Meski Punya Peran Strategis, BSI (BRIS) Ungkap Alasan UMKM Tidak Bisa Berkembang dengan Baik

Bisnis.com,06 Apr 2022, 13:25 WIB
Penulis: Rika Anggraeni
Karyawati Bank Syariah Indonesia melayani nasabah di KC Jakarta Hasanudin, Jakarta, Selasa (2/2/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) atau BSI menilai para pelaku usaha, mikro, kecil, dan menengah atau UMKM memiliki peran yang sangat strategis bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Hal ini dibuktikan dengan komposisi UMKM Indonesia yang mendominasi “Jumlahnya sangat banyak, hampir 99,99 persen pengusaha yang ada di Indonesia itu adalah UMKM, hampir kira-kira 65,465 juta,” kata Direktur Retail Banking BSI, Kokok Alun Akbar dalam Webinar Series Ramadan yang diselenggarakan INDEF, Selasa (5/4/2022).

Tak hanya itu, UMKM juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap PDB Indonesia, yaitu hampir 60,5 persen. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, hampir 97 persen tenaga kerja diserap oleh UMKM, atau 116,97 juta dari total tenaga kerja. Demikian juga dengan kontribusi ekspor Indonesia sebesar 14,7 persen.

 Potensi pertumbuhan UMKM sangat besar rata-rata 1-2 persen setiap tahun, atau 1 juta pelaku usaha yang lahir setiap tahunnya,” ujarnya.

Namun, kondisi ini berbanding terbalik dengan sederet alasan pelaku UMKM Indonesia yang tidak bisa berkembang dengan baik. Alun mengungkapkan bahwa adanya beberapa kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh UMKM Indonesia.

Pertama, legalitas. Alun menyatakan bahwa pelaku UMKM merasa kesulitan untuk mengurus legalitas usaha atau perizinan, termasuk sertifikasi produk untuk suatu ekosistem halal, seperti BPOM atau sertifikasi halal.

Selain kendala legalitas, permasalahan kedua yang dihadapi pelaku UMKM Indonesia adalah sulitnya akses pendanaan atau pembiayaan, yang diikuti dengan sejumlah persyaratan yang rumit. Kemudian, lamanya prosedur atau proses, agunan yang terbatas, serta margin yang cukup tinggi juga menjadi permasalahan UMKM Indonesia.

Ketiga, pendampingan. Menurut Alun, pendampingan memang perlu dilakukan kepada UMKM, karena adanya keterbatasan kualitas SDM, keterbatasan tata kelola perusahaan, dan kualitas produk.

Keempat, masalah produksi, inovasi, dan teknologi. Kelima adalah masalah pemasaran, yakni terbatasnya akses pemasaran ataupun akses informasi peluang pasar. Alun menilai, masih banyak UMKM yang belum memiliki pengetahuan untuk memanfaatkan platform digital.

“Tentu kalau kendala ini bisa kita pecahkan, saya rasa UMKM kita ini bisa bangkit, bahkan bisa menjadi penopang utama ekonomi di Indonesia,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Muhammad Khadafi
Terkini