Studi HSBC: Pebisnis RI Optimis Ekspansi pada 2023

Bisnis.com,25 Nov 2022, 08:48 WIB
Penulis: Media Digital
Foto: HSBC Indonesia Main Office (WTC)

Bisnis.com, JAKARTA - Pebisnis Indonesia diperkirakan tetap akan mengejar pertumbuhan di tengah kondisi global yang bergejolak pada 2023.

Pada saat yang sama, pebisnis Indonesia juga berusaha menyeimbangkan antara target ekspansi ke global dengan upaya mengatasi tantangan dalam hal perdagangan dan penyediaan.

Hal itu terungkap dalam studi terbaru dari HSBC berjudul “Business Balancing Act”. Studi itu menunjukkan, sebesar empat dari lima perusahaan menengah atau perusahan yang memiliki perputaran uang antara US$10 juta sampai dengan US$500 juta, berencana untuk berekspansi ke pasar internasional pada 2023.

Survei yang menargetkan Chief Executive Officer (CEO) maupun Chief Financial Officer (CFO) dari 2.100 bisnis di 14 pasar di seluruh dunia itu mengungkapkan bahwa pemimpin bisnis dari Indonesia menargetkan untuk masuk setidaknya ke satu pasar di luar negeri.

Data dalam studi juga mengungkapkan empat per lima (80 persen) perusahaan menengah (medium enterprises) dari Indonesia memperkirakan bakal tetap tumbuh pada 2023, di tengah kondisi perlambatan ekonomi global. 

Kemudian, hampir separuh (46 persen) perusahaan menengah memperkirakan pertumbuhan antara 15 persen – 20 persen, sementara seperlima (19 persen) mengharapkan peningkatan sebesar 10 persen – 14 persen pada 2023. 

Para pelaku usaha tetap optimistis bisnis mereka tumbuh, di tengah kekhawatiran akan inflasi dan peningkatan biaya hidup (49 persen) serta suku bunga (42 persen).

Global Banking Director HSBC Indonesia Riko Tasmaya menilai perusahaan menengah di Indonesia tetap ingin berlari kencang untuk mengejar pertumbuhan yang sempat terhambat selama pandemi. Namun demikian, kondisi pasar global pada tahun depan membuat pelaku bisnis menengah berpikir keras.

“Mereka memikirkan bagaimana upaya terbaik dalam menyeimbangkan target pertumbuhan dengan risiko volatilitas pasar yang mungkin terjadi,” kata Riko, Rabu (23/11/2022).

Riko menuturkan keinginan para pelaku usaha untuk bertumbuh dengan cara berekspansi secara internasional harus dipersiapkan dengan mempertimbangkan kompleksitas ekonomi global serta pemanfaatan teknologi yang makin meningkat.

Dia menambahkan sebagai salah satu Bank terbesar di dunia, dengan kekuatan di Asia Pasifik dan belahan dunia lainnya, Grup HSBC memiliki peran penting dalam perekonomian global.

HSBC, lanjutnya, merupakan trade finance bank terbesar di dunia, dengan jaringan internasional yang mencakup 90 persen dari total GDP arus perdagangan global.

“Dengan demikian, kami memainkan peran penting dalam memfasilitasi penanaman modal asing, membantu banyak perusahaan untuk tumbuh di luar negara asalnya, melalui pemberian pinjaman, investasi serta layanan jasa keuangan antar negara yang dibutuhkan bisnis untuk berkembang,” kata Riko. 

Riset yang dilakukan oleh HSBC bekerja sama dengan perusahaan jajak pendapat Toluna juga menemukan fakta bahwa pelaku usaha di Indonesia melihat minat yang lebih besar di bidang keberlanjutan dan efisiensi yang didorong oleh teknologi. Kedua faktor tersebut menjadi kontributor utama pendorong pertumbuhan.

Setengah (51 persen) dari responden mengatakan bahwa kemampuan untuk memperoleh investasi dan ekspansi ke digital platform dan kanal baru (47 persen) akan turut berperan penting.

Walaupun adanya perkiraan yang optimistis, perusahaan berskala menengah tetap harus menyeimbangkan antara mencari peluang untuk bertumbuh dengan mengelola berbagai tantangan pada tahun depan.

Empat per lima (80 persen) dari pelaku usaha akan fokus membuat rantai pasok mereka menjadi lebih berkelanjutan, namun pada saat yang sama lebih dari seperempat responden mengkhawatirkan akan kurangnya penyedia dan barang yang berkualitas (28 persen).

Lebih lanjut dalam Studi dari HSBC yang juga menyurvei berbagai bisnis di Australia, Meksiko, Singapura, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Kanada, Tiongkok, Hong Kong, India dan Jerman, juga memperlihatkan sebanyak 75 persen perusahaan menengah di Indonesia, di mana ini menjadi jumlah terbanyak, di seluruh dunia berusaha mencari investasi eksternal untuk mendukung pertumbuhan mereka.

Seperlima berusaha untuk menjual sebagian bisnis mereka, sementara seperempatnya merencanakan untuk menjalankan akuisisi guna mencapai pertumbuhan yang direncanakan tahun depan. 

Terkait bagaimana para pemimpin bisnis akan memprioritaskan investasi mereka dalam 12 bulan ke depan, arus kas dan pengelolaan modal (52 persen), pengalaman nasabah (50 persen), dan inovasi produk (47 persen) akan menjadi hal-hal utama.

“Meski demikian, 80 persen bisnis MME di Indonesia tetap berusaha menyeimbangkan rencana investasi dengan bagaimana mereka dapat mengurangi biaya di tahun depan,” kata Riko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Media Digital
Terkini