Transaksi Digital Ngebut, Mobile Banking Jadi Primadona

Bisnis.com,03 Okt 2022, 13:31 WIB
Penulis: Rika Anggraeni & Muhammad Khadafi
Mobile banking/istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah kondisi perekonomian yang tidak menentu, transaksi digital di Indonesia secara konsisten mencatat pertumbuhan. Dalam beberapa tahun terakhir, layanan mobile banking melaui ponsel pintar telah menjadi primadona baru menjadi satu metode pembayaran di ruang digital. 

Merujuk data Bank Indonesia, nilai transaksi digital banking meningkat 31,40 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp4.557,5 triliun pada Agustus 2022. Setali tiga uang, nilai transaksi uang elektronik di Indonesia juga mengalami pertumbuhan sebesar 43,24 persen yoy mencapai Rp35,5 triliun.

Pertumbuhan transaksi digital banking dirasakan sejumlah pemain industri perbankan, salah satunya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Bank pelat merah bersandi saham BMRI itu mencatat transaksi melalui super apps Livin’ by Mandiri mencapai 1 miliar atau naik 62 persen yoy hingga Agustus 2022. Secara rata-rata, perseroan mengeksekusi hingga 50.000 lebih transaksi per detik.

“Ke depan, kami proyeksi transaksinya bisa menembus 100.000 per detik,” kata Direktur Information Technology Bank Mandiri Timothy Utama belum lama ini. 

Selain Bank Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. juga ikut merasakan hal yang serupa. Transaksi digital melalui aplikasi ponsel pintar, BRImo sebesar Rp1.567 triliun dengan jumlah transaksi 1.063 juta kali transaksi hingga akhir Agustus 2022. Hingga akhir tahun ini, emiten bersandi saham BBRI itu memproyeksikan nilai transaksi BRImo dapat mencapai Rp2.500 triliun.

Direktur Bisnis Konsumer BRI Handayani menyampaikan super apps BRImo telah memiliki 20,24 juta pengguna hingga Agustus 2022, dengan rata-rata pertumbuhan pengguna mencapai 700.000–800.000 per bulan.

“Sebagai financial super apps, BRImo terus berusaha melengkapi fitur untuk menjadikan BRImo sebagai one stop solution digital banking bagi nasabah,” kata Handayani.

Proyeksi Transaksi Digital 

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin memperkirakan transaksi digital di Tanah Air akan terus moncer hingga akhir tahun, mengingat saat ini perbankan mulai menjalankan bisnis secara hybrid dan onsite.

 “Proyeksi 5 tahun ke depan, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang memanfaatkan transaksi digital terbesar di kawasan regional maupun global,” kata Amin kepada Bisnis, Minggu (2/10/2022).

Berdasarkan pengamatannya, Amin melihat bahwa transaksi digital di Indonesia menunjukkan kemajuan yang cukup baik dan signifikan. Dia menyampaikan beberapa bank dengan transaksi digital turut membantu kenaikan jumlah transaksi, sebab bank-bank besar juga sudah banyak membangun ekosistem digital.

Meski sudah menunjukkan kemajuan yang signifikan, Amin memandang ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk memperkuat transaksi digital di Indonesia. Pertama, memperkuat ekosistem. Kedua, menjalin kolaborasi dengan marketplace.

Langkah ketiga adalah memperkuat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Amin menjelaskan bahwa dengan adanya kolaborasi UMKM, maka bisa memanfaatkan kemudahan dalam bertransaksi digital. Keempat, melalui perbaikan jaringan dan infrastruktur komunikasi dan teknologi informasi (IT) yang diperluas, sehingga bisa dinikmati seluruh kalangan di Indonesia.

Sependapat dengan Amin, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai prospek transaksi digital di Indonesia cukup positif karena didasarkan tiga faktor. Pertama, adaptasi transaksi digital meningkat pesat selama masa pandemi dengan tambahan 30 juta pengguna internet baru di dalam negeri.

