Uang Beredar Melambat pada Maret 2023, Laju Kredit Perbankan Jadi Pemicunya

Bisnis.com,27 Apr 2023, 12:45 WIB
Penulis: Maria Elena
Karyawan keluar dari pintu salah satu gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin, (20/1/2020). Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2023 tercatat sebesar Rp8.293,6 triliun, tumbuh melambat sebesar 6,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dari bulan sebelumnya 7,9 persen yoy.

Berdasarkan faktor yang mempengaruhi, perkembangan M2 pada periode tersebut utamanya dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat.

BI mencatat, penyaluran kredit pada Maret 2023 tumbuh sebesar 9,8 persen yoy, melambat dari bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 10,4 persen yoy.

“Penyaluran kredit pada Maret 2023 tumbuh sebesar 9,8 persen yoy, sejalan dengan pertumbuhan kredit produktif maupun konsumtif,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan resmi, Kamis (27/4/2023).

Pada Maret 2023, kredit investasi dan kredit modal kerja tercatat tumbuh melambat masing-masing menjadi sebesar 10,3 persen yoy dan 10,0 persen yoy, dari bulan sebelumnya 11,8 persen yoy dan 10,2 persen yoy.

Kredit konsumsi pun pada periode yang sama tumbuh melambat menjadi sebesar 9,1 persen yoy, dari bulan sebelumnya yang tumbuh 9,6 persen yoy.

Selain itu, faktor yang juga mempengaruhi perkembangan uang beredar, yaitu tagihan bersih sistem moneter kepada pemerintah pusat yang terkontraksi lebih dalam, sebesar 25,7 persen yoy, dari bulan sebelumnya yang terkontraksi 19,6 persen yoy.

Kontraksi ini didorong oleh kewajiban sistem moneter kepada pemerintah pusat yang tumbuh sebesar 48,7 persen yoy pada Maret 2023, lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 43,8 persen yoy.

Di sisi lain, aktiva luar negeri bersih pada Maret 2023 tumbuh sebesar 9,9 persen yoy, setelah bulan sebelumnya tumbuh 7,0 persen yoy. Peningkatan tersebut seiring dengan posisi cadangan devisa yang meningkat.

Lebih rinci, berdasarkan komponen uang beredar, M1, yang terdiri dari uang kartal di luar bank umum dan BPR, giro rupiah dan tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu, tumbuh melambat menjadi sebesar 4,8 persen yoy pada Maret 2023, setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 6,6 persen yoy.

Giro rupiah tercatat tumbuh 7,8 persen yoy, tumbuh melambat jauh dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 13,6 persen yoy.

Sementara itu, dana float uang elektronik pada Maret 2023 tercatat mencapai Rp10,7 triliun, terkontraksi 4,5 persen yoy, membaik dari kontraksi 20,8 persen pada Februari 2023.

Lebih lanjut, tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu dengan pangsa 47,2 persen terhadap M1, tercatat sebesar Rp2.153,3 triliun pada Maret 2023, tumbuh melambat sebesar 2,7 persen yoy, dari bulan sebelumnya 3,5 persen yoy.

Komponen yang kartal yang beredar di masyarakat tercatat sebesar Rp832,9 triliun atau tumbuh 5,1 persen yoy pada Maret 2023, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 2,2 persen yoy.

Selain itu, uang kuasi dengan pangsa 44,7 persen dari M2, tercatat sebesar Rp3.708,3 triliun pada Marett 2023, melambat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 9,7 persen yoy.

Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro valas yang melambat menjadi sebesar 24,0 persen yoy pada Maret 2023, dari 35,8 persen yoy pada Februari 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Aprianto Cahyo Nugroho
Terkini