Terus Genjot Transformasi Bisnis, Intip Siasat DBS Indonesia soal Defisit Talenta Digital

Bisnis.com,23 Jan 2024, 18:27 WIB
Penulis: Arlina Laras
Direktur Teknologi & Operasional DBS Indonesia Sujatno Polina menilai ada kesenjangan atau gap antara supply dan demand tenaga kerja dengan keterampilan digital

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank DBS Indonesia memiliki siasat untuk menangani defisit talenta digital, di tengah perubahan kebiasaan bertransaksi masyarakat dan ambisi perseroan untuk terus menyediakan inovasi layanan digital  

Direktur Teknologi & Operasional DBS Indonesia Sujatno Polina menilai ada kesenjangan atau gap antara supply dan demand tenaga kerja dengan keterampilan digital. Padahal,saat ini perbankan terus mengoptimalkan digitalisasi.  

“Karena, masyarakat kita masih takut. Apasih digital itu, enggak keliatan, enggak bisa dirasakan. Sementara teknologi di perbankan tidak butuh suatu ‘barang’, kita butuh teknologi yang melayani customer 24 jam,” ujarnya pada Bisnis dalam Media Briefing, Selasa (23/1/2024).  

Dirinya juga membantah bahwa sulitnya perbankan dalam merekrut talenta digital akibat bersaing dengan perusahaan fintech.

Bahkan, dia berujar perbankan justru lebih membutuhkan tenaga kerja yang sudah siap pakai, khususnya dalam bidang front end dan back end, sementara fintech mungkin lebih fokus pada eksplorasi teknologi baru.

“Kalau fintech itu cenderung coba teknologi yang baru, di mana [SDM] di Indonesia banyak yang belum punya skill itu. Jadi, di fintech itu supply-nya dikit dan demand dikit,” ujarnya. 

Adapun, DBS menjadi perbankan yang sangat mengedepankan digital untuk mencoba semua teknologi baru mulai dari big data, blockchain, cloud computing hingga robotic automation, seiring dengan ekspektasi nasabah yang makin tinggi.

“Semua teknologi ini masih kita kembangkan. Kita ingin sistem kita [DBS] selalu yang canggih dan kita butuh SDM,” ujarnya.  

Sehingga, dengan kondisi tersebut, perseroan pun menghadirkan ‘DBS Foundation Coding Camp’ untuk memberikan kelas coding gratis. Di mana, sebelumnya 'DBS Foundation Coding Camp 2023' berhasil menjangkau puluhan ribu talenta digital serta membekali mereka dengan skill yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan Data Kemnaker 2022 menunjukkan bahwa sumber daya manusia yang dibutuhkan pada sektor TIK di Indonesia pada tahun 2025 diprediksi mencapai hampir dua juta orang. 

Laporan Google, Temasek, dan Bain 2023 menyebut hal ini guna mendukung pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia yang berpotensi akan mencapai US$110 miliar pada tahun 2025 

Lebih lanjut, riset McKinsey mengungkapkan Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital selama periode 2015–2030. 

Jika dihitung secara rata-rata, maka per tahunnya Indonesia butuh 600.000 talenta digital, sedangkan kemampuan perguruan tinggi dalam menyuplai talenta digital setiap tahunnya hanya sekitar 100.000-200.000 orang, yang berarti ada gap sekitar 400.000-500.000 orang. 

Sebanyak 100.000-200.000 tenaga kerja digital yang tersedia itu pun menjadi rebutan perusahaan-perusahaan yang tengah melakukan transformasi digital ataupun yang baru saja mendirikan perusahaan berbasis digital, tidak terkecual industri keuangan seperti perbankan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Novita Sari Simamora
Terkini