Harga Emas Naik di Tengah Ancaman Resesi, Pegadaian Semringah

Bisnis.com,12 Nov 2022, 02:00 WIB
Penulis: Aziz Rahardyan
Karyawan menunjukkan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pegadaian menatap prospek bisnis periode 2023 secara lebih optimistis, terdorong potensi peningkatan minat nasabah menggunakan layanan gadai di tengah ancaman resesi global

Direktur Keuangan Pegadaian Ferdian Timur Satyagraha menjelaskan bahwa bisnis gadai sepanjang tahun ini terbilang menantang, karena kondisi perekonomian yang lebih stabil membawa tren penurunan harga emas, terutama sejak medio kuartal II/2022.

"Sentimen yang menarik buat kami di 2023, harga emas cenderung naik karena ada ancaman resesi, contohnya seperti periode 2008. Potensi di 2023 buat bisnis gadai lebih tinggi ketimbang tahun ini, sehingga kami punya target penyaluran pinjaman gadai bisa tumbuh sekitar 16 persen [year-on-year/yoy]," jelasnya dalam diskusi 'Mendorong Pertumbuhan Kredit di Tengah Ancaman Resesi dan Dinamika Politik', dikutip Jumat (11/11/2022).

Namun, dia menilai membaiknya kondisi perekonomian juga memiliki pengaruh positif buat Pegadaian dari sisi penurunan biaya dana (cost of fund/CoF). Alhasil, efisiensi beban bunga dan keuangan menjadi lebih optimal, yang akhirnya turut berpengaruh terhadap profitabilitas.

Ferdian mengungkap buktinya laba bersih Pegadaian sepanjang tahun berjalan sudah bisa tumbuh sekitar 32 persen yoy, telah terealisasi 103 persen dari target nominal awal tahun, dan masih berpotensi melebihi target pada akhir tahun nanti yang dipatok tumbuh 29 persen yoy ketimbang tutup buku 2021.

"Manajemen dan teman-teman sekuritas sudah diskusi rutin sejak awal tahun, sudah ada pandangan bahwa jelang akhir tahun akan ada kenaikan suku bunga acuan. Itulah kenapa kami menerbitkan obligasi di awal tahun, yaitu April dan Juli, dengan kupon yang masih rendah, masing-masing 3,6 persen dan 3,9 persen. Inilah yang membuat CoF kami mengalami penurunan," jelasnya.

Sekadar informasi, saat ini Pegadaian memiliki belasan jenis produk gadai, antara lain gadai emas, gadai non-emas, gadai kendaraan, gadai efek, gadai tabungan emas, gadai angsuran emas, dan gadai berskema syariah dari setiap jenis produk.

Sementara itu, selain dari lini bisnis gadai, Pegadaian juga terus berupaya mengoptimalkan pendapatan dari lini bisnis non-gadai. Misalnya, penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) syariah, dan penjualan atau pembiayaan terkait emas.

Dalam waktu dekat, Ferdian juga memberikan bocoran bahwa Pegadaian juga berupaya mulai meraup pundi-pundi cuan dari lini bisnis baru, antara lain membentuk bullion bank atau bank emas, serta ikut menjadi kanal layanan perbankan besutan induk usaha, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI).

Sebagai informasi, berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait industri gadai per Agustus 2022, laba bersih Pegadaian tercatat mencapai Rp2,44 triliun, tumbuh 34 persen yoy ketimbang periode sama tahun lalu senilai Rp1,81 triliun. Sebagai perbandingan, laba bersih Pegadaian pada tutup buku 2021 mencapai Rp2,42 triliun.

Adapun, dari sisi pinjaman tersalurkan, Pegadaian mencetak outstanding Rp55,67 triliun atau masih tumbuh 6,2 persen (year-to-date/ytd) ketimbang akhir tahun lalu, yang kala itu mencapai Rp52,42 triliun.

Saat ini, outstanding pinjaman gadai konvensional masih mendominasi dengan porsi Rp40,51 triliun, disusul gadai syariah atau rahn yang porsinya Rp6,9 triliun, pinjaman fidusia konvensional Rp4,31 triliun, layanan setara pinjaman fidusia dengan akad rahn tasjily Rp2,6 triliun, dan pinjaman lain-lain Rp1,16 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Feni Freycinetia Fitriani
Terkini