Top 5 BisnisIndonesia.id: Pelajaran dari Bank Gagal Global hingga Babak Baru PLTN

Bisnis.com,29 Mar 2023, 08:16 WIB
Penulis: Emanuel B. Caesario
Ilustrasi top 5. Sumber: Canva

Bisnis.com, JAKARTA — Peristiwa kegagalan sejumlah bank global akhir-akhir ini menjadi pelajaran berharga bagi industri perbankan Indonesia agar tidak mengalami hal yang sama.

Berita tentang rangkuman pembelajaran bagi industri perbankan Indonesia dari kasus kegagalan beberapa bank di Amerika Serikat dan Eropa akhir-akhir ini menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id.

Selain berita tersebut, sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id. Berikut ini highlight Bisnisindonesia.id, Rabu (29/3/2023):

 

1. Pelajaran Berharga bagi RI di Balik Runtuhnya Bank-bank Global

Sejumlah pelajaran berharga dapat ditarik dari kasus kegagalan sejumlah bank global akhir-akhir ini bagi industri perbankan Indonesia. Meski kondisi fundamental perbankan Indonesia secara industri relatif stabil, sejarah menunjukkan bahwa industri ini rentan terhadap gejolak global.

Berkaca dari peristiwa kegagalan Silicon Valley Bank (SVB), keruntuhan bank dengan aset yang jauh melampaui bank terbesar di Indonesia itu terjadi begitu cepat. SVB dilaporkan bangkrut usai gagal mengumpulkan dana tambahan sebesar US$2,25 miliar dalam 48 jam.

Selain SVB, ada pula Silvergate, Signature Bank, Credit Suisse, hingga Deutsche Bank yang mengalami gejolak hingga ditutup.

Sejauh ini, belum ada kabar tak sedap di industri perbankan Indonesia. Namun, cepatnya peristiwa keruntuhan SVB dan rentetan sentimennya yang meluas patut diwaspadai. Selagi kondisi industri jasa keuangan Indonesia masih relatif stabil, peristiwa ini selayaknya menjadi pelajaran bagi pelaku industri perbankan Tanah Air agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.


2. Bersiap Pertumbuhan Indonesia Tak Mencapai Target 5,3 Persen

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 bisa jadi tidak akan menyentuh target 5,3 persen. Sejumlah prediksi menunjukkan posisi 5 persen sebagai yang tertinggi, kalau terjadi lonjakan capaiannya berkisar di posisi 5,1 persen alias di bawah target 5,3 persen.

Selain proyeksi IMF yang mematok angka pertumbuhan 5 persen, laporan Bank Dunia soal tren perekonomian global yang masih melambat hingga 2030 bisa menjadi acuan.

Sementara itu, jika merujuk pada pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pertumbuhan ekonomi Indonesia bersama 4 negara Asean lainnya diperkirakan berada di kisaran 4,6 hingga 4,7 persen.

Menurut Perry, perekonomian Asean-5, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, secara rata-rata tumbuh sebesar 5,3 persen pada 2022.  Namun, pada 2023, perekonomian Asean-5 diperkirakan tumbuh melambat dari tahun sebelumnya. Hal itu bisa terjadi seiring dengan tertahannya perekonomian global.


 

3. Kinerja WIKA di Titik Terendah, Prospek Sahamnya Masih Menarik?

Kinerja keuangan emiten BUMN konstruksi, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. yang berbalik rugi sepanjang 2022 lalu makin meredupkan kepercayaan diri investor emiten ini, menyebabkan valuasi sahamnya turun hingga ke level terendah dalam 10 tahun terakhir.

Level harga terkini WIKA menjadi level terendah dalam 10 tahun terakhir. Di periode keemasannya, harga saham perseroan pernah mendekati level Rp2.500. Seiring dengan pandemi dan berkembangnya sentimen negatif yang menyelimuti BUMN Karya, saham perseroan makin melemah.

Pelemahan ini diperparah oleh Laporan Keuangan 2022 yang melaporkan kerugian senilai Rp59,6 miliar sepanjang 2022, berbalik dari kondisi laba senilai Rp130 miliar di tahun sebelumnya.

Koreksi di saham WIKA tampaknya tidak dapat dilepaskan dari sentimen yang menyelimuti emiten sejawatnya, yakni WSKT yang akhir-akhir ini disorot lantaran mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari debiturnya yang menuntut PKPU.

Namun, berbeda dibanding WSKT, saham WIKA masih ada harapan. Sejumlah sekuritas masih menilai positif prospek saham perseroan. Dari total 12 sekuritas yang memantau saham WIKA, sebanyak lima sekuritas merekomendasikan beli.


 

4. Ekonomi Global Merayap Hingga 2030, Masa Suram Masih Panjang

Masa suram perekonomian global diprediksi akan berlangsung dalam waktu yang panjang. Bank Dunia memprediksi kecepatan pertumbuhan ekonomi global turun ke posisi terendah dalam tiga dasawarsa terakhir.

Dalam laporannya, Bank Dunia memproyeksikan antara tahun 2022 dan 2030 rata-rata potensi pertumbuhan PDB global hanya mencapai 2,2 persen per tahun. Angka tersebut mencerminkan penurunan sekitar sepertiga dari capaian pada dekade pertama abad ini.

Penurunan proyeksi Bank Dunia yang muram disandarkan pada kemungkinan risiko ekonomi seperti tenaga kerja global yang menua dan investasi sektor swasta yang menurun.  

Laporan Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan investasi di emerging market dan  negara ekonomi berkembang (EMDEs) akan mengalami peningkatan. Namun, angkanya di bawah tingkat rata-rata selama dua dekade terakhir hingga jangka menengah.

Prospek yang lemah tersebut sejalan dengan pertumbuhan investasi yang tersebar luas secara geografis selama satu decade pelambatan sebelum pandemi Covid-19.


 

5. Babak Baru Indonesia Kembangkan Nuklir untuk PLTN

Komitmen pemerintah untuk mendorong pemanfaatan seluruh potensi energi yang lebih ramah lingkungan termasuk nuklir kian kuat, demi mencapai target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025.

Kendati tenaga nuklir akan masuk dalam sistem pembangkitan mulai 2039 sesuai dengan peta jalan transisi energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mempertimbangkan untuk mempercepat komersial Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) skala kecil.

Sebagai langkah awal, PT ThorCon Power Indonesia (PT TPI) secara resmi telah mengajukan sejumlah dokumen rencana pengembangan dan investasi Thorium Molten Salt Reactor (TMSR) dengan daya 500 megawatt (MW) kepada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Selasa (28/3/2023).

Pengajuan dokumen rencana pengembangan dan investasi oleh perusahaan pengembang nuklir itu menandakan babak baru pengembangan PLTN di Tanah Air. Dokumen itu menjadi bagian dari konsultasi awal sebelum perizinan resmi dibuat oleh ThorCon senilai Rp17 triliun.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana mengungkapkan bahwa pertimbangan untuk mempercepat komersial PLTN sejalan dengan upaya pemerintah memacu bauran energi bersih dalam sistem kelistrikan nasional.

Hanya saja, imbuhnya, pemerintah masih berpikir untuk tetap mematok tenggat operasi PLTN skala besar dengan kapasitas minimal 1 gigawatt (GW) pada 2039.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Emanuel B. Caesario
Terkini