OJK Buka Suara soal Pelepasan Kepemilikan Saham BRI dan BNI di BSI

Bisnis.com,05 Sep 2023, 14:05 WIB
Penulis: Fahmi Ahmad Burhan
Gedung berlogo Bank Syariah Indonesia yang berada di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (31/1/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) direncanakan akan melepas kepemilikan sahamnya di PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI (BRIS). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun angkat suara soal rencana aksi korporasi ini.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan aksi korporasi seperti lepas kepemilikan saham merupakan hal yang biasa terjadi. Namun, dia menilai BSI sebagai bank syariah besar yang menjadi percontohan mesti mempunyai pertimbangan tertentu dalam setiap aksi korporasinya. 

"Akan tetapi kami belum menerima informasi [aksi korporasi] apapun baik dari pemegang saham dan banknya sendiri," kata Dian dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK pada Selasa (5/9/2023). 

Pihaknya pun akan meneliti terlebih dahulu terkait kabar lepas kepemilikan dua bank BUMN itu di BRIS.

Sebagaimana diketahui, kepemilikan saham BRI dan BNI akan lepas sebagai upaya untuk memperbesar kepemilikan saham publik atau free float di BSI. "Oleh Kementerian BUMN tahun ini diputuskan bahwa mungkin saham BRI bisa divestasi," ujar Direktur Utama BSI Hery Gunardi dalam acara Ngobrol Pagi Seputar BUMN pada Juni lalu (22/6/2023) di Jakarta.

BNI saat ini masih mempunyai porsi kepemilikan saham 23,2 persen di BSI dan BRI mempunyai 15,38 persen. Sementara, BSI saat ini dikuasai oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan porsi kepemilikan 51,47 persen. Ke depan Bank Mandiri masih akan tetap sebagai pemegang saham pengendali bank syariah tersebut.

Sementara, lepasnya kepemilikan saham BRI dan BNI di BSI kemudian akan memberi jalan masuknya investor strategis baru di BSI. "Tujuannya memang untuk cari strategic investor yang matching dengan BSI," ujar Hery.

Dia berharap investor strategis baru nantinya bisa memberi nilai lebih terhadap bisnis bank. Hery memberi contoh, apabila investor strategis berasal dari Arab Saudi, maka investor tersebut mampu memberikan akses ke pasar keuangan yang lebih luas bagi BSI di Arab Saudi.

"Urusan haji di Arab Saudi kan membutuhkan akses bank di sana. Sekarang kami tidak mudah touch market Saudi. Maka, ini jadi peran pemegang saham cari strategic partner yang tepat," tutur Hery.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini