Ekspor CPO Melandai, Ini Siasat BNI (BBNI) Pacu Kredit Sektor Agrikultur

Bisnis.com,17 Mei 2023, 11:46 WIB
Penulis: Alifian Asmaaysi
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai ekspor kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) ercatat mengalami penurunan pada kuartal I/2023. Seiring dengan hal tersebut, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mengungkapkan sejumlah strategi yang disiapkan perseroan guna terus memacu ekspansi bisnis pada sektor agrikultur.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor CPO dan turunannya (HS 1511) dari sisi nilai mengalami pelemahan dari US$1,6 miliar pada Maret 2023 menjadi US$1,38 miliar pada April 2023. Pada periode yang sama, volume ekspor juga tercatat turun dari 1,7 juta ton menjadi 1,46 juta ton.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono menjelaskan bahwa ekspor minyak sawit justru mengalami penurunan dari 2,9 juta ton pada Februari menjadi 2,6 juta ton pada bulan Maret. 

Penurunan terbesar terjadi pada produk olahan minyak sawit yang turun dari 2,25 juta ton pada bulan Februari menjadi 1,88 juta ton pada Maret 2023. 

Menanggapi hal tersebut, SVP Head of Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menjelaskan bahwa pihaknya tetap optimis penyaluran kredit ekspor pada sektor agrikultur diperkirakan akan tetap tumbuh positif pada tahun ini. Hingga saat ini, BNI mencatat eksposur kredit pada sektor tersebut mencapai Rp54,6 triliun.

"Sebagai bank milik negara yang memang memiliki mandat sebagai bank global asal Indonesia, kami proaktif mendorong hilirisasi agrikulture termasuk produk CPO agar ekspor memiliki nilai tambah yang lebih baik di pasar global," ujarnya kepada Bisnis, dikutip Rabu (17/5/2023).

Okki melanjutkan seiring ekspor minyak sawit terindikasi melemah, pihaknya terus berkomitmen untuk senantiasa mengamati tren perdagangan luar negeri di tahun ini. 

Sebagaimana diketahui, hingga kuartal I/2023 ekspor minyak sawit terpantau mengalami penurunan di sejumlah wilayah ekspornya. Di antaranya, penurunan ekspor terjadi untuk tujuan China sebesar 242.800 ton, Mesir dan Timur Tengah sebesar 129.400 ton, Bangladesh sebesar 50.500 ton, India sebesar 68.300 ton, Belanda sebesar 54.900 ton.

"Namun, kami optimistis momentum peningkatan ekspor akan terjadi di tahun ini sehingga mendorong pertumbuhan penyaluran kredit ekspor khsusunya di sektor agrikultur," tambah Okki.

Di samping itu, BBNI juga akan terus berupaya untuk memberikan dukungan pada client di sektor agriculture melalui program kredit investasi untuk tumbuh dan berekspansi, khususnya pada project feasible dan bankable dengan tetap mematuhi seluruh regulasi yang ada.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) baru-baru ini kembali memberlakukan pengurangan rasio kuota hak ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mulai 1 Mei 2023.   

Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kemendag Kasan Muhri menyampaikan, penetapan regulasi tersebut dilakukan dalam rangka menjaga kestabilan pasokan kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO), serta memastikan harga minyak goreng di pasar rakyat tetap stabil dan terjangkau.  

Dengan adanya kebijakan tersebut, maka rasio penjualan ke luar negeri dan pemenuhan DMO dipangkas menjadi 1:4. Artinya, produsen hanya bisa melakukan ekspor sebanyak 4 kali dari jumlah pemenuhan pasokan dalam negeri. Padahal sebelumnya, pemerintah sudah pernah memangkas rasio kuota hak ekspor CPO dari 1:8 menjadi 1:6 per 1 Januari 2023. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Feni Freycinetia Fitriani
Terkini