Junjung Budaya Antikorupsi, Bos OJK Dorong Peran Perempuan

Bisnis.com,29 Nov 2022, 18:30 WIB
Penulis: Rika Anggraeni
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar pada CEO Networking 2022/Dok.BEI

Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong penguatan integritas dan budaya antikorupsi di industri jasa keuangan salah satunya dengan mendorong peran perempuan untuk menumbuhkan karakter dan moral kejujuran dalam lingkungan keluarga.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengungkapkan untuk menumbuhkan budaya integritas dan antikorupsi, diperlukan dukungan dari semua pihak termasuk keluarga sebagai lingkungan terkecil. Menurutnya, perempuan memegang peran penting dalam keluarga untuk menumbuhkan karakter kejujuran dan bermoral.

“Perempuan memegang peranan penting atau sebagai tiang negara dalam membantu mencegah korupsi dari lingkungan terkecil yaitu keluarga hingga negara,” kata Mahendra dalam keterangan tertulis, Selasa (29/11/2022).

Setali tiga uang, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan bahwa perempuan selalu memiliki peran sentral dalam mengembangkan nilai-nilai masyarakat. Menurutnya, nilai kejujuran dalam menumbuhkan rasa antikorupsi dapat dikembangkan sebagai nilai budaya yang diterapkan di kehidupan sehari-hari.

“Perempuan adalah guru pertama dan guru seumur hidup bagi anak-anaknya. Peran itu penting untuk menanam nilai-nilai strategis manusia. Budayakan kejujuran dan berilah contoh yang baik kepada generasi penerus. Perempuan nantinya dapat menjadi penggerak integritas di zonanya masing-masing,” ungkap Retno.

Sementara itu, Ketua Dewan Audit OJK Sophia Wattimena menuturkan bahwa integritas merupakan nilai utama OJK yang wajib dimiliki insan OJK. Artinya, semakin tinggi nilai integritas yang dimiliki, maka semakin rendah pula risiko terjadinya korupsi.

Adapun berbagai upaya untuk meningkatkan integritas di OJK dan Industri Jasa Keuangan (IJK), yakni di antaranya melalui program assessment anti-fraud, implementasi whistle blowing system (WBS), dan penyampaian Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).

“Selain itu, bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK], OJK sedang mengkaji penerapan Sistem Manajemen Anti Suap [SMAP] secara mandatory di seluruh industri jasa keuangan,” ujarnya.

Merujuk pada hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022, indeks literasi keuangan perempuan pada 2022 mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Adapun, OJK menyampaikan bahwa dari sisi gender, untuk pertama kalinya, indeks literasi keuangan perempuan lebih tinggi, yakni sebesar 50,33 persen dibandingkan laki-laki di angka 49,05 persen.

Tak hanya itu, OJK juga menjadikan perempuan sebagai sasaran prioritas dalam arah strategis literasi keuangan, mengingat pentingnya peranan perempuan dalam mengelola keuangan keluarga serta dalam memberikan pendidikan atau edukasi keuangan terhadap anak-anaknya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Aprianto Cahyo Nugroho
Terkini