IHSG Dibuka Melemah, GOTO Labil, BBNI Tersengat Rencana Stock Split

Bisnis.com,14 Agt 2023, 09:30 WIB
Penulis: Iim Fathimah Timorria
Pegawai beraktivitas di dekat layar yang menampilkan data saham di PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (2/8/2023). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada pembukaan perdagangan Senin (14/8/2023) ke 6.878,84 di tengah sentimen rilis neraca dagang dan sinyal perlambatan ekonomi China.

IHSG melemah 0,02 persen sesaat setelah pembukaan dan sempat menyentuh level tertinggi 6.885,55 dan terendah 6.876,49. Sampai pukul 09.01 WIB, sebanyak 102 emiten mengawali perdagangan di zona hijau, 41 emiten melemah, dan 170 lainnya masih berada di harga yang sama dengan penutupan sesi perdagangan sebelumnya.

Indeks-indeks sektoral dibuka fluktuatif. Namun sektor energi dan industri dasar kompak naik 0,21 persen pada awal perdagangan. Kemudian sektor teknologi menguat 0,35 persen dan infrastruktur naik 0,18 persen.

Di sisi lain, sektor konsumer cyclical melemah 0,28 persen. Begitu pula konsumer noncyclical yang terkoreksi 0,10 persen awal perdagangan.

Dari saham-saham berkapitalisasi besar, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) memimpin kenaikan dengan apresiasi 1,10 persen ke harga Rp92 per saham. Namun saham GOTO juga bergerak fluktuatif dan menghampiri zona merah pada 09.30 WIB. 

Kemudian saham BBNI dan BBRI menyusul dengan kenaikan 0,82 persen dan 0,44 persen. Saham BBNI yang naik menyusul rencana perseroan untuk melakukan pemecahan saham dengan rasio 1:2. 

Mayoritas saham berkapitalisasi jumbo melemah awal perdagangan. Emiten batu bara Low Tuck Kwong PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) memimpin pelemahan dengan koreksi 2,54 persen. Kemudian BBCA melemah 0,80 persen dan ICBP turun 0,65 persen.

Phintraco Sekuritas dalam risetnya memperkirakan IHSG kembali konsolidasi di area 6.830–6.900. Hal ini terindikasi dari Stochastic RSI dan MACD yang masih cenderung bergerak sideways.

Pekan ini, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data neraca perdagangan Indonesia (NPI) untuk Juli 2023. Serta, ekspor dan impor yang diperkirakan terkontraksi sebesar 17,75 persen secara tahunan dan 15,45 persen yoy di Juli 2023. Hal ini sejalan dengan kondisi perlambatan ekonomi, terutama China yang mengalami deflasi di Juli 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Farid Firdaus
Terkini