Porsi Kredit Sektor Pertambangan di BNI (BBNI) Hanya 3,32 Persen, Mengapa?

Bisnis.com,03 Jul 2022, 09:45 WIB
Penulis: Leo Dwi Jatmiko
Karyawan beraktivitas di kantor BNI Life di Jakarta, Kamis (30/6/2022). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA - Porsi penyaluran kredit ke sektor pertambangan di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) terbilang kecil. Perusahaan berkode saham BBNI itu selalu memperhatikan peraturan yang berlaku dalam penyaluran kredit ke sektor manapun.

Corporate Secretary BNI Mucharom mengatakan penyaluran kredit yang dilakukan oleh BNI ke sektor pertambangan, khususnya batu bara. dilakukan secara konservatif dengan memperhatikan semua ketentuan dari kementerian & lembaga berwenang.

“Kredit pertambangan rupiah dan mata uang asing BNI termasuk per kuartal pertama 2022 hanya 3,23 persen dari total kredit BNI,” kata Mucharom dalam siaran pers dikutip, Minggu (3/9).

Untuk diketahui pada kuartal I/2022, BNI menyalurkan total kredit sebesar Rp591,68 triliun, tumbuh 5,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Langkah penyaluran kredit ke sektor pertambangan pun, kata Mucharom, diikuti dengan komitmen green banking. Saat ini BNI telah menyalurkan kredit untuk sektor energi baru dan terbarukan mencapai Rp10,3 triliun.

"Kami juga telah menyalurkan pembiayaan untuk penanganan polusi mencapai Rp6,8 triliun, serta segmen pengelolaan air dan air limbah senilai Rp23,3 triliun," imbuhnya.

Mucharom menekankan bahwa BNI adalah perbankan milik pemerintah yang menjalankan bisnis di dalam koridor dan pengawasan pemerintah sekaligus Otoritas Jasa Keuangan.

Penyaluran kredit ke pihak manapun pasti melewati proses legal termasuk persyaratan agunan yang sesuai dengan nilai fasilitas pinjaman. Audit internal dan eksternal BNI terus berjalan secara reguler untuk terus memastikan berbagai tindak fraud yang dapat merugikan perusahaan sebagai penjaga aset negara.

Sebelumnya, merujuk laporan Bank Indonesia, pertumbuhan kredit investasi di sektor pertambangan melambat dari 67,3 persen yoy pada April 2022, menjadi 57,9 persen yoy pada Mei 2022. Sementara itu pertumbuhan kredit modal kerja melambat dari 42,5 persen yoy, menjadi 38,9 persen yoy pada Mei 2022.

Data BI juga mengungkapkan meski mengalami perlambatan, pertumbuhan kredit ke sektor pertambangan dan penggalian, baik kredit investasi maupun modal kerja, adalah pertumbuhan tertinggi pada Mei 2022 dibandingkan dengan pertumbuhan kredit ke sektor lainnya.

Di sisi lain, dilansir dari Bloomberg, negara barat bersepakat membatalkan komitmen penyetopan pembiayaan proyek bahan bakar fosil, menyusul krisis energi akibat perang Rusia di Ukraina. Pada akhirnya, para anggota Group of 7 (G7) menyepakati sebuah kompromi untuk membatalkan komitmen penyetopan pembiayaan bahan bakar fosil.

Para pemimpin juga gagal menetapkan tenggat untuk menghentikan penggunaan batu bara yang harganya kini kian memanas karena lonjakan permintaan dimana-mana. Mengenai rencana pembiayaan ke sektor pertambangan setelah perubahan kebijakan di Eropa. Kondisi ini diyakini akan mendorong laju kredit ke sektor pertambangan makin deras ke depannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Pandu Gumilar
Terkini