Hasil RDG BI Hari Ini, Konsensus Ekonom Proyeksi Suku Bunga Acuan Tetap 6%

Bisnis.com,23 Nov 2023, 09:00 WIB
Penulis: Annasa Rizki Kamalina & Maria Elena
Gedung Bank Indonesia./ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA –  Konsensus ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Kamis (23/11/2023). 

Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg, Sebanyak 25 dari 31 ekonom yang disurvei memprediksi BI akan mempertahankan suku bunga acuan di 6%. Hasil RDG akan diumumkan Gubernur BI Perry Warjiyo hari ini pukul 14.00 WIB. 

Sementara itu, sisanya memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 6,25%, level tertinggi sejak tahun 2016.

Proyeksi ini sejalan dengan spekulasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve telah mencapai akhir dari siklus pengetatan moneter. Hal ini mengurangi tekanan pada bank sentral yang berupaya menopang nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Meskipun begitu, penguatan rupiah baru-baru ini diperkirakan tidak cukup untuk meyakinkan BI untuk menghentikan kenaikan suku bunga sepenuhnya.

Pada perdagangan Rabu (21/11/2023), rupiah ditutup melemah 0,87% atau 135 poin ke level Rp15.575 per dolar AS. Rupiah masih menguat sekitar 2% secara sejak awal bulan November 2023.

Ekonom Barclays Bank Plc Brian Tan mengatakan dengan rupiah yang telah menguat sejak kenaikan suku bunga BI bulan lalu, dirinya ragu ada kebutuhan mendesak untuk pengetatan lebih lanjut.

”Kemungkinan besar suku bunga naik 25 basis poin pada kuartal I/2024 jika the Fed kembali melakukan pengetatan,” tulisnya dalam riset, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (23/11/2023).

Sementra itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David E Sumual menyampaikan suku bunga tersebut perlu untuk ditahan setelah sebelumnya naik dari 5,75%. 

Meski demikian, David melihat masih ada peluang BI untuk menaikkan suku bunga di tengah situasi global, utamanya inflasi AS yang masih membuka kemungkinan untuk The Fed semakin memperketat kebijakannya. 

“Tetap prediksinya [6%]. Ke depan, masih ada ruang untuk naik lagi terutama tergantung perkembangan eksternal, terutama fed fund rate,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (22/11/2023). 

Pasalnya, inflasi AS masih menjadi permasalahan bagi Ketua The Fed Jerome Powell dan membuat dirinya lebih hati-hati dalam mengambil kebijakan suku bunga. 

Para pejabat The Fed pun mengaku tidak mungkin menaikkan suku bunga lebih lanjut, namun inflasi tetap jauh di atas target 2% bank sentral. 

Per Oktober 2023, meski inflasi AS telah turun ke level 3,2% year-on-year (yoy) dari September 2023 yang sebesar 3,7% (yoy), masih tercatat jauh di atas ekspektasi.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 6%.

Josua mengatakan bahwa keputusan tersebut akan mempertimbangkan perkembangan defisit neraca transaksi berjalan dan neraca finansial yang membaik pada kuartal III/2023.

“Dengan mempertimbangkan pemangkasan defisit transaksi berjalan pada kuartal III/2023 dan penurunan defisit neraca transaksi finansial, kami memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 6,00% pada RDG BI berikutnya,” katanya kepada Bisnis, Selasa (21/11/2023).

Josua menjelaskan defisit yang lebih rendah berpotensi memberikan indikasi volatilitas nilai tukar rupiah yang cenderung menurun. 

Selain itu, karena arus masuk asing setelah indikator ekonomi Amerika Serikat membaik, rupiah cenderung terapresiasi dalam 2 minggu terakhir. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Aprianto Cahyo Nugroho
Terkini