Bisnis.com, JAKARTA – Dua entitas lembaga keuangan dalam holding Danantara bersiap memacu kinerja setelah layanan bank emas diresmikan. Janji memompa kinerja itu diberikan setelah Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan layanan kegiatan usaha bullion bank alias layanan Bank Emas di Tanah Air, Rabu (26/2/2025).
Damar Latri Setiawan, Direktur Utama Pegadaian mengatakan pihaknya sudah mengantongi izin usaha bullion sejak 23 Desember 2024. Tidak lama berselang, dia mencatat ada lonjakan emas yang didepositokan di Pegadaian hanya dalam dua pekan.
"Dalam waktu dua minggu, deposito emas Pegadaian sudah 300 kilogram. Anda bisa lihat 300 kg emas itu sekarang hampir Rp500 miliar. Apalagi ini sudah dirilis Pak Presiden, tentu masyarakat semakin tertarik menabung emas," kata Damar saat ditemui usai peluncuran usaha bullion di Gade Tower, Jakarta, Rabu (26/2/2025).
Usai diresmikan langsung oleh Prabowo, Damar menargetkan angka tersebut bisa melesat menjadi 1,5 ton di akhir 2025.
"Akhir tahun kira-kira 1,5 ton, kurang lebih. Bisa jadi karena yang ngomong Pak Prabowo, bisa langsung cepat tumbuhnya," tegasnya.
Sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) 17/2024, terdapat empat jenis kegiatan usaha bullion yang dapat dilakukan Pegadaian, yaitu simpanan emas, pembiayaan emas, perdagangan emas, dan penitipan emas.
Melalui simpanan emas, Damar menjelaskan masyarakat bisa menyimpan emas di Pegadaian dalam bentuk deposito. Emas tersebut menjadi likuid dan dapat digunakan untuk instrumen pembiayaan emas.
"Setelah kita himpun dana berupa emas, tentu ada pihak lain yang butuh emas untuk produksi, untuk membuat perhiasan, bisa pinjam ke Pegadaian, kembali emas di Pegadaian lagi," ujarnya.
Selain itu, dengan kegiatan usaha perdagangan emas, Pegadaian juga bisa menjual emas kepada konsumen. Damar mengatakan dari hal tersebut akan terbentuk sebuah ekosistem pasar emas dan Pegadaian menjadi hub-nya.
"Untuk penyimpanan emas di 2024, kami memiliki tabungan emas sebanyak 11 ton, yang merupakan tabungan masyarakat di Pegadaian, dengan jumlah yang bisa dimulai dari 0,1 gram," pungkasnya.
Damar mengatakan pihaknya menargetkan pertumbuhan cadangan emas yang disimpan Pegadaian mencapai 219 ton pada 2030 nanti, dari jumlah saat ini yang baru mencapai sekitar 100 ton.
"Lima tahun ke depan 219 ton. Potensi lima tahun tabungan emas [cadangan] kita segitu," katanya.
Damar menjelaskan pihaknya bergerak cepat dengan menargetkan pertumbuhan deposito emas hingga membiayai institusi yang membutuhkan layanan pembiayaan emas.
Dengan pengalaman lebih dari 100 tahun, Damar menegaskan kapabilitas Pegadaian dalam mengelola emas. Terbukti, dari empat kegiatan usaha yang bisa dilakukan lembaga jasa keuangan penyelenggara kegiatan usaha bullion, Pegadaian menjadi satu-satunya yang siap menjalankan paket lengkap tersebut.
"Ada empat produk, jujur saat ini hanya Pegadaian yang sepenuhnya bisa melakukan praktik emas tersebut. Karena kalau bank emas belum ada deposito, tidak ada fungsinya. Karena di situ kita bisa pinjam emas, baru ada pembiayaan modal kerja. Kalau belum ada pembiayaan modal kerja, tidak ada fungsinya. Bagi Pegadaian, ini tinggal melanjutkan, tentu kami lebih siap dan kami akan lebih gencar," pungkasnya.
