Bukan Pamer Harta Seperti Indra Kenz dan Fakarich, Ini Arti Kaya yang Sesungguhnya

Bisnis.com,05 Apr 2022, 19:12 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Ilustrasi flexing atau pamer harta yang dilakukan para crazy rich di media sosial. /Freepik

Bisnis.com, JAKARTA — Belum lama ini publik dibuat geger dengan aksi pamer harta sejumlah orang yang mengaku crazy rich seperti Indra Kenz hingga Doni Salmanan. Belakangan mereka terbukti melakukan aksi penipuan dan berakhir ditangkap oleh polisi. 

Pada prinsipnya, kekayaan seseorang tidak bisa dinilai hanya dari penghasilannya semata. Namun, seberapa lama dia bisa bertahan hidup dalam keadaan darurat atau tidak bisa mendapat aktif income.

Hal ini diungkap seorang Indonesia Value Investor yang sekaligus kreator konten Rivan Kurniawan dalam diskusi bersama para milenial di acara Pekan Milenial Naik Kelas 2022, terselenggara secara hybrid di Hotel Aryaduta, Jakarta (5/4/2022).

"Jadi kalau teman-teman kalau nanti sudah punya penghasilan bulanan, tidak tiba-tiba habis, alias cuma numpang lewat. Tapi justru bisa bertambah, salah satunya lewat investasi," jelasnya dalam diskusi bertajuk 'Milenial Cerdas Mengelola Keuangan' itu.

Oleh sebab itu, Rivan berharap milenial makin sadar dengan investasi sesuai tujuan finansial, dari investasi maupun passive income, terutama untuk mencapai 'kaya' yang sesungguhnya tersebut, yaitu seberapa lama bisa bertahan hidup tanpa penghasilan aktif.

Rivan menggambarkan bahwa tingkat kekayaan sama dengan aset dikurangi hutang, dibagi pengeluaran dikurangi passive income. Hasilnya, merupakan gambaran berapa tahun seseorang bisa bertahan hidup.

"Contoh, ada karyawan yang walaupun penghasilannya Rp500 juta per tahun, tapi pengeluaran setahunnya Rp400 juta, kemudian dia belum melek investasi, menambah aset, maupun passive income, dan malah punya utang konsumtif, hasilnya dia hanya bisa bertahan hidup 0,2 tahun alias tiga bulan saja. Teman-teman jangan sampai seperti ini," jelasnya.

Rivan menambahkan bahwa ada 4 level tingkat kekayaan yang bisa menjadi patokan milenial. Pertama, berstatus Financial Stability, yaitu memiliki aset likuid yang cukup untuk meng-cover pengeluaran minimal 6 bulan.

"Jadi kalau teman-teman sudah berhitung dengan formula tadi, paling tidak harus bisa mengejar 0,5 tahun alias 6 bulan. Kalau kurang dari itu, berarti masih ada yang harus dibenahi," ungkapnya.

Tingkat kekayaan kedua, yaitu berstatus Financial Security, di mana seseorang telah memiliki passive income yang cukup untuk  pengeluaran sehari-hari.

Ketiga, Financial Freedom, yaitu seseorang telah memiliki passive income yang cukup untuk membiayai current lifestyle, lebih dari sekadar pengeluaran sehari-hari.

Terakhir, yaitu seseorang yang telah berstatus Financial Abundance alias telah memiliki passive income yang cukup untuk memenuhi desired lifestyle alias untuk gaya hidup yang lebih besar lagi.

"Jadi jangan hanya berhenti sampai bekerja untuk mencari uang saja. Hasil kerja itu, terutama uang yang menganggur, harus bisa ikut bekerja lebih keras lagi lewat instrumen investasi, sampai menghasilkan passive income," ungkap Rivan.

Dalam pemaparannya, Rivan menjelaskan perbedaan dan risiko instrumen paper asset, seperti saham, obligasi, reksa dana, deposito, kemudian real asset seperti rumah dan tanah, serta aset dalam bentuk bisnis atau karya.

Pemaparan Rivan bisa dilihat di siaran resmi Pekan Milenial Naik Kelas 2022 di Bisnis.com, yang masih akan hadir sampai 7 April 2022. Sebagai informasi, acara ini merupakan inisiasi Bisnis Indonesia Group berkerja sama dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Selanjutnya, pada hari kedua dan ketiga nanti, Pekan Milenial Naik Kelas 2022 masih akan menghadirkan diskusi menarik lainnya dengan berbagai narasumber, antara lain Arif Satria, Bryan Octavianus, Jakarta Creative Hub, Yunus Halim, Faiz Ghifari, dan Leontinus Alpha Edison.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Muhammad Khadafi
Terkini