Rupiah Berpotensi Terus Tertekan, Was-was Keputusan The Fed

Bisnis.com,04 Okt 2023, 16:15 WIB
Penulis: Annasa Rizki Kamalina
Karyawati menghitung mata uang Dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Senin (14/8/2023). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA – Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) Andry Asmoro melihat potensi rupiah akan terus tertekan sepanjang bulan ini, setidaknya hingga pengumuman The Fed pada Federal Open Market Committee (FOMC) 1 November 2023.  

Pada pertemuan tersebut, nantinya akan diputuskan naik atau tidaknya fed funds rate (FFR), di mana The Fed diproyeksikan masih akan mengerek sekali lagi suku bunganya tersebut. 

“Kalau masih dinaikkan dan masih hawkish, pressure-nya ke mata uang lokal akan tetap besar,” katanya kepada Bisnis, Rabu (4/10/2023). 

Mengacu pada catatan Bisnis hari ini, per pukul 15.06 WIB, rupiah tercatat turun 54 poin atau 0,35 persen Rp15.634 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS terkoreksi 0,02 persen ke level 10,976. 

Melemahnya rupiah tersebut seiring dengan ekspektasi market akan naiknya FFR pada November mendatang. 

Adapun, dengan adanya ekspektasi FFR naik, cenderung mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Asmo, panggilan akrabnya, mengatakan hal tersebut akan mendorong implikasi di dalam negeri, salah satunya menekan kinerja impor Tanah Air.  

“Implikasinya impor semakin mahal, cost of borrowing dan bond yield meningkat,” lanjutnya.  

Meski Bank Indonesia (BI) telah melakukan sederet kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah, namun tekanan terhadap capital outflows akan besar dengan kondisi seperti ini. 

“Saya rasa BI sudah melakukan intervensi juga di pasar valas, namun memang pressure capital outflows masih besar saat ini,” tuturnya. 

Meski demikian, setidaknya dengan sejumlah kebijakan tersebut Asmo melihat bank sentral memiliki tambahan amunisi untuk intervensi pasar valas. 

BI setidaknya terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi di pasar valas, meningkatkan efektivitas implementasi instrumen penempatan valas Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) dan melanjutkan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Pada kesempatan yang berbeda, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRR) di level 5,75 persen masih cukup dalam menjaga stabilitas saat ini.  

“Kita nggak mainin suku bunga sejak Januari. Sejauh ini kita naikkan 225 bps, ini kami pandang cukup untuk menjaga stabilitas saat ini di inflasi kita tapi di satu sisi cukup untuk mendorong kredit masih bisa tumbuh,” katanya dalam Seminar Nasional dengan tema Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) di Jakarta, Senin (4/10/2023)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Feni Freycinetia Fitriani
Terkini