Ini Kata Pakar soal Peta Persaingan Bisnis Paylater di 2024

Bisnis.com,28 Des 2023, 16:49 WIB
Penulis: Arlina Laras
Ilustrasi BCA Paylater vs Livin Paylater Bank Mandiri. Dok Freepik - Feni Freycinetia

Bisnis.com, JAKARTA — Persaingan paylater akan makin memanas, usai dua bank jumbo, yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) telah merilis fitur paylater atau buy now pay later (BNPL) di platform digital mereka di penghujung 2023.

Pasalnya, ke depan pemain dari kalangan perbankan dipastikan bakal makin semarak, usai sejumlah pihak telah memberikan sinyal kuat, di mana mereka tengah memoles fitur paylater agar bisa dirilis pada 2024 seiring dengan transaksi digital yang kian melesat.

Misalnya, PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) yang sudah mengumumkan bakal meluncurkan layanan paylater pada kuartal I/2024. Adapun, dalam tahap awal, layanan ini akan diberikan pada nasabah eksisting BTN yang mencapai 5 juta nasabah.

Lalu, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) yang turut menyatakan kesiapannya untuk meluncurkan fitur paylater di aplikasi OCTO Mobile pada April 2024.  

Tak mau kalah, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) juga mengumumkan rencananya untuk meluncurkan fitur paylater di aplikasi BNI Mobile Banking pada awal 2024.  

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin memprediksi bahwa persaingan paylater bakal makin ketat, karena perbankan akan memanfaatkan digitalisasi untuk menambah pundi-pundi pendapatan. 

“Ini akan menjadi persaingan [paylater] seru tahun depan. Mereka [bank] bisa mendatangkan pendapatan yang signifikan, dengan cara yang paling simple, dan ini menarik ya, tanpa harus menambah ekstra effort dan biaya,” ujarnya pada Bisnis, Kamis (28/12/2023). 

Hal ini pun diamini Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah yang menyebut inovasi paylater adalah sebuah tren yang tidak terelakkan. Bahkan, dirinya menyebut ada satu jurus yang perlu dilakukan bank agar memenangkan persaingan.

“Kalau sudah ngomongin persaingan digital, maka yang penting adalah ekosistem. Mereka yang memenangkan persaingan adalah mereka yang punya ekosistem,” ujarnya saat ditemui di Wisma Bisnis Indonesia, Rabu (27/12/2023).

  Pada saat dihubungi terpisah, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan pun membeberkan besarnya potensi yang bakal dinikmati oleh sejumlah pemain perbankan kala ikut melahap bisnis kue paylater.

Dia menuturkan, saat ini nasabah gen Z di perbankan sudah separuh mendominasi 50% dari total nasabah, yaitu 15 juta hingga 20 juta.

 “Bila target pasar paylater sekitar 10% saja dari nasabah muda yang ada maka potensinya bisa sekitar 1,5 juta sampai dua juta yg dapat menikmati paylater,” tuturnya.

Nyatanya, sinyal baik sudah ditangkap oleh BCA, sebagai pemain awal. Pihaknya menilai animo masyarakat sangat tinggi usai perseroan meluncurkan fitur sejak Oktober 2023.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyebut transaksi paylater terus bertambah dan menunjukkan tren yang positif.

“Kami berharap fitur Paylater BCA dapat bersifat saling melengkapi dengan fasilitas kartu kredit yang sudah lama dikenal masyarakat, sehingga dapat melayani kebutuhan nasabah yang beragam,” katanya pada Bisnis, Kamis (28/12/2023).

Bakal Unggul di Pasaran

Lebih lanjut, pakar meilai layanan paylater yang dibuat perbankan kemungkinan besar dapat unggul di pasaran.

 Pasalnya, paylater yang dikembangkan oleh bank besar, memiliki infrastruktur kuat dan kecukupan modal yang besar alias mapan, untuk melakukan investasi. Sehingga, justru dengan hadirnya paylater, bakal terjadi kenaikan dalam hal efisiensi.

“Jadi, tanpa ketemu customer langsung, diberi link, kemudian customer mengisi, konsepnya sama dengan P2P [peer-to-peer], fintech, ini konsep yang sangat inovatif dan bagus,” ujar Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin

Bahkan, dirinya menyebut jika dilihat dari permodalan, infrastruktur, human capital, strandar operasional, maka bank akan memberikan layanan yang lebih mumpuni dan termitigasi. 

“Karena bagaimananapun paylater adalah konsep pembiayaan, bahkan untuk penanganan risiko, pasti bank lebih mumpuni [dibanding non bank],” ujarnya. 

Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah yang menyiratkan bahwa menurutnya tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan terkait peluncuran fitur paylater bagi perbankan. Apalagi, soal ledakan dari sisi kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL).

“Ini karena semuanya relatif sama. Orang [nasabah] sama. Belanjanya sama. Cuma beda metode pembayaran, misal awal non digital, sekarang digital,” ujarnya saat ditemui di Bisnis Indonesia, Rabu (27/12/2023). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Aprianto Cahyo Nugroho
Terkini