Bank Indonesia Segera Integrasikan BI-Fast dengan Sistem GPN

Bisnis.com,15 Sep 2022, 16:40 WIB
Penulis: Wibi Pangestu Pratama
Gubernur Bank Indonesia (BI) dalam acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia 2022 di Nusa Dua, Bali, Senin (11/7/2022). Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia menyatakan akan segera menghubungkan infrastruktur BI-FAST dengan sistem Gerbang Pembayaran Nasional atau GPN. Hal tersebut akan meningkatkan integrasi pembayaran digital di ekosistem keuangan Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam pidato kuncinya di acara Central Banking Services Festival (CB-Fest) 2022. Di sana hadir pula Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara bersama sejumlah pejabat Kemenkeu dan BI.

Perry menjelaskan bahwa pihaknya terus mengembangkan digitalisasi dan integrasi bank sentral, baik layanan bagi nasabah dan industri keuangan, termasuk bagi pemerintahan. Salah satu pengembangan terbaru adalah BI-FAST, yang membuat biaya transfer antarbank menjadi lebih murah.

Menurutnya, BI akan mengintegrasikan infrastruktur BI-FAST dengan sistem GPN yang sudah lebih lama berkembang. Hal tersebut merupakan wujud langkah integrasi infrastruktur sistem pembayaran dengan pasar keuangan (money market).

"Antara BI-Fast kami sedang akan sambungkan, juga dengan RTGS [real-time gross settlement], soon juga akan sambungkan dengan GPN," ujar Perry pada Kamis (15/9/2022).

BI-FAST merupakan infrastruktur sistem pembayaran ritel nasional yang memfasilitasi pembayaran secara langsung (real-time) dengan tarif lebih murah. Sementara itu, GPN adalah sistem integrasi berbagai instrumen dan kanal pembayaran nasional yang terdiri atas standar, switching, dan services, yang dibangun melalui seperangkat aturan dan mekanisme (arrangement).

Hingga akhir Agustus 2022 sudah terdapat 77 peserta BI-FAST yang mewakili 85 persen pangsa sistem pembayaran ritel nasional. Sementara itu, jumlah bank yang menerbitkan kartu GPN lebih banyak lagi.

Perry pun menjelaskan bahwa pihaknya terus menyiapkan pembuatan rupiah digital atau central bank digital currency (CBDC). Mata uang digital itu, bersama integrasi BI-FAST dengan GPN, menjadi salah satu agenda utama digitalisasi bank sentral.

"Tentu saja kita ke depan ingin menjadi dasar the future digital central banking, bersamaan dengan [pengembangan] digital business process di Indonesia," kata Perry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Feni Freycinetia Fitriani
Terkini