Kinerja Saham OCBC NISP hingga BTN di Tengah Kabar Konsolidasi

Bisnis.com,18 Nov 2023, 12:46 WIB
Penulis: Fahmi Ahmad Burhan
Petugas berbincang dengan nasabah di kantor cabang PT Bank OCBC NISP Tbk di Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Aksi konsolidasi perbankan kian menggeliat akhir tahun ini. Di tengah kabar akuisisi dan merger itu, bagaimana kinerja sahamnya?

Salah satu bank yang akan menjalankan aksi konsolidasi adalah PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP). Emiten portofolio Lo Kheng Hong ini akan mengakuisisi kepemilikan Commonwealth Bank of Australia (CBA) di PT Bank Commonwealth.

OCBC Indonesia telah melakukan penandatanganan sale and purchase agreement (SPA) dengan CBA untuk membeli 99% saham di Bank Commonwealth. Estimasi dari nilai rencana transaksi akuisisi adalah Rp2,2 triliun. Nilai tersebut akan bergantung pada penyesuaian yang wajar sesuai dengan ketentuan di dalam perjanjian. 

OCBC Indonesia juga bermaksud untuk mengakuisisi sisa 1% saham Bank Commonwealth dari pemegang saham lainnya. Rencana akuisisi ini akan memerlukan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dan pemenuhan kondisi lainnya.

Setelah akuisisi selesai, Bank Commonwealth kemudian akan diintegrasikan ke dalam OCBC Indonesia.

“Rencana akusisi ditujukan untuk memperkuat dan melengkapi kapabilitas OCBC Indonesia dalam memberikan layanan keuangan yang komprehensif baik untuk segmen konsumen dan UMKM," kata Presiden Direktur, OCBC Indonesia Parwati Surjaudaja dalam keterangan tertulis pada beberapa waktu lalu.

Kabar akuisisi juga datang dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN). Anggota himpunan bank milik negara (Himbara) ini dikabarkan berencana mengakuisisi bank syariah pertama di Indonesia, yakni PT Bank Muamalat Tbk.

Corporate Secretary BTN Ramon Armando mengatakan terkait kabar akuisisi kepada Bank Muamalat, dalam 12 bulan mendatang BTN memang memiliki beberapa rencana aksi korporasi, salah satunya melakukan spin off unit usaha syariah (UUS) menjadi bank umum syariah (BUS). Di antara opsi skema spin off itu, BTN akan melakukan akuisisi bank syariah yang sudah ada, seperti Bank Muamalat. 

"Perseroan sedang melakukan penjajakan dengan beberapa bank syariah yang ada dan terus berkomunikasi untuk mendapatkan penawaran terbaik," jawab Ramon di keterbukaan informasi pada Senin (13/11/2023).

Selain itu, dua bank milik konglomerat yakni PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) milik Hary Tanoesoedibjo dengan PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) milik James Riady telah merencanakan merger. OJK melaporkan merger kedua bank milik konglomerat itu masih dalam progres. 

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan merger kedua bank itu menjadi point of no return alias harga mati dalam konsolidasi perbankan Tanah Air. 

Intip Kinerja Saham

Di tengah rencana konsolidasi, emiten-emiten bank ini rata-rata berkinerja baik. NISP misalnya pada saat kabar akuisisi mencuat atau Kamis (16/11/2023), harga sahamnya naik 5,88% menjadi Rp1.170. Meskipun, keesokan harinya atau Jumat (17/11/2023) harga saham NISP ditutup turun 2,56% ke level Rp1.140.

Dalam sepekan, harga saham NISP naik 5,56%. Sementara sepanjang tahun berjalan hingga Jumat (16/11/2023), harga saham NISP naik 53,02% year to date (ytd).

Adapun BBTN mencatatkan kenaikan harga saham 3,61% pada penutupan perdagangan Jumat (17/11/2023) dan terparkir di level Rp1.290. Dalam sepekan harga saham BBTN naik 6,17%. Namun, harga saham BBTN masih turun 4,44% ytd.

NOBU dan BABP telah dikabarkan merger sejak awal tahun ini. Namun, nasib harga saham kedua bank berbeda. NOBU mencatatkan kenaikan harga saham 37,27% ytd ke level Rp755. Sementara harga saham BABP turun 38,61% ytd ke level Rp62.

Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengatakan aksi korporasi seperti merger dan akuisisi memang akan menjadi sentimen positif bagi emiten. Namun, sentimen tersebut akan terbatas dampaknya di jangka pendek.

Terdapat faktor lain yang menjadi pendorong kenaikan atau turunnya kinerja saham bank, yakni fundamental. Ia menilai kinerja saham seperti BABP lesu karena overvalued dan tertekan karena kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

"Seharusnya merger ini bisa menjadi dorongan atau penopang untuk recovery atau kenaikan harga emiten seperti BABP, tapi nyatanya [kabar merger] tidak ada pengaruhnya," kata Arjun kepada Bisnis pada Rabu (15/11/2023).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Aprianto Cahyo Nugroho
Terkini