Jelang Tambah Modal, Bos Bank Neo Commerce (BBYB) Ungkap Kajian Metaverse

Bisnis.com,07 Jul 2022, 07:06 WIB
Penulis: Rika Anggraeni
Karyawati beraktivitas di sekitar logo Bank Neo Commerce di Jakarta, Kamis (19/4/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten bank digital PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) menyadari bahwa perkembangan teknologi mengarah ke pesatnya penggunaan metaverse di berbagai sektor, termasuk perbankan.

Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan menyatakan saat ini bank yang berbasis teknologi itu masih terus melakukan observasi dan mempelajari mengenai metaverse.

Menurut Tjandra, yang paling utama saat perseroan berekspansi ke ekosistem metaverse adalah bagaimana ekosistem tersebut dapat mendukung komitmen BBYB untuk selalu menyediakan layanan yang didasarkan oleh kebutuhan dan keinginan nasabah.

“Yang pasti, BNC [Bank Neo Commerce] selalu mengutamakan pengembangan yang up to date dan kreatif dalam layanan dan produk. Kami selalu tertantang untuk terus melakukan terobosan,” kata Tjandra kepada Bisnis, Kamis (7/7/2022).

Tjandra menyampaikan bahwa emiten bank digital dengan tampilan maskot kucing itu akan selalu berkomitmen untuk memberikan layanan keuangan yang terbaik dan mampu menjadi jawaban akan kebutuhan layanan terkait keuangan maupun lifestyle dari masyarakat Indonesia yang menjadi nasabah Bank Neo Commerce.

Di samping itu, Tjandra menilai perkembangan ekosistem metaverse akan menghadirkan pengalaman baru yang unik dan belum pernah ada sebelumnya untuk para nasabah perbankan. 

“Banyak sekali hal yang bisa dieksplor dengan perkembangan teknologi yang masif seperti ini, termasuk dalam meningkatkan customer experience, kecepatan, dan ketepatan layanan,” ungkapnya.

Selain itu, dia memandang bahwa ekosistem metaverse membuka peluang transaksi ekonomi baru di dunia virtual yang diperjualbelikan dengan konsep nonfungible token (NFT).

“Peluang baru ini [metaverse] tentu akan membuka revenue stream baru, dan mengembangkan basis pelanggan untuk menyentuh lebih banyak orang dan untuk lebih banyak kegiatan finansial. Namun, semua peluang ini juga datang bersamaan dengan tantangan tersendiri,” tambahnya.

Metaverse, lanjut Tjandra, harus diimbangi dengan peningkatan keamanan siber yang mumpuni, karena banyaknya celah yang ada dalam ekosistem metaverse.

“Keamanan aset dan data pelanggan adalah hal yang paling penting dalam menjaga kepercayaan nasabah. Oleh karena itu, sebelum memasuki ekosistem ini, banyak hal yang harus direncanakan dengan matang, terutama keamanan dan perlindungan data, serta aset pelanggan,” terangnya.

Di samping itu, metaverse yang berbasiskan teknologi Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Artificial Intelligence (AI) juga perlu didukung dengan perangkat dan infrastruktur yang mendukung. Maka dari itu, ketiga teknologi ini juga memerlukan investasi yang mendukung implementasi dan sosialisasi teknologi metaverse.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Anggara Pernando
Terkini