Geliat Bank Nasional Buka Cabang Luar Negeri di Tengah Susutnya Kantor Bank Asing

Bisnis.com,07 Feb 2024, 10:30 WIB
Penulis: Arlina Laras
Ilustrasi Bank/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Seiring dengan susutnya kelompok kantor cabang bank luar negeri (KCBLN) atau bank asing di Indonesia, justru sejumlah bank nasional terlihat makin agresif membuka kantor cabang di luar negeri. 

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tercatat jumlah jumlah KCBLN yang beroperasi saat ini hanya 19 unit per November 2023. Angka ini menyusut dari tahun ke tahun.

Pada 2020 jumlah kantor cabang bank asing mencapai 36 unit, lalu selang satu tahun, unit KCBLN ini berkurang sembilan menjadi 27 kantor. Selanjutnya, pada 2022 kantor yang beroperasi berjumlah 23 unit. Adapun, terkait jumlah bank asing, selama empat tahun ke belakang hanya berkurang satu, dari delapan menjadi tujuh bank. 

Sebaliknya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. alias BSI (BRIS) berencana mengembangkan kantor cabang di kawasan baru. 

BNI misalnya yang menyebut terus membuka peluang dari potensi-potensi yang ada, termasuk di negara Australia dan Amerika Serikat. Tercatat, di AS sendiri kantor cabang BNI telah ada di New York.

Direktur Wholesale & International Banking BNI Silvano Rumantir mengatakan lima hal yang menjadi pertimbangan BNI dalam membuka Kantor Luar Negeri (KLN). 

Pertama, mapping perusahaan Indonesia yang melakukan bisnis dan sebaran industri di negara tersebut. Kedua, soal perusahaan negara yang melakukan bisnis di Indonesia.

Ketiga, detail tentang diaspora Indonesia di negara tersebut. Keempat, investasi dari negara tersebut di Indonesia dan hubungan ekspor impor. Kelima, potensi UMKM yang bisa go global ke negara-negara tersebut.  

“Target yang kami harapkan dalam pembentukan KLN baru, tentunya harus harus memberikan value added serta mampu mendorong pertumbuhan bisnis BNI yang sustain,” ucapnya beberapa pekan lalu, Sabtu (27/1/2024)

Sebelumnya, Silvano juga menyebut ada beberapa strategi yang dilakukan oleh BNI untuk meningkatkan kredit KLN di antaranya melakukan akuisisi group usaha, supplier, buyer debitur BNI Kantor Pusat, serta aktif berpartisipasi dalam kredit sindikasi Top Tier.

Hingga kuartal III/2023, KLN BNI telah menyalurkan kredit sebesar Rp21,77 triliun atau tumbuh 10,8% secara tahunan (YoY).

Saat ini, BNI total memiliki tujuh KLN yang tersebar di London, New York, Seoul, Singapura, Tokyo, Hongkong, serta Amsterdam. 

Tak hanya BNI, pemain syariah yakni BSI juga membeberkan rencananya untuk membuka kantor cabang di Arab Saudi. Sebelumnya, BSI telah mendapat persetujuan lisensi lengkap (full license) untuk cabang di Dubai, Uni Emirat Arab  

Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan sebagai bank yang berbasis bisnis model syariah penting untuk perseroan mulai menjajaki pasar Arab Saudi yang memiliki potensi bisnis syariah signifikan. 

“Sudah sewajarnya kita [Indonesia dan Arab Saudi] punya hubungan bisnis dan bisa melakukan kerja sama, di mana potensi yang besar ini adalah haji dan umroh,” katanya dalam Paparan Kinerja 2023, Kamis (1/2/2024).  

Dia menuturkan BSI mengincar pasar jamaah haji dan umroh asal Indonesia. Tercatat, setiap tahun Indonesia mengirimkan jemaah haji sekitar 220.000 orang dan jumlah umroh lebih dari satu juta jemaah. Lalu, potensi dana mencapai hampir Rp90 triliun hingga 100 triliun.  

“Nah, itu kenapa kita mesti ada di sana, di Jedah, Mekah, Madinah, sebetulnya kami menggarap market yang spending dilakukan oleh para jemaah tidak hanya di lokal, tapi banyak dilakukan di negara Arab Saudi,” ucap Hery. 

Oleh karena itu, dengan hadirnya kantor cabang di Arab Saudi, perseroan bisa memberikan layanan transaksi pembayaran jemaah haji dan umroh melalui BSI.

Direktur Treasury & International Banking BSI Moh Adib menyebut pembukaan cabang BSI di Arab Saudi ditargetkan paling tidak rampung pada kuartal I atau kuartal II/2024. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini