Premi Unit-Linked Great Eastern Life Melesat 60,47 Persen, Perusahaan Incar Akselerasi

Bisnis.com,05 Jan 2023, 23:13 WIB
Penulis: Rika Anggraeni
Direktur PT Great Eastern Life Indonesia Fauzi Arfan (kanan) sebelum pandemi Virus Corona./JIBI-Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan asuransi jiwa PT Great Eastern Life Indonesia (Great Eastern Life Indonesia) mencatatkan pertumbuhan pendapatan premi pada produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit-linked sebesar 60,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada November 2022.

Berdasarkan laporan keuangan tidak diaudit, perusahaan yang merupakan bagian dari Great Eastern Holdings Limited itu membukukan pendapatan premi dari produk unit-linked mencapai Rp754,57 miliar pada kuartal III/2022. Nilai itu naik 60,74 persen yoy jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dengan nilai Rp470,22 miliar.

“Di tahun 2023, kami akan fokus terlebih dahulu untuk menyesuaikan produk unit-linked yang kami jual dengan aturan yang dikeluarkan oleh OJK [Otoritas Jasa Keuangan],” kata Fauzi Arfan, Direktur Keuangan Great Eastern Life Indonesia kepada Bisnis, Kamis (5/1/2023).

Lebih lanjut, Fauzi menyampaikan pihaknya selalu berusaha menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia dengan mengembangkan produk yang menjadi terobosan di industri, tak terkecuali produk unit-linked.

“Kami percaya bahwa setiap produk dirancang untuk tujuan dan fokus yang berbeda berdasarkan kebutuhan nasabah tersebut,” ujarnya.

Di samping itu, lanjut Fauzi, OJK juga telah mengeluarkan aturan-aturan mengenai produk unit-linked untuk melindungi nasabah. Oleh karena itu, Great Eastern Life Indonesia percaya dengan penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan, produk unit-linked masih memiliki pasar tersendiri yang memiliki minat terhadap produk ini.

“Kami memastikan bahwa produk yang ditawarkan kepada nasabah adalah tepat dan dapat membantu nasabah dalam mencapai tujuan keuangannya,” imbuhnya.

Dia menuturkan perusahaan asuransi jiwa itu juga melihat bahwa potensi pasar asuransi di Indonesia masih terbuka lebar karena penetrasi market atau masyarakat Indonesia yang memiliki asuransi masih berada di bawah 10 persen, seiring dengan tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia yang semakin tinggi.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 49,68 persen, naik dibanding tahun 2019 yang hanya 38,03 persen

Oleh karena itu, kami yakin di tahun 2023 ini prospek asuransi jiwa masih sangat bagus,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Anggara Pernando
Terkini