BI Tahan Suku Bunga Jadi Amunisi BBRI hingga BNGA Pacu Kredit

Bisnis.com,20 Apr 2023, 13:33 WIB
Penulis: Fahmi Ahmad Burhan
Ilustrasi suku bunga deposito bank./JIBI-Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 17-18 April 2023 telah memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 5,75 persen.

Lebih lanjut, suku bunga deposit facility tetap di level 5 persen, dan suku bunga lending facility 6,5 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan menahan suku bunga acuan tersebut sebagai langkah lanjutan untuk secara front loaded, pre-emptive, dan forward looking. 

"Bank Indonesia meyakini bahwa BI7DRR sebesar 5,75 persen tersebut memadai untuk mengarahkan inflasi inti tetap berada dalam kisaran 2-4 persen di sisa 2023 dan inflasi Indeks Harga Konsumen [IHK] kembali ke dalam sasaran 2-4 perseen lebih awal dr perkiraan sebelumnya," ujar Perry dalam pengumuman hasil RDG BI pada Selasa (18/4/2023).

Keputusan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen ini menjadi yang ketiga kalinya secara berturut-turut dilakukan BI. Sementara itu, sejak pertengahan tahun lalu, BI terus mengerek suku bunga acuannya hingga ke level saat ini.

Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Aestika Oryza Gunarto mengatakan BRI mengapresiasi kebijakan BI yang mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75 persen. Menurutnya, hal tersebut merupakan upaya BI dalam mengendalikan inflasi serta mitigasi risiko atas dampak ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global.

Dengan buntunya tren kenaikan suku bunga acuan dan tertahannya BI rate di level 5,75 persen, BRI juga optimis laju kredit akan semakin kencang pada tahun ini. "Atas hal tersebut, BRI tetap optimistis dapat menumbuhkan kredit sebesar 10-12 persen yoy [year on year] hingga akhir 2023," ujarnya kepada Bisnis pada Selasa (18/4/2023).

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan juga menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga acuannya sudah tepat. "Ini dilakukan untuk tetap mempertahankan stabilitas terutama agar fasilitas termasuk pinjaman tetap berjalan," katanya.

Ia mengatakan sejak tren peningkatan suku bunga acuan pada pertengahan tahun lalu, terjadi penyesuaian suku bunga kredit di bank walaupun jauh lebih lambat dibandingkan dengan kenaikan biaya dana (cost of fund). Hal ini dikhawatirkan membuat laju kredit terganggu.

"Apabila BI rate tertahan, ini membantu untuk bisa menjaga agar cost of fund tidak terus naik sehinga beban untuk menaikkan bunga kredit menjadi lebih kecil," katanya.

Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) Efdinal Alamsyah mengatakan kebijakan BI dalam mempertahankan suku bunga acuannya menjadi sinyal bahwa prospek perekonomian Indonesia pada saat ini semakin baik. "Selain itu BI juga memperkirakan ekonomi global lebih baik," katanya. 

Ia mengatakan Bank Oke pun akan melakukan kajian ulang terhadap kebijakan suku bunga yang tertahan itu baik jangka pendek dan jangka panjang. "Untuk jangka pendek kami akan mempertahankan suku bunga yang berlaku saat ini, akan tetapi untuk jangka panjang kami mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga," ujarnya.

Sementara, dengan tidak beranjaknya suku bunga acuan BI selama tiga bulan, perseroan optimis kinerja kredit akan moncer. "Kami optimis bahwa proyeksi kinerja 2023 yang telah dituangkan di RBB [rencana bisnis bank] dapat dicapai," ujarnya.

Meski begitu BI melaporkan kredit perbankan pada Maret 2023 tumbuh melambat yakni 9,93 persen yoy dibandingkan Februari 2023 yang tumbuh 10,64 persen yoy. Pada Januari 2023, kredit perbankan juga masih tumbuh dobel digit yakni 10,53 persen yoy.

Sementara itu, pembiayaan syariah tumbuh lebih tinggi mencapai 19,43 persen yoy pada Maret 2023. Pertumbuhan pembiayaan syariah juga melambat jika dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 20,13 persen yoy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Muhammad Khadafi
Terkini