Rapor Hijau Kinerja Industri Perbankan Indonesia sepanjang 2023 dari OJK

Bisnis.com,22 Des 2023, 19:20 WIB
Penulis: Fahmi Ahmad Burhan
Ilustrasi bank. /Freepik

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kinerja industri perbankan Tanah Air moncer di tengah berbagai tantangan seperti ketidakpastian global hingga tren suku bunga tinggi pada 2023.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan setidaknya hingga kuartal III/2023, indikator ekonomi global masih menunjukan ketidakpastian pergerakan ekonomi di tengah membaiknya tingkat inflasi menuju level pra pandemi khususnya pada negara advanced economies.

Ditambah, fenomena suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama atau higher for longer masih berlaku. Namun, menurutnya industri perbankan masih berkinerja moncer pada 2023.

"Di tengah kondisi ini, pertumbuhan kredit perbankan lumayan. Kita juga masih optimistis pertumbuhan kredit dobel digit tercapai pada Desember 2023," kata Dian dalam sesi wawancara khusus pada Jumat (22/12/2023).

Berdasarkan data OJK, hingga Oktober 2023 fungsi intermediasi tumbuh optimal dengan pertumbuhan kredit tercatat 8,99% secara tahunan (year on year/yoy). Berdasarkan tujuan pemberian kredit, diketahui bahwa kredit investasi tumbuh 10,22% yoy, kredit modal kerja tumbuh 8,10% yoy dan kredit konsumsi tumbuh 9,28% yoy.

Sektor ekonomi utama pendorong pertumbuhan kredit adalah pertambangan yang tumbuh 15,23% yoy, transportasi yang tumbuh 14,30% yoy, pertanian yang tumbuh 8,62% yoy, dan perdagangan yang tumbuh 5,70% yoy.

Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 3,43% yoy ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 6,01%. Sejumlah indikator kinerja perbankan lainnya pun menunjukkan posisi aman.

"Rasio-rasio perbankan terkait dengan masalah NPL [nonperforming loan/kredit bermasalah] dan lainnya menunjukan semuanya hampir membaik. CAR [capital adequacy ratio/rasio kecukupan modal] kita tinggi," katanya.

Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL net perbankan sebesar 0,77% dan NPL gross sebesar 2,42%. Adapun, CAR telah mencapai 27,48% pada Oktober 2023.

Menurut Dian, kondisi likuiditas perbankan pun masih ample, di mana rasio alat likuid per DPK (AL/DPK) mencapai level 26,36% di atas ambang batas 10%.

Sementara itu, berdasarkan Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulanan dari OJK, indeks orientasi bisnis perbankan berada di level 62 atau zona optimis. Responden dari perbankan memperkirakan kinerja perbankan akan tetap terjaga pada kuartal IV/2023.

Optimisme kinerja perbankan itu didorong oleh ekspektasi bahwa penyaluran kredit masih akan cukup baik sehingga berdampak pada peningkatan laba dan modal perbankan.

"Ini menunjukan perbankan kita pada 2023 resilien dan daya tahannya bagus. Kita bisa lepas dari masalah global, misalnya krisis perbankan di AS yang merembet ke Swiss," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pada awal tahun ini, gangguan stabilitas sistem keuangan global sempat dikhawatirkan terjadi imbas bangkrutnya sejumlah bank di AS.

Bank regional AS First Republic Bank misalnya mengalami gejolak pada simpanan nasabahnya yang anjlok lebih dari US$100 miliar setara Rp1.492 triliun pada kuartal I/2023 sebelum diambil alih oleh JPMorgan Chase & Co.

Silicon Valley Bank (SVB) di AS dilaporkan bangkrut usai gagal mengumpulkan dana tambahan sebesar US$2,25 miliar dalam 48 jam. Regulator bank AS juga telah mengumumkan penutupan Signature Bank.

Tidak hanya di AS, sentimen negatif merembet ke pasar Eropa setelah Credit Suisse mengalami gejolak. Bank Sentral Swiss bahkan memberikan bantuan likuiditas kepada Credit Suisse Group AG setelah sahamnya anjlok.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini