Transformasi Digital Bank Dielukan, SDM IT Kian Dibutuhkan

Bisnis.com,17 Apr 2022, 14:04 WIB
Penulis: Leo Dwi Jatmiko
Ilustrasi - Aplikasi mobile banking BNI. /Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Krisis talenta digital di Tanah Air di depan mata. Di tengah gencarnya kampanye digitalisasi, pondasi sumber daya manusia di Indonesia nyatanya masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan industri. 

Riset McKinsey mengungkapkan Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital selama periode 2015–2030. Jika dihitung secara rata-rata, maka per tahunnya Indonesia butuh 600.000 talenta digital, sedangkan kemampuan perguruan tinggi dalam menyuplai talenta digital setiap tahunnya hanya sekitar 100.000-200.000 orang, yang berarti ada gap sekitar 400.000-500.000 orang.

Sebanyak 100.000-200.000 tenaga kerja digital yang tersedia itu pun menjadi rebutan perusahaan-perusahaan yang tengah melakukan transformasi digital ataupun yang baru saja mendirikan perusahaan berbasis digital, tidak terkecual industri keuangan seperti perbankan. 

Adapun kebutuhan talenta digital tidak terlepas dari perubahan drastis kebiasaan masyarakat. Dalam dua tahun terakhir pandemi Covid-19 telah membuat masyarakat terbiasa beraktivitas dengan mengoptimalkan ruang digital.

Nasabah bank, khususnya generasi milenial, menuntut akses yang lebih mudah, cepat dan nyaman dalam bertransaksi. Aktivitas transaksi digital melalui aplikasi dan mesin EDC pun terus bertambah setiap tahunnya. 

Sepanjang 2021, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. atau BMRI melalui Livin by Mandiri diketahui telah memproses 1,5 miliar transaksi dengan total nilai mencapai Rp1.630 triliun. Sebanyak 96 persen atau sekitar 2,4 miliar transaksi di PT Bank Permata Tbk. dilakukan secara digital, jumlah tersebut naik 526,31 persen dibandingkan dengan 2019. 

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. memproses transaksi digital sebanyak 1,27 miliar transaksi pada 2021, tumbuh 66,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Transaksi pada mobile banking PT Bank Central Asia Tbk. atau (BBCA) tumbuh sebesar 60 persen secara tahunan. Setiap harinya, BCA memproses 48 juta transaksi.  PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BBTN mencatatkan jumlah transaksi digital harian mencapai 460.765 transaksi, nilai transaksi rata-rata mencapai Rp77,7 juta. 

Dalam mengelola jutaan transaksi digital tersebut, sudah tentu sebuah perusahaan membutuhkan tiga hal yaitu, sistem proses digital yang baik, infrastruktur teknologi informasi yang mumpuni dan kualitas sumber daya manusia yang berpengalaman serta terlatih. 

Untuk urusan sistem proses dan infrastruktur, perbankan mungkin dapat menganggarkan dana dan bekerja sama dengan vendor. Namun, untuk SDM yang mengoperasikan sistem teknologi, perbankan tidak bisa main-main, karena data yang dikelola adalah data penting yang tidak boleh dipindahtangankan sembarangan.

Pencarian Talenta Digital

Sebagai upaya dalam mencari SDM berkualitas di bidang IT, sejumlah bank mengupayakan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan SDM. PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) gencar melakukan rekrutmen dan berkomitmen untuk terus menambah SDM IT di perusahaan.

Direktur Utama BSI Hery Gunadi mengatakan selain pengembangan dan perawatan sistem yang dikelola oleh tim IT, BSI telah memiliki unit digital yang lengkap dari pengembangan produk digital, operasional digital, bisnis digital sampai dengan strategi digital. Perseroan terus berusaha memperkuat lini digital dengan menambah SDM yang fokus di teknologi. 

“Jumlah total pegawai yang mendukung teknologi dan digital saat ini sebanyak 600 orang dan besar kemungkinan akan tumbuh terus,” kata Hery.  

BSI menyadari pengelolaan jutaan transaksi yang terjadi di perusahaan harus dilakukan dengan profesional karena ini berkaitan dengan citra perusahaan. Per Desember 2021, transaksi kumulatif BSI Mobile mencapai 124,54 juta transaksi atau tumbuh sekitar 169 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. 

Sementara itu, Direktur Teknologi Informasi dan Digital BTN Andi Nirwoto mengatakan untuk mengatasi permasalahan keterbatasan SDM IT, perseroan melakukan perekrutan khusus untuk konsultan dan SDM IT dalam sebuah program perekrutan bernama Officer Development Program (ODP) IT. 

“Program tersebut akan masuk batch 3. Setiap batch kurang lebih 50 SDM IT yang kami rekrut. Setidaknya setiap tahun minimal ada satu batch ODP IT sampai dengan 2025,” kata Andi.

Dia mengatakan untuk mendapatkan SDM di tengah tren percepatan transformasi digital merupakan suatu tantangan. BTN  bukanlah satu-satu perusahaan yang membutukan SDM IT saat ini.

Selain menggelar ODP, BTN juga bekerja sama dengan konsultan spesialis rekrutmen SDM IT. “Kami juga membuka opsi magang serta kerja sama proyek IT/B2B, dengan para partners penyedia SDM IT,” kata Andi.  

Sekadar informasi, BTN saat ini tengah mengembangkan super aplikasi khusus properti. Rencananya aplikasi tersebut diperkenalkan pada kuartal III atau awal kuartal IV tahun ini. 

Perseroan terus mematangkan aplikasi sehingga dapat menghadirkan tampilan yang menarik, nyaman dan user friendly atau mudah digunakan, sehingga tercipta kepuasan di sisi nasabah saat bertransaksi properti menggunakan aplikasi tersebut. 

Sebagai catatan, sepanjang 2021, BTN menyalurkan kredit senilai Rp274,83 triliun dengan 77,8 persen di antaranya mengalir ke sektor properti. Bila dirinci, sebanyak 47,5 persen atau Rp130,68 triliun adalah KPR rumah subsidi dan 30,3 persen atau Rp83,25 triliun KPR non-subsidi. 

Adapun PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI)  menggalakan BRIVOLUTION 2.0, dengan dua area utama transformasi yakni Digital dan Culture dalam pengembangan digital di perusahaan, termasuk SDM. 

Secara jangka panjang, transformasi digital memiliki dua tujuan, yaitu transformasi proses bisnis agar BRI mendapatkan proses yang lebih efisien dengan biaya yang lebih murah. Kedua, digitalisasi model bisnis sehingga perseroan dapat menciptakan nilai baru, lebih dari sekadar efisiensi. 

Untuk melangkah ke digital, dibutuhkan persiapan talenta digital yang dilakukan secara berkesinambungan agar terus relevan dengan perkembangan kebutuhan industri. 

“Untuk mendapatkan kandidat terbaik dan mengembangkan talenta, secara khusus BRI membentuk BRILiaN Development Centre dalam mengawal penyiapan sistem dan digitalisasi proses bagi pekerja,” kata Corporate Secretary Bank BRI Aestika Oryza Gunarto. 

Ketiga bank besar tersebut menyadari bahwa sistem teknologi yang mumpuni tidak bisa bergerak sendiri. Dibutuhkan SDM dengan kualitas baik, untuk memastikan perangkat teknologi berjalan optimal. 

Kondisi ini relevan dengan sebuah ungkapan lama the man behind the gun, yang berarti fungsi senjata (perangkat teknologi) tergantung dari orang yang memegang teknologi tersebut. Secanggih apapun teknologi perbankan, jika orang-orang di belakangnya tidak mampu menjaga stabilitas sistem operasi, nasabah pun tidak akan nyaman dan berpotensi meninggalkan layanan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Muhammad Khadafi
Terkini