Profil Bank Yama Milik Tutut Soeharto, Disinggung Sri Mulyani soal Piutang Jusuf Hamka

Bisnis.com,13 Jun 2023, 11:35 WIB
Penulis: Arlina Laras
Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut Soeharto saat menghadiri Tasyakuran HUT ke 43 TMII pada 2018. Dok tututsoeharto.id

Bisnis.com, JAKARTA - Langkah pengusaha jalan tol RI Jusuf Hamka yang menagih utang deposito hingga Rp800 miliar miliknya di Bank Yama kepada negara menjadi sorotan publik. Simak profl Bank Yama yang diketahui milik Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut Soeharto

Sebelumnya, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati pun sempat menyebut nama Siti Hardijanti Rukmana dan Bank Yama. Sri Mulyani mengaku tak bisa langsung membayar utang ke Jusuf Hamka lantaran Bank Yama merupakan salah satu obligor yang menerima Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

"Saat ini, Satgas BLBI juga tercatat masih memiliki target penagihan jumbo kepada para obligor BLBI, termasuk pihak-pihak yang terafiliasi dengan Bank Yama milik Siti Hardijanti Rukmana [Tutut Soeharto]," ujarnya saat ditemui awak media di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (12/6/2023). 

Profil Bank Yama

Bisnis coba menelusuri informasi terkait Bank Yama milik Tutut Soeharto. Sayangnya, tidak diketahui pasti kapan berdirinya Bank Yama atau yang juga dikenal dengan nama Bank Yakin Makmur.  

Namun, melansir dari Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016) dilaporkan pada masa Orde Baru, Bank Yama mengalami perkembangan yang dinamis sebelum mengalami masalah yang serius pada 1995. 

Bank Indonesia pada waktu itu memberikan sinyal adanya masalah di Bank Yama dan menyatakan bank tersebut memerlukan bantuan teknis dan manajemen dari bank lain. 

Namun, tidak diungkapkan secara jelas apa masalah yang sedang dihadapi oleh Bank Yama pada saat itu. 

Setelah Soeharto lengser dari kekuasaan, terungkap bahwa Bank Yama telah memberikan pinjaman besar kepada stasiun TV Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) yang juga dimiliki oleh Tutut Soeharto. 

Bank Yama juga memberikan pinjaman besar sebuah perusahaan petrokimia yang melibatkan Bambang Trihatmodjo. Namun, tidak diungkapkan jumlah pasti dari pinjaman tersebut.

Usai terjadi peminjaman tersebut, Bank Yama mengalami masalah yang serius. Bank Indonesia kemudian menunjuk Bank Negara Indonesia (BNI) untuk membantu memperbaiki manajemen dan operasional Bank Yama. Namun, upaya ini tidak berhasil dan Bank Yama terus menghadapi masalah.

Pada bulan Mei 1997, Sudono Salim, seorang pengusaha kaya di Indonesia yang memiliki Indofood dan Bank Central Asia (BCA), diminta untuk turun tangan dalam rangka menstabilkan Bank Yama yang dimiliki oleh Keluarga Cendana (keluarga Soeharto). 

Permintaan ini diduga dilakukan agar Tutut Soeharto, dapat menghindari tindakan tegas dari bank sentral terhadap Bank Yama. Tutut kemudian meminta bantuan BCA untuk membantu Bank Yama.

BCA, yang saat itu dimiliki oleh Sudono Salim dan Tutut dengan porsi 30 persen saham, memberikan dana penyelamatan kepada Bank Yama untuk mencegah bank tersebut ditutup oleh BI. 

Bahkan, kala itu BCA sempat mengambil alih 25 persen saham Bank Yama. Padahal, BCA sendiri sedang menghadapi masalah keuangan yang serius.

Awalnya, upaya penyelamatan yang dilakukan oleh Salim berhasil karena tidak terjadi penarikan dana yang besar oleh nasabah Bank Yama selama masa krisis. 

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan memburuknya krisis, upaya tersebut tidak berhasil. Dana yang disuntikkan oleh BCA seolah hanya digunakan untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang ada di Bank Yama.

Bank Yama Akhirnya Ditutup

Berdasarkan Kota dan Jejak Aktivitas Peradaban (2019), krisis ekonomi yang menghebat tentu saja sangat berpengaruh pada kondisi keuangan dan perbankan Indonesia. 

Gejala terjadinya krisis ekonomi 1998 sudah mulai dirasakan oleh perbankan Indonesia sejak awal 1997, yaitu dengan  mula macetnya kredit yang telah dikuncurkan oleh perbankan yang jumlahnya tidak sedikit.

Dengan kondisi perekonomian yang makin berat, membuat semua bank di Indonesia mulai berbenah. Kalangan swasta bahkan mendorong agar bank-bank swasta mengikuti jejak pemerintah untuk saling bergabung antar bank. 

Salah satu tokoh bisnis yang saat itu mengusulkan agar bank swasta yang kurang sehat untuk segera merger adalah Sudikatmoni, pemilik Bank Surya dan Bank Subentra.

Kala itu, Indonesi menghadapi peralihan kepemimpinan nasional, dimana BJ Habibie lengser kemudian digantikan oleh Abdurahman Wahid. Kondisi itu membuat pemerintah pada 13 Maret 1999 memutuskan untuk menutup 38 bank swasta nasional yang dianggap berkinerja buruk

Adapun, Bank Yama (Yakin Makmur) milik Tutut menjadi satu dari 17 bank kategori C yang ditutup oleh pemerintah. 

Jadi, tak heran apabila Bank Yama terdengar asing di telinga orang masa kini. Pasalnya, Bank Yama sudah tutup sejak lebih dari 20 tahun silam karena terdampak likuidasi imbas krisis moneter 1997/1998.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Feni Freycinetia Fitriani
Terkini