Luncurkan Luna-25, Rusia Berambisi Tinggal di Bulan

Bisnis.com,12 Agt 2023, 08:34 WIB
Penulis: Rendi Mahendra
Pendorong roket Soyuz-2.1b dengan tingkat atas Fregat dan pesawat luar angkasa pendaratan bulan Luna-25 meluncur dari landasan peluncuran di Kosmodrom Vostochny di wilayah timur jauh Amur, Rusia, gambar dari video yang diambil pada 11 Agustus 2023. Roscosmos/Handout via REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA - Badan antariksa negara Rusia Roscosmos meluncurkan ekspedisi bulan pertamanya dalam 50 tahun pada Jumat 11 Agustus.

Bahkan Roscosmos  denganberambisi Misi Luna-25 menjajaki kemungkinan bisa tinggal lama di bulan.

"Rusia tidak hanya kembali ke Bulan, tetapi mengambil langkah untuk tinggal di sana dalam waktu yang lama," tulis Roscosmos dalam pernyataan bersama dengan kantor berita negara Rusia TASS.

Misi Luna-25 tak berawak bertujuan ke bulan bagian kutub selatan, yang diyakini para ilmuwan dapat berisi air, meningkatkan kemungkinan koloni manusia di bulan di masa depan.

Namun menurut para analis, menganggap tujuan Rusia meluncurkan Luna-25 lebih politis daripada ilmiah.

"Luna-25 saat ini memainkan peran psikologis dan propaganda bagi Kremlin. Perlu untuk menunjukkan bahwa ia mampu melakukan sesuatu bahkan tanpa barat," kata Pavel Luzin, pakar industri kedirgantaraan Rusia, kepada Guardian.

Sanksi internasional setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina telah merugikan program luar angkasa Moskow. Luna-25 menawarkan kesempatan untuk merebut kembali kejayaan yang hilang saat isolasi Rusia semakin dalam.

Waktu peluncuran juga menunjukkan harapan Rusia untuk membuktikan dirinya dalam perlombaan kompetitif.

Pada bulan Juli, India meluncurkan Chandrayaan-3, misi lain ke kutub selatan bulan yang sebelumnya belum dijelajahi.

Sementara  peluncuran kedua dijadwalkan pada akhir Agustus, Roscosmos mengatakan bahwa "jika berhasil", Luna-25 akan menjadikan Rusia negara "pertama" yang mendarat di bulan bagian kutub selatan.

"Ada cukup ruang untuk semua orang di bulan," kata Roscosmos dalam pernyataan yang dipublikasikan Reuters.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Rendi Mahendra
Terkini