Bank Syariah Indonesia (BRIS) Bakal Rights Issue 6 Miliar Saham, Pengamat: Untungkan Peminjam

Bisnis.com,21 Agt 2022, 14:46 WIB
Penulis: Rika Anggraeni
Nasabah Bank Syariah Indonesia memeriksa buku tabungan seusai membuka rekening di KC Jakarta Hasanudin, Jakarta, Selasa (2/2/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) atau BSI akan mempertebal permodalan dengan menerbitkan 6 miliar saham Seri B melalui skema skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Langkah strategis ini dinilai akan memperluas bisnis BSI dan mendorong produk pembiayaan menjadi lebih murah sehingga memberi manfaat positif bagi konsumen.

Peneliti ekonomi syariah Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Fauziah Rizki Yuniarti mengatakan dengan menambah modal, emiten bersandi saham BRIS itu akan memiliki bisnis yang lebih luas serta bakal lebih mudah mendapatkan dana murah.

“Dampaknya ke konsumen, karena dana murah banyak dia [BSI] bisa bikin produk pembiayaan lebih murah. Konsumen diuntungkan kalau bank jadi buku IV,” kata Fauziah dalam keterangan tertulis, Minggu (21/8/2022).

Dia menilai potensi bisnis BSI juga masih sangat luas, salah satunya minimnya masyarakat Indonesia yang belum memiliki rekening bank. Ceruk pasar tersebut dinilai sangat besar dan belum dioptimalkan oleh bank-bank yang ada saat ini.

Terpisah, Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan kemungkinan dana hasil rights issue tersebut akan digunakan untuk mengakuisisi unit usaha syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Sebagaimana diketahui, rencana BSI mengakuisisi BTN Syariah mencuat seiring dengan pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir pada awal tahun ini. Erick berharap UUS BTN akan memperkuat posisi sekaligus memperbesar kapasitas BSI.

Konsolidasi ini merupakan visi pemerintah untuk terus mendorong penguatan ekonomi dan perbankan syariah melalui BSI. Dengan demikian BSI dapat memperbesar dan memperkuat posisinya dalam hal kapitalisasi pasar. Selain untuk memperkuat ekosistem layanan perbankan syariah di Indonesia, konsolidasi tersebut juga sebagai amanat Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah serta Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 59 Tahun 2020 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemisahan UUS.

Lebih lanjut, BSI saat ini tengah menunggu untuk mengubah status dari anak usaha BUMN menjadi bank BUMN. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) BSI pada Mei 2022, seluruh pemegang saham telah sepakat pemerintah Indonesia memiliki saham Seri A Dwiwarna di perseroan.

Sebelum saham Seri A Dwiwarna masuk, pemegang saham BSI di antaranya terdiri dari Bank Mandiri (50,83 persen), BNI (24,85 persen), BRI (17,25 persen), dan publik (7,08 persen).

“BRIS belum ketahuan jumlah dananya berapa. Kemungkinan ini akan dipakai untuk mengakuisisi UUS BTN,” kata Suria.

Jika mengacu pada keterbukaan informasi yang diterbitkan perseroan, BSI berencana untuk menggunakan seluruh dana yang diterimanya dari PMHMETD I adalah untuk penyaluran pembiayaan dalam mendukung pertumbuhan bisnis BSI.

Perlu diingat, apabila pemegang saham tidak melaksanakan HMETD miliknya, maka persentase kepemilikannya akan terdilusi hingga sebanyak-banyaknya 12,73 persen. Manajemen BSI menyatakan perseroan sebagai salah satu institusi keuangan perbankan berdasarkan prinsip syariah di Indonesia, memiliki kinerja yang cukup baik di tengah pandemi Covid-19.

"Aset BRIS saat ini berada di peringkat 7 secara nasional sekaligus menjadi bank syariah terbesar di Indonesia," ujar manajemen dalam keterbukaan informasi, dikutip pada Minggu (21/8/2022).

BSI memiliki visi untuk menjadi top 10 Global Sharia Bank dengan aspirasi aset Rp500 triliun pada 2025 dengan rasio return on equity (ROE) di atas 18 persen. Untuk mencapai aspirasi visi tersebut, manajemen mengungkapkan BSI melakukan ekspansi pertumbuhan baik secara organik maupun anorganik.

"Perseroan memproyeksikan pertumbuhan pembiayaan dengan compound annual growth rate [CAGR] lebih dari 15 persen sampai tahun 2025," ungkapnya.

Untuk mendukung rencana tersebut, BSI membutuhkan tambahan permodalan (ekuitas) agar capital adequacy ratio (CAR) dapat mencapai di atas 20 persen pada akhir  2025. Adapun, saat ini CAR yang dimiliki BSI berada di kisaran 17 persen. Hal tersebut juga sesuai dengan average CAR Top 10 National Bank dan menjaga level of comfort market.

"Dengan rencana PMHMETD I, perseroan akan memiliki kecukupan modal yang baik dengan CAR di atas 20 persen dan penambahan profitability yang optimal bagi pemegang saham dengan proyeksi dan ROE di atas 20 persen," tambahnya.

Lebih lanjut, BSI juga akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 23 September 2022 untuk meminta persetujuan rencana rights issue tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Anggara Pernando
Terkini