Kemarin Melesat, Begini Proyeksi Kinerja Saham Bank Digital ARTO hingga BBHI

Bisnis.com,14 Des 2022, 05:30 WIB
Penulis: Fahmi Ahmad Burhan
Nasabah berada di kantor cabang Bank Jago, Jakarta, Rabu (22/12/2021). Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Harga saham sejumlah bank digital seperti PT Bank Jago Tbk. (ARTO) hingga PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) naik pada perdagangan kemarin, Selasa (13/12/2022) setelah pekan sebelumnya jeblok. Akan tetapi, analis masih meragukan konsistensi kinerja bank digital tersebut.

Berdasarkan data dari RTI Business, harga saham bank digital melorot selama periode perdagangan pekan lalu 5-9 Desember 2022. Harga ARTO turun 15,95 persen dalam sepekan dan masuk dalam jajaran 10 besar top losers.

Harga saham BBHI juga turun 10,29 persen dalam sepekan, PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) turun 14,47 persen, dan PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) turun 2,62 persen.

Kemudian, pada perdagangan Selasa (13/12/2022) harga saham bank-bank digital itu meroket. Harga saham ARTO pada penutupan perdagangan hari ini melonjak 24,85 persen ke level Rp4.120. Begitu juga dengan BBHI yang naik 12,36 persen ke level Rp2.000.

BBBYB juga mencatatkan kenaikan harga 5,19 persen ke level Rp710. Lalu, AGRO naik 2,76 persen ke level Rp456.

Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengatakan kenaikan harga saham bank digital hari ini terjadi hanya karena aksi para investor untuk dapat keuntungan dari trading.

Sementara itu, pada kasus harga saham ARTO, kenaikan hingga 24,86 persen terjadi karena pengaruh roll over terdorong oleh kenaikan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO).

Harga saham GOTO di perdagangan hari ini naik 14,94 persen ke level Rp100. Sementara, GOTO mempunyai saham di ARTO melalui PT Dompet Anak Bangsa.

Arjun meragukan kinerja moncer harga saham bank digital itu berkelanjutan. "Kenaikan harga saham bank digital ini hanya akan berlaku untuk sementara, karena fundamental saham bank digital sudah sangat over valued," ungkapnya kepada Bisnis pada Selasa (13/12/2022).

Berdasarkan price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) nilai saham bank digital di atas rata-rata perbankan lainnya.

"Menurut saya PER dan PBV bank digital itu tidak masuk akal, jadi wajar kalau harga saham bank digital setelah beberapa hari ke depan akan melanjutkan downtrend," ujar Arjun.

Meski begitu, Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengatakan bahwa prospek saham bank digital masih positif untuk jangka panjang dan jangka pendek. Namun, dalam jangka pendek, saham bank digital ini akan terpengaruh oleh data ekonomi yang akan hadir.

Ia juga sempat mengatakan bahwa prospek bank digital sampai dengan 1–3 tahun mendatang masih cukup cerah, meskipun tidak untuk semua bank digital. Menurutnya, hanya bank digital yang memiliki ekosistem saja yang mampu terus melaju dan memimpin era bank digital di masa yang akan datang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Muhammad Khadafi
Terkini