Risiko Kredit Naik, Bank BTPN (BTPN) dan Bank BJB (BJBR) Makin Selektif  

Bisnis.com,30 Sep 2022, 19:18 WIB
Penulis: Leo Dwi Jatmiko
Pejalan kaki melintas di dekat logo PT Bank BTPN Tbk. di Jakarta, Selasa (16/10/2018)./JIBI-Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank BTPN Tbk. dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Baret dan Banten (BJBR) mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit di tengah potensi kenaikan risiko. 

Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps tahun ini, hingga September 2022. yang berpotensi mendongkrak kenaikan bunga kredit dan nonperforming loan. 

Direktur Utama BTPN Henoch Munandar mengatakan perseroan selalu menjalankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pinjaman. Strategi emiten bersandi BTPN terbukti berhasil dalam menekan rasio kredit macet atau NPL yang pada semester I/2022 berada di posisi 1,35 persen, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata industri yang berada di level 3,04 persen per Mei 2022. 

“Kami tentu mengawasi perkembangan kenaikan suku bunga akhir-akhir ini tetapi untuk memprediksi berapa persen dampaknya kami berharap tentu tidak terlalu besar. Kami selalu memperhatikan perkembangan moneter termasuk peningkatan suku bunga,” kata Henoch dalam Press Conference RUPSLB, Kamis (29/9/2022). 

Selain itu, lanjutnya, perseroan juga akan terus memantau performa dari portofolio kredit yang ada di BTPN. Perseroan juga masih mengkaji apakah akan langsung menaikkan bunga kredit atau lebih mempertahankan. 

“Kami melihat perkembangan yang terjadi di pasar dan juga performa serta ketahanan dari debitur-debitur kami untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga yang tidak bisa kami hindari sebagai dampak dari situasi Global ekonomi yang ada sekarang,” kata Henoch. 

Dia menambahkan jika melihat data dari program restrukturisasi, sejak terjadinya pandemi Covid-19 hingga saat ini, secara umum kondisi permintaan terhadap restrukturisasi di perseroan dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami penurunan. 

Tidak ada lagi lonjakan permintaan restrukturisasi kredit dari nasabah baik dari segmen korporasi, komersial, maupun UMKM. 

Kondisi ini, kata Henoch, menimbulkan optimisme bahwa kondisi portofolio kredit di BTPN akan makin baik. 

“Tentu dengan perkembangan moneter terakhir ini menjadi suatu suatu perhatian dari kami di manajemen untuk terus menjalankan prinsip kehati-hatian dalam melakukan ekspansi kredit dalam situasi sekarang,” kata Henoch. 

Sementara itu Direktur Utama BJB Yuddy Renaldi mengatakan secara umum kenaikan inflasi dan suku bunga berdampak pada daya beli sekaligus kemampuan bayar nasabah sehingga profil risiko pun meningkat, oleh karenanya perbankan harus cermat untuk memilah sektor / debitur yang akan dimasuki untuk ekspansi.

Adapun saat ini kualitas kredit di BJBR masih terjaga dengan baik. 

“Alhamdulillah sampai dengan Agustus 2022, dengan pertumbuhan kredit 13,9 persen yoy, NPL terjaga di level 1,1 persen. Mitigasi yang kami lakukan adalah dengan ekspansi secara selektif terhadap sektor-sektor yang masih memiliki prospek positif ditengah tekanan inflasi,” kata Yuddy. 

Sebelumnya, berdasarkan data Pefindo Biro Kredit, sampai dengan Juli 2022 risk grade di kelompok perbankan dengan kategori tinggi dan sangat tinggi menunjukkan tren penurunan sepanjang tahun ini. Kendati demikian, jika dilihat secara bulanan terjadi kenaikan profil risiko dengan kategori sangat tinggi dari 29,3 persen pada Juni 2022 menjadi 29,8 persen pada Juli 2022. 

Demikian halnya dengan profil risiko kredit tinggi yang naik dari 47,4 persen pada Juni 2022 menjadi 47,6 persen pada Juli 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

  1. 1
  2. 2
Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Muhammad Khadafi
Terkini