Eks Bos OJK Ungkap Peluang dan Tantangan Digitalisasi Keuangan RI

Bisnis.com,21 Agt 2023, 15:58 WIB
Penulis: Fahmi Ahmad Burhan
Ilustrasi perbankan digital atau digital banking/Freepik

Bisnis.com, JAKARTA -- Komisaris Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI (BRIS) Muliaman D. Hadad yang pernah menjadi Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2013-2017 mengungkapkan sejumlah peluang dan tantangan di tengah pesatnya digitalisasi keuangan

Dia mengatakan digitalisasi keuangan tumbuh pesat ditopang oleh berkembangnya berbagai teknologi baru yang diterapkan pada layanan keuangan, baik pembayaran, kredit, hingga simpanan. 

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), nilai transaksi digital pun berkembang pesat. Pada Juni 2023, nilai transaksi digital mencapai Rp13.827 triliun, tumbuh 11,6 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pada uang elektronik, nilai transaksinya pada kuartal II/2023 juga meningkat 14,82 persen yoy menjadi Rp111,35 triliun. 

Kemudian, nominal transaksi QRIS tumbuh 104,64 persen atau dua kali lipat yoy sehingga mencapai Rp49,65 triliun. Jumlah pengguna QRIS sendiri mencapai 37 juta dan jumlah merchant 26,7 juta yang sebagian besar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dari perkembangan pesat digitalisasi keuangan itu, terdapat sejumlah peluang yang bisa diraup. "Opportunity yang bisa diperoleh dari digital financial ini yang pertama adalah financial inclusion. Ini penting karena dengan dukungan teknologi dan infrastruktur yang memadai, layanan keuangan mampu reaching out underserved population," kata Muliaman dalam webinar Road To BIFA 2023, Layanan Finansial Digital: Antara Kemudahan dan Ancaman pada Senin (21/8/2023).

Peluang lainnya adalah efisiensi biaya, adanya kenyamanan dan aksesibilitas, serta peningkatan pengalaman customer. Selain itu, terdapat berbagai inovasi dan pengembangan produk, data driven insight, hingga peluang kerja sama dengan berbagai ekosistem. 

Akan tetapi, dari sejumlah peluang itu, digitalisasi keuangan mengundang berbagai tantangan. Misalnya, terdapat tantangan kesenjangan digital.

Kemudian, tantangan keamanan siber. "Adanya data bocor, pencurian data, transaksi ilegal, termasuk cyber attack. Ini tantangan bagi siapapun dan sangat terekspos," ujar Muliaman.

Tantangan lainnya adalah customer trust. "Sebab, tidak bisa tutup mata banyak yang skeptis akan keamanan. Banyak berita negatif, terkait digitalisasi dan jadi skeptikal," ungkapnya.

Selain itu, terdapat tantangan keseimbangan regulasi dalam menyikapi digitalisasi keuangan serta muncul tantangan literasi digital yang masih rendah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini