Bizhare Dorong Fintech Urun Dana Makin Populer, Ini Caranya

Bisnis.com,20 Agt 2022, 18:09 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Bizhare Syariah bisa menjadi platform pembiayaan yang terintegrasi dan memudahkan para investor menanamkan dananya dan berkontribusi dalam memajukan ekonomi syariah di Indonesia. /Biznet Syariah

Bisnis.com, JAKARTA - Platform teknologi finansial urun dana (securities crowdfunding/SCF) PT Investasi Digital Nusantara (Bizhare) percaya mulai ada peningkatan awareness dan minat masyarakat untuk mulai mencoba menjadi pengguna platform SCF.

CEO PT Investasi Digital Nusantara (Bizhare) Heinrich Vincent mengklaim bahwa awareness dari sisi penerbit maupun pemodal sudah lebih baik ketimbang tahun lalu. Buktinya, animo pemodal terhadap setiap penerbitan efek UMKM dalam platformnya semakin tinggi.

"Kalau Bizhare membuka periode penggalangan dana buat UMKM, baik berupa penerbitan saham maupun sukuk, tak jarang langsung penuh dalam hitungan menit. Artinya, banyak pemodal yang sudah menanti," ujar Vincent dalam sesi wawancara khusus bersama Bisnis, dikutip Sabtu (20/8/2022).

Sekadar informasi, platform tekfin urun dana atau sebelumnya disebut equity crowdfunding (ECF) berperan melayani penerbitan efek UMKM berupa saham atau surat utang, untuk menggalang dana dalam rangka mencari modal menggelar ekspansi bisnis atau proyek baru.

UMKM selaku 'penerbit' akan dipertemukan dengan para investor atau 'pemodal', yang nantinya menerima imbalan dalam bentuk kepemilikan efek. Pemodal mendapat keuntungan dari pembagian dividen atau imbal hasil atas keuntungan usaha penerbit, dalam periode waktu tertentu sesuai perjanjian.

Namun, Vincent mengakui setiap platform SCF masih menghadapi tantangan dari kedua sisi. Misalnya, dari sisi pemodal, Vincent melihat masyarakat cenderung menganggap tekfin terkait akses investasi hanya identik dengan saham dan reksa dana.

Adapun, untuk tekfin yang bisa menjadi alternatif investasi, SCF masih jauh ketinggalan dengan awareness soal menjadi pemberi pinjaman (lender) di tekfin P2P lending. Bahkan, mulai terlihat fenomena bahwa tekfin terkait aset kripto sudah lebih populer di kalangan masyarakat umum.

"Jadi terutama kalau mereka investor pemula, itu biasanya belum kenal SCF. Karena menurut mereka fintech itu ya, buat transaksi saham, reksa dana, atau pinjol. Tapi kalau investor sudah di level enthusiast atau berpengalaman, biasanya mulai mengenal tekfin SCF. Oleh karena itu, meningkatkan popularitas itu masih jadi tantangan seluruh pemain industri SCF," jelas Vincent.

Selain itu, kabar baik juga datang dari animo pembukaan pasar sekunder, alias bursa jual-beli efek di antara sesama pemodal Bizhare. Sekadar informasi, aktivitas ini secara resmi diperbolehkan OJK lewat POJK No. 16/2021, perubahan atas POJK No. 57/2020 tentang Penawaran Efek Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi.

"Transaksi di pasar sekunder kami yang terakhir, dibuka 21 Juli 2022 sampai 3 Agustus 2022, itu sampai Rp4,5 miliar. Kami melihat banyak pemodal tertarik, karena fundamental bisnis yang kami terbitkan itu secara riil memang bagus. Selain itu, para pemodal pun bisa langsung dapat dividen," tambahnya.

Adapun, dari sisi penerbit, pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI) ini mencermati fenomena minat UMKM untuk mengakses layanan SCF masih belum seimbang dengan kemampuan mereka dalam hal mengelola pembukuan usaha.

"Terutama soal bikin laporan keuangan yang baik dan transparan. Banyak UMKM yang minat dan sebenarnya punya kemampuan, tapi belum layak kami proses hanya karena pembukuannya belum rapi. Kami terus tekankan hal ini, karena SCF itu bukan cuma soal meminjam uang ke pemodal. Ini seperti latihan IPO, karena pemodal itu seperti menjadi pemilik bisnis bersangkutan," jelasnya.

Oleh karena itu, melihat berbagai fenomena ini, Vincent melihat perlu ada forum rutin yang khusus untuk meningkatkan awareness calon penerbit maupun pemodal tekfin SCF.

"Bulan Oktober nanti kami akan buat Bizhare Investment Conference seperti tahun lalu, rencananya mengundang Presiden dan para menteri, termasuk OJK. Harapannya, bisa ada workshop UMKM, acara buat para pemodal, termasuk sosialisasi dari pemerintah dan OJK. Selain itu, lewat acara ini kami juga ingin ikut mendukung perhelatan G20," jelasnya.

Selain itu, Vincent juga melihat peluang industri SCF bisa lebih cepat berkembang apabila semakin rajin menggelar kerja sama dengan lembaga keuangan lain. Sebab, layanan SCF terbilang lebih cocok untuk UMKM yang baru menggelar proyek anyar, sehingga akses keuangan berikutnya bisa dilanjutkan oleh lembaga keuangan lain.

Sebagai gambaran, misalnya suatu bisnis waralaba membuka cabang baru dengan bantuan penggalangan dana platform SCF. Setelah bisnis berjalan, kebutuhan pinjaman cepat bisa disediakan P2P lending. Kemudian, perbankan pun bisa masuk apabila UMKM bersangkutan sudah butuh akses pinjaman yang lebih besar lagi.

Oleh sebab itu, Vincent melihat sinergi semacam ini akan memberikan dampak positif buat UMKM, sekaligus memberikan potensi cuan jangka panjang untuk setiap lembaga keuangan yang terlibat.

Adapun, sepanjang tahun berjalan, Bizhare telah melayani penerbitan efek 95 entitas UMKM, 23 persen di antaranya berupa sukuk, sisanya saham. Total penggalangan dana yang difasilitasi Bizhare ini mencapai Rp128 miliar. Adapun, pemodal terdaftar telah mencapai sekitar 200.000 orang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Kahfi
Terkini