Simak! Skor Kredit Jadi Syarat Rekrutmen Pegawai, Ini Alasannya

Bisnis.com,25 Mei 2022, 03:00 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6/2020). Pekan kedua masa pembatasan sosial berskala berskala besar (PSBB) transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbolehkan karyawan di perkantoran kembali bekerja dengan kapasitas karyawan hanya dibolehkan sebanyak 50 persen dari jumlah karyawan dalam satu ruangan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA - Beberapa perusahaan di Indonesia mulai melibatkan jasa pengecekan skor kredit (credit scoring) ketika menggelar proses rekrutmen karyawan atau pegawai.

Haryo Utomo Suryosumarto, Managing Director Headhunter Indonesia, menuturkan bahwa tujuan pengecekan skor kredit sebenarnya bukan semata untuk melihat hasil skor dan reputasi finansial calon karyawan, namun juga menjadi indikator kemampuan dan karakter mereka dalam hal pengelolaan keuangan.

"Di samping penilaian standar soal kompetensi, legalitas, dan terkadang medical check up, sekarang perusahaan kerap mengakses dua hal, yaitu criminal check dan credit score check di tahap akhir proses rekrutmen. Karena kedua informasi ini bisa menjadi indikator mitigasi risiko terjadinya fraud," ungkapnya dalam diskusi virtual Kini Paham Kredit bersama PEFINDO Biro Kredit (IdScore), Selasa (24/5/2022).

Haryo mengungkap hal ini seiring munculnya fenomena bahwa ketidakmampuan karyawan mengelola utang yang kerap menimbulkan masalah buat perusahaan. Salah satunya, akibat karyawan terkait lebih fokus mencari-cari pekerjaan baru untuk mengejar potensi pendapatan yang lebih besar.

"Padahal, seperti diketahui bujet untuk rekrutmen itu tidak kecil. Selain itu, tak jarang perusahaan dan karyawan satu kantor kena ditanya-tanya oleh debt collector atau pinjaman online karena ulah seorang mantan karyawan yang utangnya belum lunas," tambahnya.

Hal ini belum ditambah risiko terjadinya fraud yang lebih signifikan dari karyawan terkait, mulai dari pencurian, potensi menerima suap, manipulasi data, penggelapan aset perusahaan, dan banyak lagi.

Namun, Haryo mengungkap nilai skor kredit biasanya hanya menjadi bagian kecil dari proses rekrutmen calon karyawan. Sebab, tak jarang pula ada kandidat yang memiliki skor kredit rendah karena ketidaksengajaan atau ulah faktor eksternal, sehingga perusahaan biasanya tetap akan melakukan cross-check dan wawancara lanjutan terhadap mereka. 

Senada, Founder & Chairman FTHR Andi Lumbantoruan mengungkap bahwa kemampuan seseorang mengelola keuangan saat ini penting sebagai pertimbangan perusahaan merekrut kandidat karyawan, karena juga berhubungan dengan performa ketika bekerja. 

"Banyak karyawan yang terlilit utang itu punya kecenderungan mangkir dari kewajibannya, dari pekerjaan utamanya, ternyata karena mereka fokus cari-cari proyek atau kerja sampingan," ungkapnya.

Turut hadir, Direktur Utama IdScore Yohanes Arts Abimanyu yang menekankan pentingnya awareness terkait pengelolaan keuangan sejak dini. Terlebih, penggunaan credit score saat ini bukan hanya menjadi bekal mengajukan permohonan kredit di bank atau lembaga keuangan saja, namun telah lebih luas, bahkan berhubungan dengan potensi karier ke depan.

"Saat ini sangat penting calon pekerja dan masyarakat umum itu dalam pengelolaan kredit dan mengetahui reputasi keuangan kita, karena ternyata hal ini mencerminkan karakter dan tanggung jawab kita," jelasnya.

Sebagai informasi, IdScore merupakan lembaga informasi pengelola perkreditan yang sekaligus memiliki platform MyIdScore (www.myidscore.id) yang memungkinkan individu mengecek credit score atau kelayakan kredit dirinya sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Rio Sandy Pradana
Terkini