Mau Investasi di Tengah Kekhawatiran Resesi? Ini 3 Instrumen yang Bisa Dipertimbangkan

Bisnis.com,06 Jul 2022, 18:02 WIB
Penulis: Nabila Dina Ayufajari
Ilustrasi portofolio investasi/Freepik

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar saham hingga obligasi mendapat pukulan akibat perang Rusia-Ukraina. Imbas yang dirasakan mulai dari lonjakan inflasi sampai kenaikan suku bunga. Ketidakpastian Covid-19 juga masih ada, ditambah lagi dengan risiko terjadinya resesi ekonomi.

Dilansir dari Channel News Asia, analis pasar IG Yeap Jun Rong mengatakan risiko resesi yang lebih tinggi terjadi di Amerika Serikat (AS) karena pembuat kebijakan bergulat untuk mengendalikan inflasi.

"Sentimen pasar diperkirakan akan tetap rentan, dengan katalis untuk penjualan lebih lanjut berpotensi datang dari indikator ekonomi yang melambat selama beberapa bulan mendatang,” ungkap Rong, Rabu (6/7/2022).

Dalam masa ketidakpastian seperti ini, sejumlah investor lebih memilih menarik uang mereka untuk memastikan memiliki dana yang cukup sebagai penyangga terhadap pengeluaran mendadak atau kehilangan pendapatan.

Namun Rong menyarankan bagi para investor agar tetap berinvestasi dalam kelas aset yang berkualitas guna menghindari tergerusnya daya beli oleh inflasi dan mengatasi tantangan kenaikan harga.

Sementara itu, direktur senior UOB Asset Management Anthony Joseph Raza mengatakan pasar akan tetap di bawah tekanan dalam beberapa bulan mendatang di tengah risiko inflasi. Namun, masih ada hal positif untuk investasi jangka menengah hingga panjang.

Berikut ini sejumlah instrumen dan sektor investasi jangka menengah hingga panjang yang disarankan oleh sejumlah ahli yang patut dipertimbangkan:

 

Komoditas

“Emas adalah penyimpan nilai yang sangat baik dan lindung nilai inflasi,” sebut kepala investasi DBS Bank Hou Wey Fook.

Menurutnya, emas masih menarik minat investor selama masa baik dan buruk mengingat daya tarik gandanya sebagai aset safe haven dan barang mewah.

Logam mulia juga telah menunjukkan korelasi terbalik dengan harga riil. Harga emas naik ketika inflasi tinggi dan suku bunga negatif yang mengancam mengikis nilai kepemilikan uang tunai.

 

Pasar Saham

Analis berpendapat masih ada kesempatan di pasar saham meskipun telah digempur oleh aksi jual dalam beberapa waktu terakhir.

Misalnya, saham sektor energi, real estat, dan barang pokok menjadi sektor yang akan bertahan dalam lingkungan inflasi, menurut Mr Hou yang mengutip analisis mengenai bagaimana kinerja berbagai sektor di AS selama periode inflasi tinggi sejak 1973.

“Return riil rata-rata untuk energi, real estat, dan kebutuhan pokok konsumen tertinggi di antara semua sektor, masing-masing sebesar 6,6 persen, 4,3 persen dan 3,5 persen,” katanya.

Sementara itu, manajer layanan keuangan Phillip Capital dan Elijah Lee, berpendapat bahwa mungkin sudah waktunya untuk lebih memperhatikan saham yang membayar dividen tinggi. Meskipun saham pertumbuhan memiliki potensi return yang lebih tinggi karena pertumbuhan yang lebih kuat, aspek waktu mungkin menjadi perhatian.

“Pasar saham Singapura adalah pasar yang menarik untuk pendapatan,” ucap Lee, menunjuk pada permainan perbankan dan REITS. Konon, tidak semua saham dividen itu sama. Investor masih harus memperhatikan sektor dan fundamental perusahaan individu mengingat bagaimana beberapa perusahaan telah menangguhkan pembayaran dividen selama pandemi Covid-19.

 

Aset Pendapatan Tetap

Meskipun gerak aset pendapatan tetap seperti reksa dana dan obligasi berbanding terbalik dengan suku bunga, kelas aset ini dapat menjadi lindung nilai jangka panjang.

Raza dari UOB Asset Management merekomendasikan untuk mengurangi porsi investasi aset pendapatan tetap dan mempersingkat durasi salah satu portofolio.

“Semakin cepat inflasi mencapai puncaknya dan kemudian mulai turun, reksa dana pendapatan tetap akan kembali berkinerja baik,” ucap Raza.

Secara keseluruhan, para ahli merekomendasikan investor untuk tetap melakukan diversifikasi aset investasi pada jangka panjang.

Menurut Ernest Lim dari CGS-CIMB, manajemen risiko yang baik biasanya hanya mengalokasikan 30 persen portofolio untuk satu sektor tertentu. Dengan cara ini, investor disarankan melakukan investasi pada waktu yang berbeda dan dengan harga yang bervariasi, dibandingkan melakukan satu investasi sekaligus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Aprianto Cahyo Nugroho
Terkini