OJK Akan Tindak Tegas Bank yang Ugal-ugalan Salurkan Kredit Lewat Pinjol

Bisnis.com,23 Feb 2024, 05:53 WIB
Penulis: Fahmi Ahmad Burhan
Foto multiple exposure warga beraktivitas di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Minggu (31/12/2023). Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menindak tegas bank yang memiliki eksposur tinggi penyaluran kredit lewat fintech lending atau pinjol, namun tidak prudent. Adapun, deretan bank, terutama bank digital memang rajin menggaet pinjol dalam penyaluran kreditnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan OJK secara proaktif mengawasi tren fintech terutama pembiayaan melalui skema channelling oleh bank, termasuk bank digital. Fokus pengawasan mencakup analisis risiko dan evaluasi eksposur bank untuk memastikan praktik manajemen risiko yang baik serta kecukupan pencadangan.

Apabila terdapat bank yang menjalankan skema channeling namun tidak prudent, OJK pun ambil langkah.

"Tindakan tegas akan diambil terhadap bank yang memiliki konsentrasi eksposur bisnis fintech yang tinggi namun tidak prudent antara lain penghentian kerjasama dan aktivitas bank terkait serta meminta dilakukannya evaluasi terhadap bisnis proses dimaksud," ujar Dian dalam jawaban tertulis pada Kamis (22/2/2024).

OJK juga mendorong bank untuk terus melakukan diversifikasi dan peningkatan kualitas portofolio kredit. Bank juga dituntut meningkatkan transparansi serta komunikasi dengan nasabah agar membangun kepercayaan.

Selain itu, bank dituntut untuk mengedukasi kepada masyarakat tentang risiko dan kehati-hatian dalam menggunakan layanan pinjol. "Mereka [bank] itu bukan fintech, tidak boleh mereka tidak hati-hati dalam menyalurkan kredit," kata Dian.

Seiring dengan peringatan OJK itu, perbankan memang gencar menggaet kerja sama dengan pinjol dalam penyaluran kredit. Berdasarkan data Statistik Fintech Lending yang dirilis OJK, outstanding kredit pinjol yang bersumber dari bank mencapai Rp30,35 triliun pada Desember 2023, naik 45,56% secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara itu, kredit macet di industri pinjol mengalami peningkatan. Tercatat, rasio kredit macet 90 hari atau TWP90 pinjol membengkak dari 2,78% pada Desember 2022 menjadi 2,93% pada Desember 2023.

Nilai kredit macet di atas 90 hari pinjol juga naik 22,35%, dari Rp1,42 triliun pada Desember 2022 menjadi Rp1,74 triliun pada Desember 2023.

Terdapat juga pinjol yang mencatatkan kredit macet tinggi. PT Investree Radhika Jaya (Investree) tercatat memiliki tingkat keberhasilan bayar 90 hari atau TKB90 hanya mencapi 83,56%. Ini artinya, kredit macet 90 hari atau TWP90 Investree tembus 16,44%, jauh di atas industri.

Adapun, sejumlah bank memang rajin menyalurkan kredit lewat skema channeling bekerja sama dengan pinjol. PT Bank Jago Tbk. (ARTO) misalnya mengacu laporan keuangan tahunan 2022, telah menjalankan penetrasi bisnis melalui kerja sama dengan 38 mitra, termasuk pinjol seperti AdaKami, Kredit Pintar, dan Atome. 

Head of Sustainability & Digital Lending Bank Jago Andy Djiwandono mengatakan meskipun berkolaborasi dengan pinjol, bank tetap menjaga prinsip kehati-hatian. Ia menyebut pemilihan mitra pinjol yang tepat menjadi kunci bagi Bank Jago untuk menjaga kualitas penyaluran kredit. 

“Kami menambahkan partner [fintech lending] baru juga tidak asal-asalan. Kalau kita lihat dua tahun pertama mungkin [mitra] nambahnya luar biasa, tapi kemarin [tahun 2023] nambahnya pelan-pelan, lebih selektif,” ujarnya usai agenda Forum Jurnalis Jagoan, Rabu (21/2/2024).

PT Bank Seabank Indonesia alias Seabank pun turut mengandalkan skema channeling melalui kerja sama dengan pinjol dalam menyalurkan kredit. Tercatat, sejumlah pinjol yang menjadi mitra Seabank di antaranya AdaKami, Rupiah Cepat, hingga EasyCash.

Dalam contoh kerja sama dengan AdaKami, Seabank menyatakan komitmen untuk memberikan amunisi dana yang "bisa diputar" dengan nilai maksimal Rp300 miliar.

"Kami antusias dan optimis bahwa sinergi ini dapat menjangkau dan melayani segmen masyarakat underserved yang membutuhkan fasilitas perbankan," terang Direktur Bisnis Seabank Junedy Liu ketika meresmikan kerja sama tersebut, dalam pernyataan tertulis.

Bank digital besutan konglomerat Chairul Tanjung, PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI), juga menyalurkan kredit menggunakan skema channeling. Menurut Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo, skema tersebut sebetulnya memberi keuntungan bagi bank dalam menjaga risiko kredit. 

"Dengan kolaborasi, jadinya kita berbagi risiko. Tidak masuk ke open banget, kita bisa lihat partner yang punya history customer," ujarnya setelah acara Open Finance Summit 2023 pada tahun lalu (21/6/2023) di Jakarta. 

Melalui skema channeling, Allo Bank juga mampu menganalisis risiko calon nasabah melalui teknologi yang diterapkan oleh partner. "Itu fungsi kolaborasi, lebih efisien, monetize lebih baik lagi," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Aprianto Cahyo Nugroho
Terkini