baru maka teknologi yang lama akan dipadamkan.

Mengenai kualitas mesin EDC, menurut Agung, mesin EDC yang berjalan dengan jaringan 4G akan lebih prima dan aman dibandingkan dengan yang mesin EDC bergerak di jaringan 2G.

“Jika EDC naik ke 4G maka akan lebih aman dan lancar dibandingkan saat 2G,” kata Agung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hadijah Alaydrus
Terkini