Untuk meyakinkan masyarakat menempatkan emasnya di Pegadaian, Damar menegaskan dua hal. Pertama adalah masalah keamanan, dan kedua soal keuntungan yang didapat masyarakat.
"Pegadaian sudah berpengalaman 100 tahun dengan emas. Jadi pengamanannya kami punya sistem penyimpanan di setiap cabang di Pegadaian, yang menyimpan 90 ton emas yang tersebar di seluruh Indonesia," kata Damar.
Kemudian, Damar juga memastikan dari segi kapabilitas SDM karyawan Pegadaian untuk menjamin keamanan emas masyarakat yang dipercayakan di Pegadaian. "Pegadaian semua karyawannya ahli emas, dengan mencium saja tahu ini emas asli atau tidak. Ini benar, semua punya kemampuan itu," klaimnya.
Untuk itu, Damar mengajak masyarakat menyimpan emasnya di Pegadaian karena mereka juga bisa mendapatkan keuntungan dibandingkan menyimpan emas di rumah masing-masing. "Dapat imbal jasa, dapat rate tiap bulan dalam bentuk emas juga. Misal punya emas 1 kilogram, nanti setiap satu bulan dapat fee imbal jasa dari penyimpanannya. Mirip kalau Anda menabung uang dan dapat bunga per bulan. Nah, ini Anda menabung emas, bunganya emas," pungkasnya.
Sementara itu, induk usaha Pegadaian, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), mengungkapkan dampak bergulirnya kegiatan usaha bullion alias bank emas terhadap perekonomian dalam negeri.
Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan bahwa pembentukan kegiatan usaha bullion dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan cadangan emas yang dapat dimasukkan dalam sistem perbankan dan menjadi bagian dari likuiditas pembangunan.
Dia membandingkan inisiatif ini dengan Paket Kebijakan Oktober 1988 (Pakto 88) pada era Orde Baru, yang bertujuan mempermudah pendirian bank sebagai sumber pendapatan baru bagi negara.
"Maka kali ini, kita masih banyak melihat potensi emas, baik yang ada dalam bentuk cadangan di alam maupun emas yang sudah diproduksi. Istilahnya, yang disimpan di bawah bantal. Dan ini belum secara optimal kita monetisasi menjadi likuiditas pembangunan," katanya dalam konferensi pers peluncuran bank emas di The Gade Tower, Jakarta Pusat, Rabu (26/2/2025).
Dengan adanya bank emas, Sunarso menilai bahwa laju pembangunan ekonomi Tanah Air dapat terus dipacu.
Lebih lagi, dia menyebut bahwa Indonesia menempati posisi ke-6 negara dengan cadangan emas terbesar di dunia, yakni berkisar 2.600 ton. Namun, produksi emas baru dapat dimaksimalkan pada angka 110 ton.
Kemunculan bank emas diharapkan dapat menjadi pemicu peningkatan nilai tambah emas dalam negeri.
Menurut Sunarso, salah satu skenarionya ialah dengan tak lagi melakukan ekspor dalam bentuk emas mentah, melainkan berupa produk-produk turunan emas yang bernilai lebih tinggi. Impor emas pun dapat diturunkan seiring dengan pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
“Itu yang diperkirakan akan mampu menyerap tambahan 1,8 juta tenaga kerja baru, kemudian akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari sisi nominal sekitar Rp245 triliun yang menyumbang kepada GDP [Gross Domestic Product],” terangnya.
Selain itu, dirinya juga menilai bahwa bank emas dapat menyerap tambahan investasi, tak terkecuali untuk BRI.
Hal senada disampaikan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) alias BSI. Perusahaan membeberkan dampak peresmian kegiatan usaha bullion alias bank emas terhadap pertumbuhan bisnis perbankan secara keseluruhan.
Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan bahwa bisnis layanan emas yang berupa cicilan emas dan gadai emas telah berjalan sejak BSI lahir pada 2021.
Namun, dirinya mengakui bahwa porsi bisnis logam mulia itu terbatas, contohnya jika dilihat dari nilai transaksi yang maksimal hanya Rp250 juta baik untuk cicilan emas maupun gadai emas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel