IHSG Jauhi 7.000, Bos Bank Mandiri (BMRI) Konsisten Borong Saham

Bisnis.com,09 Jan 2023, 22:45 WIB
Penulis: Alifian Asmaaysi
Gedung kantor pusat Bank Mandiri. /Bloomberg-Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA - Aksi borong saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. atau BMRI oleh direksi kembali berlanjut.

Terbaru, Direktur Commercial Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. atau BMRI, Riduan diketahui membungkus sebanyak 17.900 lembar saham perusahaan pada minggu pertama 2023 ini.

"Tanggal transaksi terjadi pada 6 Januari 2023 dan tujuan transaksi untuk kepentingan investasi," jelas Riduan dalam laporan yang ditulis Senin (9/1/2023).

Berdasarkan laporan yang dibagikan pada keterbukaan informasi, Riduan membeli saham tersebut dengan harga Rp9.750 per saham. Dengan harga tebus, Riduan yang pernah berkarir sebagai direktur keuangan BPJS Kesehatan itu merogoh kocek senilai Rp174,52 juta dalam transaksi tersebut.

Alhasil, pasca-transaksi tersebut jumlah kepemilikan dan persentase saham Riduan sesudah transaksi tercatat menjadi 1.999.900 lembar saham atau 0,004 persen.

Sebelumnya, Riduan juga sempat memborong 40.000 lembar saham BMRI dengan harga Rp9.900 per lembar saham pada 28 Desember 2022.

Sebelumnya, Analis Mirae Asset Sekuritas Handiman Soetoyo menjelaskan bahwa BMRI masuk ke dalam empat bank besar yang diramal akan tetap menebar dividen karena telah melakukan pencadangan cukup tinggi dengan rasio cakupan non-performing loan (NPL) dan loan at risk (LAR) rerata 250 persen serta 40 persen.

“Kami percaya bahwa bank masih dapat membayar dividen yang lebih tinggi tahun ini dibandingkan tahun lalu. Modal bank yang kuat juga akan memungkinkan mereka untuk memberi insentif kepada pemegang saham,” ujar Handiman dalam risetnya, Kamis (5/1/2023).

Sementara Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani sebelumnya mengatakan aksi direksi BMRI borong saham memberi sinyal prospektif bagi saham BMRI ke depan.

Arjun memproyeksi, kinerja saham bank besar seperti BMRI akan terdongkrak seiring dengan sentimen kenaikan suku bunga yang relatif masih tinggi. 

"Dalam kondisi pasar saat ini yang sedang mengalami tren kenaikan suku bunga secara signifkan, justru bisa memberikan katalis positif terhadap emiten perbankan dengan modal solid sehingga dapat menerima manfaat kenaikan net interest margin (NIM)," kata Arjun kepada Bisnis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Anggara Pernando
Terkini