Pedagang di Pasar Tanah Abang Ogah Pakai QRIS, Ada Apa?

Bisnis.com,20 Mar 2024, 00:06 WIB
Penulis: Fahmi Ahmad Burhan
Pengunjung beraktivitas di kawasan pasar Tanah Abang di Jakarta, Rabu (6/4/2024). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Standar pembayaran berbasis QR Code alias quick response code Indonesian standard (QRIS) gencar dikembangkan Bank Indonesia (BI) agar bisa digunakan banyak kalangan. Namun, nyatanya masih terdapat banyak kelompok pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat yang memilih untuk tak menggunakan QRIS. 

Samsul pemilik toko Alfaha di Blok B Tanah Abang misalnya memilih untuk tetap mengandalkan pembayaran secara tunai di tengah gempuran tren non-tunai alias cashless.

Dia kerap kali disuguhi skema baru dengan QRIS di kiosnya oleh perbankan agar pembeli bisa bayar secara non-tunai. Akan tetapi, ragam kendala dipikirkannya.

"Setahu saya QRIS itu susah. Masuk uangnya lama. Banyak kasus sih," katanya kepada Bisnis saat ditemui di kiosnya pada Selasa (19/3/2024).

Dia juga mengatakan transaksi yang ada di kiosnya serta pedagang lain di Tanah Abang cukup deras. Apalagi momen ramadan dan lebaran transaksi bisa naik dua kali lipat. Alhasil, pedagang merasa rumit untuk mencocokkan jumlah transaksi dengan barang terjual.

Pemilik RL Muslim Fashion di Blok F Tanah Abang, Muhammad Reza juga memilih tidak memakai QRIS untuk kebutuhan pembayaran di kiosnya. Dia juga sempat menolak memakai QRIS ketika ditawari layanan tersebut oleh perbankan.

"Alasannya, ada kendala agak lama dikit masuk uangnya. Walau saya dikasih QRIS, enggak pernah dipakai. Di pembeli juga rata-rata cash, kadang transfer saja," ungkapnya.

Astrid pemilik kios Astrid Busana di blok A Tanah Abang juga mengatakan lebih memilih untuk tidak menggunakan QRIS karena pembelinya belum banyak yang bertransaksi non-tunai.

"Pembeli di sini jarang juga pakai QRIS," katanya.

Kalau pun ada pembeli yang memilih bertransaksi secara non-tunai, Astrid menyediakan pilihan transfer ke rekening perbankan miliknya yakni BCA dan BSI.

"Selain itu, biaya juga bisa jadi kendala," kata Astrid.

Merchant Discount Rate

BI memang telah menetapkan tarif merchant discount rate (MDR) sebesar 0,3% untuk merchant QRIS pada pertengahan tahun lalu. Meskipun, BI kemudian menyesuaikan MDR QRIS segmen usaha mikro (Umi) menjadi 0% untuk transaksi di bawah Rp100.000.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menyampaikan MDR QRIS sebenarnya terhitung sangat murah, bahkan ada yang gratis dibandingkan moda pembayaran lain seperti kartu kredit. 

Dalam menjawab keengganan merchant memakai QRIS karena alasan arus uang yang lama masuk, BI juga terus mendorong penyelenggara sistem pembayaran untuk melakukan settlement yang real time atau setidaknya mendekati itu. 

"Buat merchant ataupun konsumen harusnya penggunaan QRIS sangat praktis. Selain tidak perlu bawa kartu, QRIS memungkinkan pembayaran yang meluas karena perbedaan rekening [bank atau nonbank] yang dimiliki merchant ataupun konsumen bisa langsung terhubung," jelasnya kepada Bisnis pada Selasa (19/3/2024).

Adapun, di tengah masih adanya keengganan kalangan masyarakat memakai QRIS, nyatanya penggunaan QRIS kian melesat. BI mencatat, nominal transaksi QRIS tumbuh pesat 149,46% secara tahunan (year-on-year/yoy), mencapai Rp31,65 triliun pada Januari 2024.

Jumlah pengguna QRIS mencapai 46,37 juta dan jumlah merchant 30,88 juta, yang sebagian besar merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Feni Freycinetia Fitriani
Terkini