Hasil RDK OJK: Sektor Keuangan RI Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Bisnis.com,05 Sep 2023, 11:00 WIB
Penulis: Annisa Sulistyo Rini
Logo Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Bisnis.com, JAKARTA - Rapat Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dilaksanakan pada 30 Agustus 2023 menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan Tanah Air terus terjaga dan resilien.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan hal tersebut ditunjukkan oleh beberapa indikator prudensial, seperti permodalan dan likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang terjaga di tengah peningkatan ketidakpastian ekonomi global.

"Ekonomi dalam negeri tumbuh positif pada kuartal II/2023 sebesar 5,17 persen yoy, naik dari kuartal sebelumnya sebesar 5,04 persen yoy, didorong konsumsi rumah tangga dan investasi yang baik," ujarnya dalam Konferensi Pers Hasil RDK OJK Agustus 2023, Selasa (5/9/2023).

Kendati demikian, Mahendra menambahkan, perlu dicermati kecendurungan pelemahan indikator optimisme konsumen, tren penurunan inflasi inti, dan pelemahan harga komoditas yang menekan kinerja eksternal Indonesia.

Selain itu, perlu juga diperhatikan dinamika perekonomian yang mendorong pelemahan pasar keuangan global, baik di pasar saham, surat utang, maupun nilai tukar yang disertai peningkatan volatilitas pasar dan outflow dari mayoritas keuangan emerging market, termasuk Indonesia.

Dari sisi pasar modal, per 31 Agustus 2023 terdapat penguatan dibandingkan bulan sebelumnya. IHSG tercatat pada level 6953,26 atau naik 1,50 persen year to date (ytd). Sementara, pada Juli 2023 kenaikan tercatat sebesar 1,18 persen ytd.

Sektor perbankan juga menunjukkan ketahanan dengan fungsi intermediasi yang tetap kuat. Pertumbuhan penyaluran kredit pada Juli 2023 sebesar 8,54 persen yoy menjadi senilai Rp6.686 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 7,76 persen yoy.

Himpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan per Juli 2023 tumbuh 6,62 persen yoy menjadi Rp8.064 triliun. Pertumbuhan ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan Juni 2023 yang sebesar 5,79 persen yoy.

Kualitas penyaluran kredit perbankan masih berada di bawah threshold, yaitu NPL net sebesar 0,77 persen dan NPL gross sebesar 2,51 persen.

Dari sisi lembaga keuangan nonbank, premi asuransi tercatat senilai Rp177,13 triliun per Juli 2023, terkontraksi 2,34 persen yoy. Jika dirinci, premi asuransi jiwa turun sebesar 7,85 persen menjadi Rp102,12 triliun yang didorong oleh normalisasi premi PAYDI.

Sementara, premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh 6,30 persen yoy menjadi Rp75,02 triliun. Walaupun terdapat kontraksi pada pendapatan premi, permodalan asuransi terjaga, dengan tingkat RBC asuransi jiwa sebesar 460,32 persen dan asuransi umum sebesar 311,53 persen. 

Perusahaan pembiayaan juga mencatatkan peningkatan piutang pembiayaan sebesar 16,22 persen menjadi Rp447,03 triliun per Juli 2023 dengan profil risiko terjaga, yaitu rasio pembiayaan bermasalah (NPF) sebesar 2,69 persen dan gearing ratio sebesar 2,24 kali.

Sementara, outstanding pembiayaan P2P lending naik 22,41 persen yoy menjadi Rp55,98 triliun pada periode yang sama, dengan TWP 90 sedikit meningkat dari 3,29 persen ke 3,47 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini