Pernah Diretas Hacker Conti, Bank Indonesia Kini Diganjar Penghargaan Ketahanan Siber

Bisnis.com,23 Jun 2022, 04:10 WIB
Penulis: Leo Dwi Jatmiko
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung di Komisi XI DPR, kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (7/7/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mendapat penghargaan Cyber Resilience Initiative (insiatif ketahanan siber) dalam Central Banking's FinTech RegTech Global Awards tahun 2022.

Penghargaan diberikan di tengah rendahnya penilaian sistem keamanan BI oleh lembaga riset keamanan siber dalam negeri.

Central Banking Publication (CBP) memberikan penghargaan tersebut atas sejumlah inisiatif yang dilakukan Bank Indonesia antara lain, Program Budaya Keamanan Siber, membangun pusat ketahanan siber antarlembaga di Indonesia, dan membangun tim respons atas insiden komputer terkait keamanan keuangan.

Untuk diketahui Central Banking Publications (CBP) merupakan lembaga publikasi yang memfokuskan pada pembahasan kebijakan publik dan pasar keuangan, dengan penekanan pada bank sentral, lembaga keuangan internasional, serta infrastruktur dan regulasi pasar keuangan.

Total 19 penghargaan yang diberikan CBP, mempertimbangkan pencapaian teknologi pada bank sentral, pengawas, dan penyedia teknologi komersil.  

Dalam penghargaan tahunan yang diselenggarakan kali kelima tersebut, Bank Indonesia bersanding dengan bank sentral lainnya yang memperoleh penghargaan, antara lain Central Bank of Brazil (Brasil) pada kategori Data Management Initiative, Bank of Ghana (Republik Ghana) pada FinTech Policy of the Year, dan Bangko Sentral ng Pilipinas (Filipina).

Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung mengatakan ketahanan siber harus diupayakan pada aspek manusia, proses, dan teknologi. Tidak ada senjata pamungkas untuk menjamin suatu organisasi terlepas dari ancaman dunia maya, sehingga perlu dilakukan pendekatan keamanan berlapis.

“Oleh karena itu perlu adanya pendekatan keamanan berlapis yang mencakup manusia, proses, dan teknologi,” kata Agung dalam siaran pers, Rabu (22/6).

Dalam Program Budaya Keamanan Siber ini, sambung Agung, Bank Indonesia tidak hanya fokus pada manusia sebagai faktor krusial, juga secara holistik sehingga dapat bersama membangun ekosistem keuangan yang lebih kuat.

Penghargaan yang diterima Bank Indonesia terjadi saat sistem keamanan Bank Indonesia dinilai rentan oleh Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC.

Sebelumnya, Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha menilai sisi keamanan informasi Bank Indonesia masih rapuh. Sebagai regulator, Bank Indonesia memiliki permasalahan dari sisi keamanan informasi, yang berpeluang menyebabkan kebocoran data.

Berdasakan survei yang dilakukan tim CISSReC, Bank Indonesia hanya memiliki skor keamanan di angka 68, dari rentang 1-100, dengan penjelasan dari keamanan yang sangat bermasalah hingga keamanan yang paling aman.

“Kita lihat Bank Indonesia yang menjadi regulator ekonomi digital di Indonesia. Ternyata skornya juga cuma 68,” kata Pratama.

Pratama mengatakan Bank Indonesia yang berkali-kali membuat kebijakan untuk mendigitalkan semua masalah keuangan di Indonesia itu ternyata juga ringkih dan diretas habis-habisan datanya.

“Perkiraan kita ada sekitar 3,8 terabyte data yang diambil dari Bank Indonesia,” ujarnya.

BI diketahui pernah diretas oleh grup ransomware Conti pada awal 2022.  Pada 21 Januari 2022, CISSReC mengungkapkan grup hacker tersebut telah meretas data 487 MB dari 16 personal computer atau PC. Kemudian pada 24 Januari 2022, data bocor mencapai 52.767 dokumen dengan kapasitas data 74 GB dari 273 unit PC jaringan komputer BI.

Pada 26 Januari 2022, CISSReC mengungkapkan data yang diunggah Conti telah mencapai 130,96 GB. Lalu, perangkat komputer BI yang sudah terinfeksi Conti mencapai 368 unit. Sayangnya, data CISSReC baru mencakup bulan Januari 2022. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hadijah Alaydrus
Terkini