Keuntungan Berlipat dari Ekosistem Kendaraan Listrik

Bisnis.com,13 Mar 2023, 14:57 WIB
Penulis: Media Digital
Foto: Keuntungan Berlipat dari Ekosistem Kendaraan Listrik

Bisnis.com, JAKARTA - Nyaris semua negara berlomba-lomba beralih ke kendaraan listrik. Mengurangi karbon dari sektor transportasi menjadi bagian kunci dari strategi global menggapai emisi nirkarbon. Di tengah pergeseran tersebut, Indonesia tampil dan menjejakkan kakinya di panggung dunia.

Dengan kekayaan cadangan nikel yang sangat besar, 22 persen cadangan global terkandung di Bumi Pertiwi, produksi nikel Indonesia sebesar 1 juta ton per tahun merupakan yang tertinggi. Sumbangannya sekitar 30 persen dari produksi dunia.

Dalam lima tahun, produksi nikel Indonesia diproyeksikan meningkat menjadi 4,5 juta ton per tahun. Meski saat ini industri stainless steel merupakan konsumen terbesar nikel, industri baterai menjadi konsumen nikel yang berkembang sangat cepat.

Menurut studi HSBC, tingkat adopsi  kendaraan listrik di seluruh dunia akan meningkat menjadi 27 persen pada 2025 dari hanya 8 persen pada tahun 2021. Angka tersebut diperkirakan akan melompat menjadi 53 persen pada 2030 dan 73 persen pada 2035.

Indonesia memegang peranan krusial di tengah ‘revolusi’ ini, dengan imbas positif paling tidak di tiga aspek.


Mendorong Investasi dan Ekspor

Pada Januari 2020, pemerintah Indonesia memberlakukan larangan ekspor bijih nikel demi mendorong hilirisasi sektor pertambangan. Pemerintah juga telah mempermudah proses perizinan pertambangan dan menawarkan insentif fiskal untuk pembangunan pabrik peleburan (smelter).

Kombinasi kebijakan tersebut berhasil menarik investasi dari perusahaan-perusahaan ternama dunia. Sebutlah Grup LG dari Korea Selatan, dari Tiongkok ada CATL, CNGR, dan Huayou, serta Foxconn asal Taiwan membenamkan investasi hingga miliaran dollar untuk smelter dan produksi baterai. Dari benua Eropa, BASF dan Eramet sedang melakukan finalisasi rencana investasi mereka untuk pabrik peleburan nikel.

Kementerian Investasi/BKPM memperkirakan potensi investasi untuk hilirisasi sektor mineral, termasuk komoditas nikel dan batubara, mencapai US$427,1 miliar pada 2035.

Berkat nilai tambah dari peleburan bijih nikel, nilai ekspor komoditas tersebut melonjak menjadi US$20,9 miliar pada 2021 dari US$1,1 miliar pada 2014. Presiden Jokowi bahkan memperkirakan nilai ekspor nikel akan melebihi US$30 miliar tahun ini.

Bauksit menjadi sasaran berikutnya, dengan rencana pelarangan ekspor bijih Juni tahun ini. Pemerintah ingin bijih bauksit bisa diproses menjadi alumina. Setelah alumina, proses berikutnya menjadi aluminium, komponen penting dalam produksi baterai kendaraan listrik.

Perlu diingat, Indonesia juga memiliki cadangan kobalt yang tidak sedikit, berguna untuk memperpanjang durasi pakai baterai. Menjadi basis utama produksi baterai global bukanlah impian siang bolong.

“Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia dan  memiliki cadangan bijih nikel yang sangat besar. Selain itu, pemerintah Indonesia berupaya mendatangkan investasi untuk kegiatan ekonomi bernilai tinggi di rantai pasok kendaraan listrik,” kata Presiden Direktur PT HSBC Indonesia Francois de Maricourt.

“Seiring dengan pertumbuhan industri kendaraan listrik dalam negeri, Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci di rantai pasok global,” ujar  Francois.


Membangun Ekosistem  yang Holistik

Upaya pemerintah dalam menciptakan ekosistem end-to-end mulai menunjukkan hasil yang substansial. Pembicaraan dengan Tesla dan BYD untuk pabrik mobil listrik terus berlanjut. VW dan Ford juga sedang menjajaki peluang investasi baterai.

Kehadiran mereka akan memperkaya pilihan bagi produsen dalam negeri. Mobil listrik saat ini masih didominasi Wuling dan Hyundai, dengan tingkat pertumbuhan tidak main-main. Tahun lalu, penjualan mobil listrik melampaui 20.000 unit, melonjak enam kali lipat dibanding tahun 2021.

Fitch Ratings memproyeksikan insentif pemerintah serta munculnya varian yang lebih murah bisa mendorong penjualan mobil listrik tahun ini menembus 50.000 unit.

Meski demikian, HSBC berpandangan bahwa ekosistem kendaraan listrik yang holistik memerlukan lebih banyak stasiun pengisian daya. Hingga akhir 2022, stasiun pengisian baru ada di 570 titik, tidak sampai 10 persen dari jumlah SPBU yang angkanya melebihi 6.700.

Selain itu, industri kendaraan listrik dalam negeri juga memerlukan layanan purnajual serta harmonisasi regulasi yang prima.

“Meski masih ada tantangan seperti terbatasnya jumlah stasiun pengisian daya dan minimnya layanan purnajual, pengembangan ekosistem kendaraan listrik diharapkan dapat berperan dalam mendukung ambisi Indonesia untuk capai emisi nirkabon pada 2060,” ungkap Riko Tasmaya, Managing Director Global Banking, HSBC Indonesia.

 
Menggapai Target Nirkarbon

Adopsi kendaraan listrik secara masif akan turut membantu Indonesia menurunkan emisi karbon secara keseluruhan. Pemerintah menaikkan target pengurangan karbon menjadi 32 persen pada 2030 dari sebelumnya 29 persen.

Guna mencapai target nirkabon pada 2060, dibutuhkan strategi komprehensif di segala sektor, termasuk kehutanan dan energi. Kebijakan di sektor nikel, baterai, dan kendaraan listrik menunjukkan kesungguhan pemerintah Indonesia dalam mendorong penurunan emisi dan membuka peluang usaha baru.

HSBC bangga karena telah menggelar forum investasi terkait prospek industri nikel dan kendaraan listrik Indonesia, memberikan perspektif dari pemerintah serta pelaku industri. Sebagai institusi global dengan pemahaman lokal, HSBC menjadi mitra tepat dalam menangkap peluang yang muncul di ekonomi terbesar di Asia Tenggara,” kata Riko.

“Bersama-sama, kita bisa mempercepat pertumbuhan industri di Indonesia dan sekitarnya,” tungkas  Riko. (ism)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Media Digital
Terkini