Bocoran Penyaluran Kredit BBCA hingga BNGA Awal Tahun saat Industri Belum 'Ngegas'

Bisnis.com,27 Feb 2024, 13:08 WIB
Penulis: Arlina Laras
Ilustrasi kredit perbankan./ Dok. Freepik.

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit baru pada Januari 2024 terindikasi tumbuh terbatas meski lebih rendah dibanding Desember 2023. 

Hasil survei perbankan menunjukkan bahwa SBT penyaluran kredit baru pada Januari tercatat sebesar 24,5% lebih rendah dari SBT bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 73,3%. Hal tersebut sejalan dengan pola historis penyaluran kredit baru

Mengutip dari Survei Penawaran dan Permintaan Pembayaran Perbankan yang dirilis BI, berdasarkan kategori bank, penyaluran kredit baru yang lebih rendah pada Januari 2024 diprakirakan terjadi pada hampir seluruh kategori bank.

“Dari segi jenis penggunaan, penyaluran kredit baru pada Januari 2024 terindikasi lebih rendah pada seluruh jenis kredit,” tulis BI yang dikutip Selasa (27/2/2024)

Adapun, faktor utama yang memengaruhi prakiraan penyaluran kredit baru pada Januari 2024 yaitu prospek kondisi moneter dan ekonomi ke depan, permintaan pembiayaan dari nasabah serta tingkat persaingan usaha dari bank lain. 

Penyaluran kredit baru diprakirakan meningkat pada Febuari 2024, terindikasi dari nilai SBT prakiraan penyaluran kredit baru Februari 2024 sebesar 71,5%. 

Peningkatan penyaluran kredit baru pada Februari 2024 diprakirakan terjadi pada seluruh kategori bank serta pada seluruh jenis kredit, baik itu Kredit Investasi, Kredit Modal Kerja, Kredit Konsumsi dan kredit Konsumsi lainnya.

Kebijakan penyaluran kredit (lending standard) pada Januari 2024 sedikit lebih ketat. Hal tersebut terindikasi dari SBT perubahan lending standard pada Januari 2024 yang bernilai positif sebesar 0,4%. 

Kemudian, berdasarkan jenis pengugunaan, kebijakan penyaluran kredit yang ketat terindikasi pada KI dan KMK, sedangkan KPR dan kredit konsumsi lainnya terindikasi lebih longgar dengan SBT negatif.

“Faktor yang memengaruhi perubahan standar pemberian kredit pada Januari 2024 antara lain kondisi/permasalahan sektor riil yang saat ini, toleransi bank terhadap risiko serta potensi risiko kredit ke depan,” tulis BI.

Lebih lanjut, untuk keseluruhan periode triwulan I/2024 penyaluran kredit baru diperkirakan tetap tumbuh meski melambat dibandingkan dengan triwulan IV/2024 sesuai pola historisnya. 

Hal tersebut terindikasi dari SBT yang diperkirakan penyaluran kredit baru triwulan I/2024 hasil survei periode Januari 2024 yang bernilai positif (23,4%), melambat dibandingkan dengan Desember 2024 yang sebesar 94%

Dari sisi pemain perbankan, temuan ini pun dibenarkan oleh Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Jahja Setiaatmadja yang menyebut dalam keadaan normal, memang kuartal I/2024 permintaan akan kredit cenderung melemah. Akan tetapi, dia mengatakan tren penyaluran kredit pada Februari 2024 terbilang cukup positif.

“Kita bersyukur ini baru Februari terlihat tren yang cukup bagus. Koreksinya tidak setajam season sebelumnya,” ujarnya dalam kanal Youtube Mirae Asset Sekuritas yang dikutip Selasa (27/2/2024).

Bahkan, dia berharap penyaluran kredit pada Maret 2024 jauh lebih positif. Hal ini mengingat masuk ke dalam periode puasa dan persiapan jelang lebaran. 

“Biasanya ekonomi bergairah sekali terutama masuk masa lebaran karena dari segi THR kan dibagi ke masyarakat, sehingga masyarakat mampu spending jasa dan barang. Lalu, dengan adanya permintaan, maka supplier akan memerlukan kredit,” ucapnya. 

Lebih lanjut, Jahja menilai kemungkinan Pilpres yang hanya satu putaran ini akan berdampak baik pada perekonomian Indonesia, karena baik investor asing maupun lokal akan mendapat kepastian kala melakukan investasi di Tanah Air .

Pasalnya, dia menyebut ketidakpastian ekonomi ketika Pemilu memang membuat nasabah atau investor menahan diri untuk menyimpan uangnya atau mengambil kredit di perbankan untuk berinvestasi.

“Kalau cepat dan ada kepastian, maka ini akan mengubah persiapan investor. Namun, jangan lupa mereka [investor] akan menantikan siapa menteri yang duduk di kabinet, karena mereka yang ditunjuklah yang akan menentukan kebijakan industri ke depan,” kata Jahja. 

Lebih lanjut, saat ini perseroan terus memantau perkembangan Pilpres ini setidaknya hingga Mei atau Juni 2024 untuk target pertumbuhan kredit.

Tercatat, sejauh ini BCA optimistis pertumbuhan kredit hingga 11% dapat tercapai dengan kondisi likuiditas yang memadai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

  1. 1
  2. 2
Tampilkan semua
Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Sulistyo Rini
Terkini