Kedua, Bhima memandang bahwa kehadiran fitur pembayaran baru seperti BNPL (buy now pay later) yang telah menambah pesaing baru dan meningkatkan animo pengguna transaksi digital.

Adapun faktor ketiga, yakni cross-selling dari berbagai platform membuat pembayaran digital semakin dibutuhkan masyarakat, salah satunya dengan pembelian barang di toko fisik menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRiS) yang difasilitasi dompet digital atau e-wallet.

Lebih lanjut, Bhima mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi pemimpin transaksi digital karena kecepatan adopsi transaksi digital yang cukup cepat. Oleh sebab itu, dia memproyeksikan transaksi dompet digital di Indonesia akan menembus US$100 miliar pada 2030.

“Proyeksi transaksi digital [e-wallet] di Indonesia hingga 2030 diperkirakan menembus US$100 miliar atau setara dengan 55 persen dari porsi transaksi e-wallet di Asia Pasifik,” ujarnya. 

Untuk merealisasikannya, Bhima mengungkapkan setidaknya ada empat langkah penting yang harus dilakukan, di antaranya dengan memperluas akses internet ke seluruh wilayah, termasuk pedesaan dan luar Pulau Jawa. Diikuti dengan melakukan edukasi dan sosialisasi terkait manfaat pembayaran digital bagi pelaku usaha dan konsumen, sekaligus peningkatan literasi soal keamanan data di ranah digital. 

Selanjutnya, mengadakan kolaborasi dengan dunia pendidikan untuk mengenalkan fitur pembayaran digital sejak usia sekolah dan meningkatkan kolaborasi antarpemain melalui omnichannel atau keterlibatan pelaku usaha fisik untuk mengadopsi digital payment.

Adapun, Direktur Segara Institute Piter Abdullah mengatakan transaksi digital di Indonesia akan terus tumbuh semakin cepat. Pertumbuhan tersebut seiring dengan gaya hidup masyarakat.

“Transaksi digital [di Indonesia] lima tahun ke depan saya perkirakan sudah berkali lipat dibandingkan tahun ini,” tandasnya.

Nasib ATM

Terpisah, pengamat perbankan dari Binus University Doddy Ariefianto menilai, melihat dari perkembangan saat ini, transaksi digital di Indonesia akan berpusat pada ponsel pintar. Ke depan, bank akan berlomba mengeluarkan layanan transaksi pembayaran yang paling mudah untuk menarik nasabah. 

"Saat ini perlombannya didominasi oleh bank besar. Nanti bank menengah dan kecil juga pada waktunya ikut bermain, sehingga transaksi digital akan menjadi pilihan utama masyarakat," katanya. 

Dia menilai digitalisasi pembayaran melalui ponsel pintar akan menggeser fungsi anjungan tunai mandiri (ATM). Pasalnya, kedua platform tersebut melayani segmen yang sama, yaitu ritel. Sementara itu, korporasi saat ini belum banyak disentuh oleh layanan digital bank. 

"Fungsi ambil uang di ATM lama-lama akan tidak relevan lagi, kalau masyarakat sudah benar-benar terbiasa dengan transaksi non-tunai," katanya. 

Adapun hal itu sebenarnya sudah tercermin dari data Bank Indonesia. Transaksi melalui kartu debit atau kartu ATM memang masih mendominasi dalam 10 tahun terakhir. Akan tetapi porsinya berkurang dari 94 persen menjadi 88 persen. 

Data tersebut, selaras dengan keberadaan mesin ATM itu sendiri yang berada dalam tren penurunan. Hingga akhir tahun lalu jumlah ATM tercatat lebih dari 98.000 unit atau berkurang 7,5 persen dari posisi puncaknya pada 2018 dengan jumlah lebih dari 106.000 unit. Tahun ini, mesin ATM juga kembali berkurang 0,3 persen bila dibandingkan dengan posisi akhir 2021. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Muhammad Khadafi
Terkini