BTN (BBTN) Gelar Rights Issue, Intip Prediksi Bisnis 2023

Bisnis.com,16 Des 2022, 06:20 WIB
Penulis: Anggara Pernando
Haru Koesmahargyo, Direktur Utama Bank Tabungan Negara di Bali./Humas BTN

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk. (BBTN) menargetkan dapat menumbuhkan pembiayaan 8 persen  sampai dengan 9 persen pada 2023 di tengah sejumlah tantangan bisnis. 

Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo menuturkan trend kenaikan suku bunga acuan dari bank sentral menjadi tantangan bagi masyarakat untuk mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR). Meski demikian tingginya kebutuhan akan perumahan membuat target pertumbuhan ini optimistis dapat tercapai. 

“Tahun depan, kita tahu banyak challenge termasuk kenaikan suku bunga acuan, yang kedua juga kebutuhan perumahan yang masih sangat tinggi dan pemerintah memberikan fasilitas FLPP naik 10 persen, dari 200.000 unit menjadi 220.000 unit. Dari semua itu, saya pikir 2023 memang akan terdampak tapi tidak akan jauh dari 2022,” kata Haru di sela pertemuan World Saving Bank Institute (WSBI) ke 28  untuk Asia Pacific, Kamis (15/12/2022).

Dengan realitas tantangan yang ada ini, Haru menyebutkan realitas pertumbuhan bisnis pembiayaan akan sedikit ke bawah dari 9 sampai dengan 10 persen pada 2022 menjadi sekitar 8 persen hingga 9 persen pada tahun depan. 

“Kami yakin dapat tumbuh. Karena apa? Perumahan ini suatu kebutuhan dasar manusia,” katanya. 

Haru juga menekankan sektor perumahan menjadi penggerak ekonomi di dalam negeri. Pasalnya sektor ini 90 persen bahan baku yang digunakan lokal dan memutar perekonomian wilayah. 

Lebih lanjut dia menyebutkan, untuk membiayai pertumbuhan bisnis ini, BTN memiliki beragam opsi. “Saya kira sepanjang financial stability di Indonesia bagus, kami tidak perlu khawatir tentang dana,” katanya. 

Sejumlah sumber yang diandalkan perusahaan meliputi dana masyarakat baik tabungan maupun deposito hingga dana jangka panjang seperti obligasi. “Tapi kami tidak bergantung pada obligasi,” katanya. 

Jadwalkan Right Issue

BTN sendiri tengah melaksanakan tahapan untuk menambah modal melalui skema right issue. Harga pelaksanaan telah ditetapkan sebesar Rp1.200 per lembar dengan jumlag saham baru yang diterbitkan sebanyaknya 3,44 miliar lembar seri B dengan nilai nominal Rp500. Jumlah ini mencapai 24,54 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan. 

Dengan target penerbitan saham baru ini, BBTN akan mendapatkan injeksi modal hingga Rp4,13 triliun. Manajemen BBTN menjelaskan bahwa seluruh dana yang diperoleh dari rights issue bakal dialokasikan untuk memperkuat struktur permodalan. Termasuk meningkatkan penyaluran kredit. 

“Dana hasil PMHMETD [Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu] II akan diperhitungkan sebagai modal inti utama sesuai dengan POJK No.11/2016,” 

Jadwal rights issue BBTN yakni cum-right di pasar reguler dan negosiasi pada 22 Desember, sementara pasar tunai pada tangga 26 Desember 2022. Adapun periode pelaksanaan dan perdagangan dijadwalkan pada 28 Desember 2022 – 5 Januari 2023. 

Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip mengatakan right issue menjadi langkah penting bagi BTN untuk memperkuat modal, sekaligus meningkatkan komposisi sumber dana murah bagi penyediaan kredit pemilikan rumah (KPR). 

Menurutnya, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) BTN saat ini, yang berada pada level 13 persen, telah membatasi ruang gerak perseroan terutama dalam memperkuat bisnis KPR komersial agar seimbang dengan KPR bersubsidi. 

Menurutnya, BBTN setidaknya memerlukan CAR tier-1 sebesar 18 – 20 persen. Adapun CAR tier-1 BTN akan berada di kisaran 19 – 20 persen setelah rights issue. 

Sunarsip juga meyakini bahwa sektor properti, yang menjadi bisnis utama BBTN, masih akan tumbuh positif pada 2023. Hal ini ditopang oleh berbagai indikator makroekonomi dan indeks bisnis, serta kinerja solid industri manufaktur. 

“Tahun 2023 bisa menjadi momentum bagi BTN pasca right issue karena akan meningkatkan permodalan BTN sekaligus memperkuat sumber pendanaan murahnya,” tuturnya. 

Sampai dengan akhir November 2022, pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA) sebesar 25,9 persen secara tahunan menuju angka Rp153,74 triliun per akhir November 2022. CASA BBTN didominasi produk giro yang tembus Rp115,49 triliun, atau naik 57,4 persen year-on-year (yoy).

Di sisi lain, deposito yang tergolong dana mahal turun 5,36 persen menjadi Rp168,1 triliun dibandingkan sebelumnya yang tercatat Rp177,6 triliun. Secara keseluruhan, Dana Pihak Ketiga (DPK) dari bank spesialis pembiayaan perumahan ini meningkat 7,38 persen secara tahunan menjadi Rp321,83 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Anggara Pernando
Terkini