BI Siapkan 2 Instrumen Baru demi Tarik Modal Asing Masuk RI

Bisnis.com,19 Okt 2023, 18:10 WIB
Penulis: Maria Elena
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam wawancara bersama Blooomberg Television di London, Inggris pada Jumat (6/10/20230). - Bloomberg/Betty Laura Zapata

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) akan menerbitkan instrumen baru untuk mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia di tengah risiko global yang meningkat.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa BI akan menerbitkan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) sebagai instrumen moneter yang pro-market untuk pendalaman pasar uang.

“Juga mendukung upaya menarik portofolio inflows, dengan mengoptimalkan aset surat berharga dalam valuta asing yang dimiliki Bank Indonesia sebagai underlying,” katanya dalam Konferensi Pers, Kamis (19/10/2023).

Kedua instrumen tersebut, yaitu SVBI dan SUVBI, akan mulai diimplementasikan pada 21 November 2023. SVBI akan diterbitkan pada tenor 1, 3, 6, 9, 12 bulan, sedangkan SUVBI akan diterbitkan dengan tenor 1, 3, dan 6 bulan dengan settlement T+2.

Selain itu, Perry mengatakan BI juga akan menyiapkan instrumen derivatifnya, yaitu interest rate swap, serta memperdalam foreign exchange swap sehingga investor memiliki alternatif untuk instrumen likuiditas jangka pendek. 

Lebih lanjut, untuk mendukung stabilitas rupiah, BI akan melakukan penguatan strategi operasi moneter, termasuk optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai instrumen moneter yang pro-market.

Intervensi di pasar valas pun tetap dilanjutkan pada transaksi spot, Domestik Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Untuk diketahui, BI pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%. 

Kenaikan ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya ketidakpastian global, serta sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor.

BI mencatat nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 1,03% (ytd), sebagai imbas dari dolar Amerika Serikat (AS) sehingga menyebabkan tekanan pelemahan berbagai mata uang negara lain, termasuk rupiah.

“Sangat kuatnya dolar AS ini memberikan tekanan depresiasi mata uang hampir seluruh mata uang dunia,” kata Perry.

Pelemahan juga terjadi pada yen Jepang, dolar Australia, dan euro yang melemah masing-masing 12,44%, 6,61% dan 1,40% ytd, serta depresiasi mata uang kawasan, seperti  ringgit Malaysia, baht Thailand, dan peso Filipina masing-masing 7,23%, 4,64% dan 1,73% ytd. 

Dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, Perry menambahkan bahwa BI akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian imported inflation.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Feni Freycinetia Fitriani
Terkini