Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Hasil Ekspor Merosot, Harga CPO Semakin Mendingin

Data dari Intertek Testing Services menyebutkan, angka ekspor Malaysia pada periode 1-10 Juni 2021 terpantau anjlok 10 persen menjadi 14 persen.
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) mencatat pelemahan harian terendah sejak 20 April. Harga CPO pun menuju tren pelemahan beruntun selama 5 bulan terakhir seiring dengan pelemahan permintaan dari India.

Berdasarkan data Bursa Malaysia, Jumat (11/06/2021), harga CPO dengan kontrak teraktif terpantau turun hingga 2,5 persen pada harga setelmen 3.747 ringgit per ton. Sejauh ini harga CPO telah anjlok 8,7 persen sepanjang pekan ini.

Salah satu katalis negatif bagi harga CPO adalah pelemahan ekspor di Malaysia. Data dari Intertek Testing Services menyebutkan, angka ekspor Malaysia pada periode 1 – 10 Juni 2021 terpantau anjlok 10 persen menjadi 14 persen.

Ekspor CPO ke India dan wilayah Eropa terpantau turun 20 persen dan 6 persen pada periode yang sama. Sementara itu, angka pengiriman CPO ke China melesat 46 persen.

Trader di Sprint Exim Pte, Rajesh Modi menjelaskan, lemahnya permintaan CPO dari India diperkirakan akan berlanjut sepanjang bulan Juni. Selain itu, spekulasi terkait penurunan bea ekspor CPO Indonesia turut menekan harga minyak kelapa sawit.

“Harga CPO juga ditekan oleh penurunan harga biji kedelai dan prospek kenaikan sejumlah hasil panen seperti biji matahari di Ukraina,” jelasnya dikutip dari Bloomberg.

Modi memprediksi harga minyak kelapa sawit akan terus melemah menuju level 3.600 ringgit per ton.

Sebelumnya, Fitch Solutions telah menetapkan proyeksi harga CPO terbaru untuk tahun 2021 pada 3.400 ringgit per ton. Angka ini lebih tinggi dibandingkan estimasi yang dikeluarkan Fitch Solutions sebelumnya pada level 3.050 ringgit per ton.

Dalam laporannya, Fitch Solutions memaparkan, keterbatasan pasokan akan menjadi sentimen utama yang mendorong kenaikan harga CPO. Fitch Solutions memprediksi kondisi pasar CPO akan tetap ketat pada kuartal II/2021.

Fitch Solutions menuturkan, jumlah pasokan dari Malaysia telah berada dibawah ekspektasi  sejak kuartal I/2021 lalu seiring dengan minimnya jumlah tenaga kerja pada lahan sawit karena pandemi virus corona.

“Sementara itu, permintaan impor CPO mulai pulih seiring dengan pembukaan kembali kegiatan ekonomi pada beberapa negara,” demikian kutipan laporan tersebut.

Seiring dengan hal tersebut, Fitch Solutions mengatakan rerata harga CPO pada tahun 2021 di kisaran 3.270 ringgit per ton berbanding harga pada pasar spot di level 4.012 ringgit per ton. Sedangkan, rerata harga pada 2022 juga naik dari 2.600 ringgit per ton menjadi 2.900 ringgit per ton.

Harga CPO berjangka juga diproyeksi tidak akan melampaui level tertingginya pada 2008 lalu seiring dengan mulai membaiknya produksi dalam beberapa bulan mendatang.

Dalam jangka pendek, permintaan dari India akan berkurang seiring dengan lonjakan penyebaran virus corona yang akan mengganggu kegiatan perdagangan dan impor di negara tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper