Bos Indonesia Re Ungkap Tantangan Reasuransi di Tengah Hardening Market dan Pemilu 2024

Bisnis.com,20 Feb 2024, 16:42 WIB
Penulis: Pernita Hestin Untari
Peserta memperhatikan company profil BUMN reasuransi terbesar di Tanah Air dalam acara Indonesia Re International Conference 2023./ Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — Industri reasuransi masih menghadapi tantangan hardening market di tahun politik atau 2-24. Hal tersebut terjadi lantaran masih adanya kenaikan harga dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan loss ratio pada beberapa bisnis. 

Direktur Utama PT Reasuransi Indonesia Utama (persero) atau Indonesia Re Benny Waworuntu mengatakan hardening market menyebabkan perusahaan reasuransi lebih berhati-hati untuk memberikan kapasitasnya kepada perusahaan asuransi. Bahkan Indonesia Re menyebut akan lebih selektif dan memperketat perolehan premi pada tahun ini. 

“Di samping itu, kami khususnya selama tiga tahun terakhir melakukan perbaikan yang signifikan ke term of condition, kapasitas yang kami berikan, dan harga retensi,” tutur Benny saat dihubungi Bisnis, Senin (19/2/2024). 

Benny mengatakan bahwa tahun politik justru tidak berpengaruh besar. Dia mengatakan bahwa industri juga sudah terbiasa dengan pemilihan umum (pemilu) yang dilakukan setiap lima tahun sekali.

Menurutnya, industri asuransi dan reasuransi sudah teruji melewati pemilu dan dapat menjaga perekonomian walaupun di tengah pergantian pemerintahan. Menurutnya yang dicermati bukan pemilunya, tetapi dampak pemilunya. 

“Seperti halnya bagaimana nanti investasi karena kan salah satu sumber pemasukan, walaupun enggak fokus ke situ, tapi tidak bisa dinafikan bahwa salah satu unsur pemasukan industri perasuransian selain penghasilan underwriting juga hasil investasi atau pendapatan investasi ,” tuturnya. 

Dengan demikian, apabila secara makro tidak ada masalah dengan investasi, maka akan bagus, begitu juga sebaliknya. Dikutip dari laporan keuangan Indonesia Re pada Januari 2024, perseroan telah mencatatkan laba setelah pajak sebanyak Rp7,36 miliar. Perolehan laba membaik setelah sebelumnya mencatatkan kerugian Rp27,8 miliar pada Januari 2023. 

Perbaikan ini didorong oleh hasil investasi yang membaik mencapai Rp59,7 miliar, di mana pada Januari 2023 sempat negatif 17,3 miliar. Dari sisi jumlah pendapatan premi turun 16,6% menjadi Rp503 miliar dari sebelumnya Rp603 miliar. 

Dari sisi ekuitas perseroan menguat menjadi Rp2,75 triliun per Januari 2024 atau naik 12,2% dari sebelumnya Rp2,45 triliun. Sementara itu liabilitas yang ditanggung meningkat menjadi Rp9,7 triliun atau membengkak  30,7% dari sebelumnya Rp7,43 triliun. Jumlah aset perseroan mencapai Rp12,8 triliun atau meningkat 24,3% dari sebelumnya Rp10,3 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Feni Freycinetia Fitriani
Terkini