Jelang rilis RDG BI, Berikut Ramalan Suku Bunga Acuan dari Ekonom BRI (BBRI)

Bisnis.com,24 Mei 2022, 09:58 WIB
Penulis: Dionisio Damara
Karyawan keluar dari pintu salah satu gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin, (20/1/2020). Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Jelang hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), Chief Economist BRI sekaligus Direktur Utama BRI Research Institute Anton Hendranata menyatakan suku bunga acuan sebaiknya bertahan di level 3,50 persen.

Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat BI perlu mempertahankan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Salah satu faktornya, kata Anton, adalah tekanan inflasi yang dialami Indonesia tidak seburuk negara-negara lain.

Sampai saat ini, lanjutnya, inflasi Indonesia sekitar 3,47 persen pada April 2022 atau naik dari posisi Maret yang sebesar 2,64 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Tingkat inflasi ini lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat (AS) yang mencapai 8,3 persen yoy.

Anton menambahkan pemerintah juga menyadari bahwa tren inflasi yang terus merangkak naik harus segera dicegah supaya tidak berlari kencang. Tingginya inflasi akan memukul daya beli masyarakat, sehingga mengganggu pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

“Saya kira keputusan pemerintah untuk menaikkan subsidi energi sekitar Rp74,9 triliun [naik 48,8 persen dari rencana awal APBN 2022] dan menaikkan kompensasi BBM dan listrik sebesar Rp275,0 triliun [naik 512,7 persen] harus kita sambut dengan baik,” ujarnya, Selasa (24/5/2022).

Menurutnya, kebijakan itu memberikan sinyal bahwa tekanan terhadap harga energi, BBM, dan tarif listrik sudah diminalisasi pemerintah. Artinya, tekanan inflasi Indonesia seharusnya tidak sebesar negara yang memberlakukan harga pasar untuk energi, BBM, dan listrik.

Dia pun memperkirakan langkah tersebut dapat meredam ekspektasi inflasi ke depannya, yang cenderung bergerak liar. “Sejalan dengan upaya pemerintah menekan laju inflasi, ada baiknya BI mempertahankan suku bunga acuannya pada bulan ini, yaitu 3,50 persen,” pungkasnya.

Dia menilai, saat ini pelemahan rupiah masih dalam taraf dapat dikendalikan karena penguatan dolar AS terhadap sebagian besar mata uang di dunia.

Menurutnya, dengan adanya cadangan devisa yang masih tinggi atau sekitar US$135,6 miliar, ruang BI untuk menaikkan suku bunga acuan dinilai tidak perlu seagresif negara-negara lain pada tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hadijah Alaydrus
Terkini